NEWS FLASH
Print E-mail
2016 Agustus - 2016 Diplomasi Agustus
Monday, 28 November 2016 08:25

Dorong Perdamaian Dunia

Indonesia Inisiasi Dialog Lintas Agama dan Budaya Negara MIKTA

Kementerian Luar Negeri bekerjasama dengan Kementerian Agama pada tanggal 18-19 Oktober 2016 menyelenggarakan Dialog Lintas Agama dan Budaya (DLAB) negara-negara MIKTA (Meksiko, Indonesia, Korea Selatan, Turki dan Australia) di Yogyakarta, dan diikuti oleh para tokoh agama, budaya, akademisi, pejabat dan masyarakat madani dari negara-negara ter-sebut.Dialog dibuka oleh Wakil Menteri Luar Negeri, Dr. AM. Fachir, sedangkan welcoming remarks disampaikan oleh Gubernur DI Yogyakarta, Sri Sultan Hamengkubuwono X.

Dalam sambutan pembukaannya, Wakil Menlu RI antara lain menyampaikan bahwa Indonesia dan negara-negara MIKTA memiliki hubungan bilateral yang erat dan hubungan tersebut menjadi semakin kuat melalui kerjasama MIKTA.Sejak dibentuk pada 2013, MIKTA aktif membicarakan beberapa isu seperti perdamaian, keamanan, pengungsi, pemberdayan gender, perdagangan dan ekonomi global. MIKTA juga telah menjalankan berbagai program outreach di bidang kepemudaan dan media.Wakil Menlu RI menegaskan, bahwa kerja sama MIKTA ini sejalan dengan politik luar negeri Indonesia yang bebas aktif, dan pelaksanaan Dialog Lintas Agama dan Budaya ini merupakan inisiatif Indonesia dalam upaya me-ngatasi situasi keamanan global, yaitu terorisme, radikalisme, dan ekstrimisme.

Lebih lanjut Wakil Menlu RI mengharapkan agar kerja sama MIKTA kedepan dapat menjadi bridge builder dan consensus making terhadap beberapa permasalahan yang menjadi perhatian bersama negara-negara MIKTA. Diharapkan juga bahwa MIKTA dapat menjadi forum kerja sama yang tidak hanya melibatkan Kementerian Luar Negeri tetapi menjadi forum inklusif yang melibatkan semua pihak.

Sementara itu Gubernur DI Yogyakarta menggaris bawahi bahwa dialog bukanlah kompromi iman, namun untuk mewujudkan empati antar umat agama, dimana benteng perbedaan diubah menjadi jembatan saling pemahaman dan penghormatan.

Dialog Lintas Agama dan Budaya negara-negara MIKTA dengan tema “Strengthening Solidarity, Friendship, and Cooperation through Interfaith and Intercultural Dialogue” ini bertujuan untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman diantara negara-negara MIKTA dalam meningkatkan pemahaman dan mempromosikan toleransi, perdamaian, moderasi, serta penghormatan di antara masyarakat multi agama dan budaya.

Usai melakukan dialog, berikutnya pada 19 Oktober 2016, para peserta mengunjungi Candi Borobudur, Gereja Katolik Ganjuran, Pesantren Nurul Ummahat dan Masjid Gede Mataram. Kunjungan ini dimaksudkan agar para peserta dapat melihat dari dekat dan berdialog langsung dengan masyarakat tentang apa yang dibahas dan didiskusikan di dalam forum dialog terutama mengenai keberagaman, kebersamaan dan toleransi di kalangan masyarakat dan bangsa Indonesia.

Sebagai tuan rumah dalam kegiatan ini, Indonesia menyampaikan Host Statement/Yogyakarta Message yaitu pesan perdamaian yang mendorong pelaksanaan berbagai kegiatan yang memupuk rasa solidaritas dan penghargaan terhadap keragaman, keterbukaan dan tranparansi, baik pada level pemerintah maupun non-pemerintah.

Yogyakarta Message juga mendorong peran aktif pemuda dalam memupuk solidaritas antar umat beragama, mengembangkan jari-ngan diskusi tentang toleransi, dan melangkah dari berbagai perbedaan guna mendukung pembangunan yang berkelanjutan.   

Selanjutnya, pada acara jamuan makan malam (19/10) yang sekaligus menandai ditutupnya acara dialog lintas agama dan budaya negara-negara MIKTA ini, Direktur Jenderal Informasi dan Diplomasi Publik, Dubes Esti Andayani dalam sambutan penutupan antara lain mengatakan agar Host Statement/Yoyakarta Message sebagai hasil dari dialog dapat ditindaklanjuti dengan program-program nyata oleh negara-ne-gara MIKTA.

Indonesia juga menyampaikan komitmennya untuk memberikan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) sedikitnya satu orang kepada masing-ma-sing negara-negara MIKTA mulai 2017.

MIKTA merupakan Cross Regional Consultative Platform tingkat Menteri Luar Negeri yang dibentuk pada saat pertemuan ke-68 Majelis Umum PBB tanggal 17 September 2013 berdasarkan berbagai persamaan, diantaranya kemampuan ekonomi dan peran di kawasan. MIKTA diharapkan dapat bekerjasama untuk me-ningkatkan berkontribusi dalam pembangunan komunitas internasional.[]