|
|
| Edisi - April 2012 |
| Sunday, 22 April 2012 06:28 |
|
Memajukan Sinergi Bilateral Indonesia – Australia Hubungan Indonesia dan Australia saat ini dalam kondisi yang terbaik sepanjang sejarah, ditandai dengan intensitas saling-kunjung antar pejabat kedua negara, berbagai proyek kerjasama pembangunan, serta bantuan Pemerintah Australia kepada Indonesia dalam berbagai sektor. Dalam sepuluh tahun terakhir, aneka peristiwa di Indonesia turut menentukan bentuk kerjasama yang dijalin, seperti misalnya kerjasama kepolisian dan counter-terrorism setelah bom Bali 2002, bantuan kemanusiaan Australia pasca-Tsunami & gempa bumi di Indonesia, keketuaan bersama RI-Australia dalam Bali Democracy Forum untuk mengukuhkan Indonesia sebagai contoh Negara berkembang yang berhasil menerapkan demokrasi, serta keanggotaan bersama dalam kelompok G-20 karena kekuatan pertumbuhan ekonomi masing-masing. Setelah kunjungan Presiden RI ke Canberra tahun 2010 serta kunjungan PM Julia Gillard ke Jakarta pada tahun 2011, kedua pemimpin menyepakati untuk mengintensifkan comprehensive partnership melalui tiga pilar yaitu Annual Leaders Meeting Australia-Indonesia, pertemuan bersama Menteri Luar Negeri dan Menteri Pertahanan kedua Negara dalam forum 2+2 Ministerial Meeting, serta upaya peningkatan people to people contact melalui Australia-Indonesia Dialogue yang melibatkan antara lain pemerintah, parlemen, tokoh masyarakat, kalangan bisnis, akademisi, dan opinion-leaders. Mekanisme Annual Leaders’ Meeting akan menjadi mekanisme puncak yang akan membahas dan memberikan guidelines rutin bagi peningkatan kerjasama komprehensif kedua Negara kedepan, yang juga sekaligus memberikan arahan bagi mekanisme pertemuan bersama menteri luar negeri dan menteri pertahanan kedua negara. Adapun mekanisme pertemuan Australia-Indonesia Dialogue akan menjadi forum peningkatan kontak antar kedua bangsa yang bertujuan meningkatkan pemahaman dan menghilangkan mispersepsi antar masyarakat Indonesia dan Australia. Dengan perhatian yang penuh dari segala tingkatan Pemerintahan serta keterlibatan aktif dari berbagai wakil masyarakat kedua negara, diharapkan kerjasama Indonesia-Australia akan semakin menguat pada semua tingkatan, sehingga status sebagai mitra komprehensif bukan hanya terlihat di atas kertas namun juga tercermin dalam praktek operasional sehari-hari. Hubungan RI-Australia di tingkat masyarakat (grassroots) belum sebaik pada tingkat pemerintahan. Guna memperkecil “gap” tersebut, Perwakilan RI di Australia memperkenalkan musik, kesenian dan tradisi khas Indonesia melalui kalangan media lokal maupun partisipasi dalam aneka festival dan kegiatan sosialisasi kemasyarakatan setempat. Sedangkan Pemerintah Australia mendanai beasiswa bagi siswa dan PNS RI berprestasi serta program saling kunjung antar pemuka agama dan pelaku media kedua negara. Isu negatif yang sering diangkat oleh media perlahan-lahan diimbangi dengan pengenalan lebih lanjut antar-bangsa. Peringatan Pemerintah Australia pasca Bom Bali berupaTravel Advisory bagi warga negaranya yang hendak berlibur ke Indonesia tidak banyak mengurangi jumlah wisawatannya, di mana tercatat Indonesia (khususnya Bali) telah menjadi Negara tujuan ketiga menggantikan AS. Namun karena Indonesia disetarakan dengan Pakistan dalam Travel Advisory tersebut, banyak pelajar dan mahasiswa menjadi sulit mendalami Bahasa Indonesia sehingga jumlah peminatnya semakin berkurang dalam 10 tahun terakhir. Guna menetralisir kecenderungan ini, Perwakilan RI di Australia terus memanfaatkan Balai Budaya Indonesia dan Balai Bahasa Indonesia, sedangkan Duta Besar Indonesia di Canberra menjalin hubungan baik dengan para sukarelawan dan anggota Pramuka Australia yang telah menghabiskan waktu 3 bulan hingga setahun menetap di Indonesia. Pengalaman baik para wisatawan maupun pemuda Australia selama di Indonesia telah membuktikan bahwa word-of-mouth adalah senjata yang ampuh untuk mengimbangi himbauan resmi Pemerintah Australia untuk tidak mengunjungi Indonesia. Efektifnya pengalaman nyata warga negara Australia terbukti lagi saat Menlu baru Australia, Bob Carr, menceritakan kesan baiknya tentang Indonesia berdasarkan pengalamannya melihat sendiri cara warga Bali mengayomi para korban dan keluarga korban Bom Bali. Dengan semakin menggambarkan Indonesia sebagai “bangsa” (yang toleran, beradab, dan berbudaya) dan bukan hanya sebagai “negara” (yang diancam oleh para ekstrimis, yang berurusan dengan para people-smugglers, dll), maka pencitraan Indonesia dapat difokuskan menjadi people-based dan bukan issues-based. Salah persepsi antar kedua negara juga menyangkut citra bahwa prosedur investasi di Indonesia berbelit-belit maupun mitos bahwa Australia kurang terbuka terhadap orang asing.Kombinasi berbagai pandangan lama tersebut cenderung membuat parapelaku usaha pun enggan menjajaki perdagangan, apalagi investasi di kedua negara. Meskipun sama-sama menjadi anggota kelompok G-20 dan terbukti kuat pertumbuhan ekonominya, namun secara bilateral belum banyak sinergi apalagi ketergantungan ekonomi antara Indonesia dan Australia. Guna meningkatkan hubungan ekonomi antar kedua negara, telah ada beberapa mekanisme seperti Indonesia-Australia Ministerial Forum (IAMF), Trade Ministerial Meeting (TMM), serta aneka working group di berbagai sektor. Saat ini Pemerintah Indonesia dan Australia juga tengah membahas Indonesia–Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IACEPA) yang merupakan kerjasama tidak hanya di bidang perdagangan barang dan jasa, tetapi juga meliputi capacity building. Meskipun arah hubungan ekonomi Indonesia-Australia sangat baik, namun volume perdagangan masih rendah dibandingkan misalnya angka perdagangan Indonesia dengan Amerika Serikat maupun dengan Inggris. Jumlah nvestasi Australia di Indonesia sampai tahun 2011 mencapai 89,7 juta dollar US, yaitu baru menempati peringkat ke-14 dalam daftar investor terbesar di Indonesia dengan total 123 buah proyek investasi di Indonesia dan mempekerjakan 13.930 orang. Sedangkan dalam hal ekspor-impor, pada periode Januari-Nopember 2011 Indonesia merupakan negara tujuan ekspor terbesar ke-11 dan negara asal terbesar ke-12 bagi Australia, dengan total perdagangan bilateral pada periode tersebut mencapai US$ 10.684,34 juta atau mengalami peningkatan sebesar 30,55% dibandingkan periode yang sama pada tahun 2010. Rinciannya untuk periode 11 bulan tersebut: impor Indonesia sebesar US$ 5.127,29 juta (naik sebesar 35,64%) dan ekspor sebesar US$ 5.557,05 juta (naik 26,19%), dengan posisi neraca Indonesia surplus sebesar US$ 429,77 juta. Beberapa komoditi ekspor utama Indonesia ke Australia mencatat penurunan, seperti misalnya Unwrought Gold yang berkurang 5,32% dibanding periode yang sama tahun 2010 menjadi US$373,95 juta. Namun secara umum tercatat peningkatan, sebagai contoh: Continuously-Shaped Wood, meningkat 23,72% menjadi US$114,17 juta, New PneumaticTyresof Rubber meningkat 16,88% menjadi US$98,92 juta, dan Insulated Wires & Cables meningkat 21,67% menjadi US$38,12 juta. Persetujuan ASEAN - Australia- New Zealand Free Trade Area (AANZFTA) adalah perjanjian perdagangan yang paling komprehensif yang pernah dinegosiasikan oleh ASEAN, mencakup barang, jasa, investasi dan kekayaan intelektual. Melalui perjanjian tersebut, ekspor barang Australia ke Indonesia akan mendapatkan bebas bea masuk dari sebesar 56% menjadi 92%, dari seluruh jenis komoditi barang yang diekspor Australia ke Indonesia, sedangkan 5% lainnya, akan mendapatkan tariff bea masuk tidak lebih dari 5%. Bagi Indonesia, 99% ekspornya ke Australia akan menikmati bebas bea masuk, dan akan menjadi 100% bebas bea masuk pada saat perjanjian AANZFTA secara penuh diimplementasikan. Beberapa tahun terakhir ini kita telah menyaksikan semakin intensifnya kerjasama bilateral Indonesia dan Australia, bahkan di saat terjadi penggantian Perdana Menteri maupun Menlu Australia. Jumlah kegiatan saling-kunjung antar kepala pemerintahan, menteri kabinet, pejabat instansi, kalangan media, masyarakat madani, dan kalangan akademisi pun semakin memperbanyak lapisan kerjasama yang terjadi di antara Indonesia dan Australia. Pendalaman hubungan antar-Pemerintah yang didukung oleh berbagai program penguatan hubungan perdagangan serta dilengkapi pengembangan interaksi antar kelompok masyarakat kedua negara akan membawa dampak kumulatif yang semakin memajukan sinergi bilateral Indonesia – Australia dalam periode beberapa dasawarsa kedepan.[]
Sumber: KBRI Canberra) |
| Last Updated on Monday, 23 April 2012 00:42 |



