NEWS FLASH
Print E-mail
Edisi - Pebruari 2012
Monday, 20 February 2012 12:02

Indonesia Belum Memainkan Peranannya di Kawasan Sub-Sahara Afrika
Prof. Zainuddin Djaffar, Ph.D
Dosen FISIP UI


Pada tahun 2011, Afrika memang dikonfirmasi muncul sebagai sumber dinamika pertumbuhan ekonomi global. Enam dari sepuluh ekonomi dunia yang mengalami pertumbuhan tercepat berada di Sub-Sahara Afrika. Selama lima tahun ke depan, Afrika kemungkinan akan memimpin, atau dengan kata lain, rata-rata ekonomi Afrika mulai melebihi rekannya di Asia.

Tentu saja, beberapa pertumbuhan ini terkait dengan harga komoditas dunia yang tinggi, terutama minyak. Tapi itu bukan keseluruhan dari cerita yang ada. Ethiopia telah menjadi salah satu negara yang tumbuh tercepat di dunia selama satu dekade, dan tidak ada dinamika yang berkaitan dengan minyak atau energi. Dan juga sebagian besar pertumbuhan di Nigeria, yang merupakan raksasa di Afrika, adalah di sektor non-komoditas.

Singapura, Malaysia, dan Thailand telah menyadari bahwa Afrika merupakan ‘kekuatan baru’ sebagai pangsa pasar yang besar. Karenanya jangan jadikan Afrika sebagai tempat pembuangan.


Perubahan itu mencerminkan tren positif yang dikonfirmasikan pada tahun 2011, yaitu: diversifikasi mitra dagang Afrika yang lebih besar, dimana China telah menyalip AS sebagai salah satu mitra dagang terbesar Afrika pada tahun 2009; dan sekarang ini pasar negara berkembang lainnya, terutama India, Korea Selatan, Brazil, dan Turki, melihat Afrika sebagai peluang pertumbuhan. Memang, perkembangan pangsa perdagangan Afrika dilakukan dengan mitra-mitra emerging-market yang telah berkembang dari 23% menjadi 39% selama dekade terakhir.

Ini merupakan peluang yang besar, tetapi Indonesia belum memainkan peranannya, padahal Indonesia masih dianggap sebagai mitra strategis dan memiliki hubungan yang baik dengan negara-negara Afrika sejak dulu (KAA 1955).

Saat ini Afrika semakin dinamis, dimana Niger dan Angola semakin meningkat perkembangannya, baik secara politik maupun ekonomi. Ethiopia juga berkembang dengan masuknya China yang membuka lahan pertanian seluas 2,1 juta hektar. Mengesampingkan keadaan penduduk, pertambahan penduduk di Afrika masih tinggi dan akan terus bertambah sehingga masih merupakan pangsa pasar yang besar.

Sekarang ini ada alasan yang baik bagi Afrika untuk menegaskan kepemimpinannya pada perubahan iklim, yaitu bahwa Afrika terus menderita luar biasa akibat efek pemanasan global. Sebanyak 54 negara di Afrika adalah rumah bagi lebih dari satu miliar orang, atau sekitar 15% dari populasi dunia. Namun demikian mereka hanya menghasilkan emisi kurang dari 4% emisi global.

Afrika sekarang ini banyak berhubungan dengan masalah dunia, tetapi juga menjadi salah satu tumpuan harapan. Untungnya, sebagaimana yang ditunjukkan oleh masyarakat di Afrika Utara, warga benua Afrika siap untuk menciptakan masa depan yang lebih baik bagi mereka.

Pada tahun 2011, Afrika memang memiliki posisi yang unik, yaitu momentum semakin pentingnya Afrika, dimana jumlah GDPnya mencapai 1,7 triliun USD atau berada di atas India dan ASEAN. Afrika yang tangguh memang harus didukung dengan lingkungan kegiatan perdagangan dan bisnis yang mempunyai akses pada hal-hal yang terkait dengan keuangan.

Hal-hal penting terkait dengan peran Uni Afrika pasca 2011 adalah: mampu menciptakan kombinasi antara biaya murah dan teknologi non-tradisional yang di ikuti dengan strategi kemitraan berupa; mobile providers, saluran-saluran distribusi, sebuah kerangka kerja regulasi yang light touch, disebabkan karena Afrika masih mengalami capital market yang under developed.

Oleh karena itu Afrika perlu mencari bank-bank untuk memenuhi adanya rule untuk ekonomi modern dan kerangka kerja regulasi. Afrika harus menghargai kontribusi industri jasa keuangan yang telah membuat perekonomian tumbuh. Bagaimana pemerintah menyuarakan tentang stabilitas ekonomi dan politik serta membuat kebijakan ekonomi yang pro-pasar; mengupayakan penguatan entrepreneurial class baru yang ingin membuat layanan dan industri baru untuk memenuhi kebutuhan; semakin banyak negara-negara Afrika yang terbebas dari belenggu kemiskinan, dan lain-lain;

Para pemimpin politik di Afrika harus memastikan bahwa bisnis (terutama usaha kecil) dibebaskan dari peraturan yang tidak perlu, seperti bank yang diwajibkan menyediakan oksigen untuk mempertahankan pertumbuhan; Pemerintah perlu menciptakan kondisi yang kondusif untuk mendorong konsumen dan bisnis. Afrika perlu memiliki keyakinan baru berupa perekonomian dan politik yang independen.

Hal tersebut dapat diperankan oleh Uni Afrika yang hingga saat ini belum dilakukannya. Masalah perekonomian di Afrika sudah semakin kompleks dan harus diperbaiki, sementara Uni Afrika masih stagnan dan memiliki peran yang sangat terbatas. Jadi jangan sampai terjadi pembusukan-pembusukan di Afrika pasca 2011 karena para pemimpin di Afrika sudah memimpin selama 32 tahun.

Ini adalah tantangan bagi penguatan hubungan RI-Afrika, dimana Nigeria telah meminta Indonesia untuk memberikan pelatihan, karena selama masa penjajahan Barat tidak pernah ada pembelajaran, sehingga hal ini merupakan potensi dimana mereka bisa mencontoh Indonesia.

Perbandingan investasi yang ditanamkan di Afrika pada tahun 2010, yang tebesar adalah China (110 milyar USD), disusul oleh India (46 milyar USD), selanjutnya adalah AS (25 milyar USD), dan Indonesia (2 milyar USD).[]
 

Last Updated on Monday, 20 February 2012 12:14