Current Issue Januari 2018

151 Mahasiswa Internasional dari 61 Negara Turut Ambil Bagian dalam Forum BDSC

bali democracy forum

Bali Democracy Forum (BDF) ke-10 yang diselenggarakan pada 7-8 Desember 2017 di International Convention Exhibition, Serpong, Banten tidak hanya memberikan pengembangan demokrasi bagi perwakilan negara-negara delegasi, tetapi juga kepada para generasi muda, karena pada forum internasional BDF ke-10 ini juga diselenggarakan Bali Democracy Student Conference (BDSC) yang pertama.

Tercatat terdapat sekitar 151 mahasiswa asing dari 61 negara yang hadir dan turut ambil bagian dalam forum ini. Mereka saling berbagi pengalaman mengenai demokrasi di negaranya masing-masing melalui tiga sesi konferensi
yang kemudian menghasilkan hasil akhir berupa sebuah dokumen rekomendasi yang disampaikan kepada para
delegasi negara peserta Bali Democracy Forum ke-10.

Menanggapi hal tersebut, Wakil Presiden Jusuf Kalla mengucapkan terima kasih atas penyelenggaraan BDF X
tahun ini karena selain berhasil mengundang delegasi dari berbagai negara namun tahun ini juga mendatangkan para pemuda. “Saya berterima kasih karena diikutkan juga para mahasiswa sebagai pimpinan masa datang di setiap negara untuk juga menjalankan konferensi mahasiswa mengenai demokrasi di Indonesia” kata Wapres Jusuf
Kalla. Lebih lanjut Wapres Jusuf Kalla menyampaikan bahwa generasi muda dari sejak awal perlu penggambaran
demokrasi, yaitu kemajemukan dan toleransi. “Mereka juga harus menjadi generasi muda yang cinta damai dan menjadi agen perdamaian. Karena apabila kita tidak menjalankan demokrasi seperti itu, maka pada akhirnya akan muncul radikalisme, dimana hampir semua radikalisme dimulai dari dari generasi muda yang diajarkan radikalisme, yang hanya ingin mencapai tujuan tanpa suatu proses yang baik,” ujar Wapres Jusuf Kalla.

Pada sesi pertama BDSC, aktris film Dian Sastrowardoyo yang juga sosok seorang ibu dan aktivis tampil sebagai inspirational figure. DaIam pidatonya ia menyampaikan pertanyaan Does Democracy (Give) Power to the People or to Some? yang harus dijawab oleh generasi saat ini. Dian juga menyampaikan mimpi besarnya
pada anak-anak bangsa di masa depan dan mengajak generasi muda untuk bersama-sama berkontribusi meninggalkan warisan bagi generasi penerus berupa freedom, hope and peace.

Pada sesi kedua, para delegasi BDSC mengikuti diskusi panel bertema “Expectation to Deliver Democracy Youth Perspective”. Pada sesi ini para anak muda diajak untuk menyampaikan bagaimanakah demokrasi yang mampu tersampaikan dan bermanfaat bagi sebuah masyarakat dalam kacamatanya masing-masing. Diskusi diawali dengan
pemaparan dari tiga narasumber yang berasal dari tiga negara, yaitu: Afifah Puti Sholihat dari Indonesia, Meaza
Haddis Gebeyehu dari Ethiopia, dan Rachel Jacob dari Amerika Serikat.

Ketiganya menyampaikan mengenai bagaimanakah praktek sebuah demokrasi yang berhasil tersampaikan pada
masyarakat. Afifah Puti Sholihat yang merupakan mahasiswi di Universitas Udayana Bali ini memaparkan bahwa pemuda memiliki banyak cara-cara kreatif untuk menyampaikan aspirasinya. Puti menggambarkan bagaimana
dua orang bersaudara, Melati dan Isabel Wijsen yang masih remaja berhasil mengkampanyekan Bali bebas sampah plastik melalui ‘Bye Bye Plastics Bags’.“ Mereka mulanya mencari dukungan menggunakan petisi online, namun ternyata petisi yang didapatkan sangat sedikit.

Hingga kemudian mereka berinisiatif untuk mencari tanda tangan dari para turis di Bandara Ngurah Rai. Di sana setiap harinya ratusan ribu orang berlalu lalang. Dalam waktu satu minggu mereka akhirnya mendapatkan 100.000 lebih tanda tangan dan menarik perhatian pemerintah setempat. Dan akhirnya berhasil mendorong peraturan
pelarangan tas plastik yang dimulai pada tahun 2018.” papar Puti. Dijelaskan oleh Puti bahwa itu adalah bukti bahwa pemuda ingin didengarkan aspirasinya dan juga ingin terlibat dalam proses pengambilan keputusan. “Youth lack of influence but have the voice. Student wants to involved in decision making” ujar Puti. Meaza Haddis Gebeyehu dari Ethiopia tampil sebagai pembicara kedua, ia adalah mahasiswi di Universitas Indonesia. DaIam paparannya Meaza menyampaikan bahwa demokrasi memerlukan sebuah akuntabilitas agar mampu menjadi sistem yang berkualitas.

Tanpa akuntabilitas, demokrasi tidak akan mampu memberi proses yang transparan. “Akuntabilitas dan transparansi adalah dua sisi yang tidak terpisahkan dalam demokrasi,” katanya. Sementara itu, Rachel Jacob yang merupakan mahasiswi dari Illinois University, Amerika Serikat, dalam paparannya menyampaikan tentang
bagaimana institusi yang baik untuk menjalankan demokrasi sehingga menciptakan suasana demokratis. Belajar dari pengalaman Amerika Serikat sebagai salah satu negara demokrasi tertua, Rachel mengungkapkan bahwa
tanpa institusi yang baik, proses demokrasi tidak akan berjalan, dan beberapa hal yang diperlukan untuk menciptakan institusi yang demokratis adalah kebebasan pers dan transparansi. Menurut Rachel, tantangan sebenarnya saat ini adalah bagaimana membuat para pemuda untuk lebih peduli dengan situasi sekitarnya. Sebab saat ini para pemuda yang memiliki kebebasan malah cenderung untuk disenggagement atau tercerabut dari lingkungannya namun sangat terkoneksi dengan sesuatu yang jauh dari jangkauannya.

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Januari 2018

Tabloid Januari 2018