NEWS FLASH
Print E-mail
Edisi - April 2012
Sunday, 22 April 2012 07:46

 

KBRI Doha

Meningkatkan Totalitas Diplomasi RI - Qatar

Indonesia dan Qatar memiliki hubungan bilateral yang baik di berbagai bidang. Dalam bidang politik, hubungan baik dengan negara yang beribukota di Doha ini tercermin melalui serangkaian kunjungan pejabat tinggi kedua negara, antara lain Pertemuan Presiden RI dengan PM Qatar Sheikh Hamad Bin Jassim Bin Jabr Al-Thani di sela-sela Pertemuan Bali Democracy Forum IV, Bali, 8 Desember 2011 kemarin.

Rangkaian kunjungan lainnya adalah kedatangan Jaksa Agung Qatar ke Indonesia dalam rangka menghadiri konferensi regional ke-7 untuk Asosiasi Jaksa Agung Asia Pasifik dan Timur Tengah, 16 – 19 Maret 2011; Kunjungan Menteri Sosial RI, Salim Assegaf ke Qatar, 30 April – 1 Mei 2011; Kunjungan Menteri Negara Urusan Luar Negeri Qatar, H.E Mr. Ahmad bin Abdullah Al-Mahmud, untuk menghadiri KTM ke-16 GNB dan Pertemuan Peringatan 50 tahun GNB di Bali, 23-27 Mei 2011; dan kunjungan Utusan Khusus Presiden untuk Timur Tengah, Dr. Alwi Shihab dan para pengusaha ke Qatar untuk mengadakan pertemuan dengan Penasehat Menteri Energi dan Industri, serta pengusaha Qatar Mining, 13 – 14 Juni 2011.

Di bidang ekonomi, perdagangan Indonesia-Qatar terus berkembang. Nilai total perdagangan kedua negara ini pada tahun 2011 mencapai USD 683,6 juta, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 5,2% bila dibandingkan dengan tahun 2010.

Di bidang sosial budaya, Indonesia terus mengupayakan peningkatan pengiriman tenaga kerja ahli Indonesia (perawat dan pertambangan) ke Qatar. Pada tahun 2011, kedua negara sepakat membahas draft MoU penempatan tenaga kerja ahli Indonesia ke Qatar. di bidang kekonsuleran dan ketenagakerjaan, selama paruh pertama tahun 2011, terdapat 552 kasus yang menimpa TKI Indonesia yang bekerja di Qatar. Selama itu pula, pemerintah RI telah berhasil memenangkan tuntutan utang darah (diyat) dari keluarga pembunuhan dua orang WNI (PLRT) yaitu Alm. Yayah Salsiah bt Zunaedi dan Alm. Oom Komariah bt Kamid Casem.

Dalam perkembangannya, pada aspek ekonomi, meskipun nilai total perdagangan RI – Qatar pada tahun 2011 mencapai nilai USD 683,6 juta, yang berarti mengalami peningkatan sebesar 5.2% bila dibandingkan dengan tahun 2010, namun secara umum, hubungan dan kerjasama ekonomi dan perdagangan Indonesia–Qatar selama 2008–2011 belum mengalami perkembangan sebagaimana yang diharapkan.

Neraca perdagangan Indonesia hingga 2011 mengalami minus dengan Qatar senilai USD 535 juta. Minus neraca perdagangan yang dialami Indonesia dengan Qatar tersebut disebabkan oleh beberapa faktor. Pertama, faktor eksternal, yakni kecilnya pasar domestik Qatar untuk dimanfaatkan sebagai pasar ekspor produk Indonesia. Kedua,  faktor internal, yakni semakin meningkatnya impor migas dari Qatar dalam rangka pemenuhan kebutuhan energi di tanah air.

Produk-produk lain yang mempunyai potensi untuk dipasarkan di Qatar adalah produk furnitur, alat perlengkapan kantor, berbagai macam produk kertas, lampu listrik dan perlengkapan kelistrikan lainnya, perlengkapan rumah tangga (TV, pendingin ruangan, lemari pendingin, microwave, mesin cuci, dsb), seiring dengan bertambahnya gedung-gedung perkantoran baru, hotel dan apartemen baru serta komplek-komplek perumahan baru.

 

Potensi ke Depan

Berdasarkan Rencana Strategis (Renstra) KBRI Doha Tahun 2012-2014, visi KBRI Doha adalah ”Mewujudkan Kepentingan Nasional Melalui Diplomasi Total pada Perwakilan RI di Doha, Qatar”. Visi tersebut terjabarkan ke dalam beberapa misi strategis, di antaranya adalah peningkatan totalitas diplomasi dan kerjasama internasional bagi perluasan sumber-sumber kesejahteraan dan kemakmuran.

Totalitas tersebut diterjemahkan dengan meningkatnya arus investasi dari Qatar di Indonesia, meningkatnya volume perdagangan Indonesia–Qatar, serta meningkatnya Pengiriman Tenaga Kerja Formal Indonesia ke Qatar.

Dalam pertemuan bilateral Presiden RI dan Perdana Menteri Qatar di sela-sela Bali Democracy Forum IV Desember 2011, Perdana Menteri Qatar menawarkan Indonesia untuk berpartisipasi pada pameran dagang di negara tersebut.  Selama ini, memang telah ada produk Indonesia yang memasuki pasar Qatar, namun, pemasarannya tidak langsung melainkan melalui negara ketiga.  Hal tersebut menyebabkan rata-rata harga produk menjadi 10% lebih mahal.

Ini merupakan peluang bagus bagi Indonesia, mengingat arah pengembangan pasar non-tradisional menjadi salah satu fokus peningkatan ekspor non-migas.  Selain itu, hubungan bilateral dua negara masih menunjukkan defisit bagi Indonesia akibat neraca perdagangan migas yang timpang.

Qatar Investment Authority (QIA) sebagai sebuah lembaga investasi milik Pemerintah Qatar yang khusus dibentuk untuk mengelola dan menginvestasikan dana milik pemerintah senilai lebih dari US$ 70 milyar pada tahun 2010 tercatat sebagai sovereign wealth fund yang paling aktif dan gencar melakukan investasi di luar negeri, melalui anak perusahaan investasinya seperti Qatar Holding, Qatari Diar, Barwa International dan Hassad Food Company. Dalam kaitan ini, Indonesia berpeluang untuk menarik sebagian dari dana investasi QIA tersebut ke Indonesia. Di samping itu, Indonesia juga dapat menarik dana investasi dari perusahaan-perusahaan besar Qatar baik milik pemerintah maupun swasta untuk membiayai berbagai proyek investasi di tanah air.

 

Menuntaskan Mou

Meski kerjasama bilateral sejumlah bidang di atas terasa lapang, bukan berarti pelaksanaannya tidak menemui kendala. Sejumlah kerjasama yang telah dirancang, saat ini masih menunggu tindak lanjut kongkrit. Ada yang tinggal menunggu waktu, ada pula yang menunggu jawaban.

Kerjasama (agreement) tersebut di antaranya, Air Transport Agreement between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of State of Qatar; MoU on Tourism Cooperation between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of State of Qatar; MoU on Agricultural Cooperation between the Government of the Republic of Indonesia and the Government of State of Qatar; dan rencana pembukaan Indonesian House of Industry di Qatar.

Secara komitmen, tidak ada masalah berarti. Kedua negara tentunya mengharapkan ada perkembangan positif dari sejumlah kesepakatan tersebut. Bahkan untuk rencana pembukaan Indonesian House of Industry, Delegasi Kementerian Perindustrian telah melakukan peninjauan ke sejumlah pusat perbelanjaan yang terdapat di Qatar yang akan dijadikan lokasi pusat penjualan produk-produk IKM Indonesia. Kemungkinan besar akan dilakukan kunjungan lanjutan di tahun 2012 untuk mewujudkan rencana pembukaan Indonesian House of Industry di Qatar.

Memang hubungan ekonomi yang ada masih terbatas seiring dengan banyaknya tenaga kerja yang bekerja di negara-negara Teluk seperti TKI dan PLRT. Hal tersebut menjadikan pertanyaan dan tantangan mengapa Indonesia sepertinya tidak dekat dengan Arab/teluk utamanya dengan Qatar. Saat ini Indonesia lebih banyak berhubungan misalnya dalam hal investasi dengan negara-negara AS, Eropa Barat, Taiwan, Singapura, Hong Kong, dan sekarang Cina. Tetapi dari Arab sepertinya tidak ada sama sekali, sementara dari Qatar pun juga tidak terlalu signifikan walaupun sudah ada akuisisi saham PT. Indosat oleh Qatar Telecom, dan Bank Kesawan yang baru dalam proses diakuisisi oleh investor Qatar.

Meski begitu, Indonesia masih bisa terus optimis. Setidaknya, optimisme tersebut muncul dari perwakilan RI di Qatar. Melalui duta besarnya, RI melihat potensi Qatar yang sangat besar dengan dana yang melimpah. Memang Indonesia masih tertinggal dibandingkan dengan Malaysia yang telah banyak berhasil menarik minat investor Saudi Arabia dan Qatar untuk berinvestasi di Malaysia. Karena itu, inilah saatnya mewujudkan kerjasama sinergis dengan negara kaya minyak ini. (Sumber : KBRI Doha).