|
|
| Edisi - April 2012 |
| Sunday, 22 April 2012 12:59 |
|
Berbuat Yang Terbaik Menuju ke Puncak Karir Duta Besar Eddy Pratomo Selalu berusaha untuk memberikan yang terbaik. Hal ini yang menjadi doktrin diri sosok Eddy Pratomo, yang kemudian mengantar dirinya meraih puncak karir sebagai seorang diplomat yaitu menjadi Duta Besar RI untuk Republik Federal Jerman. Dilahirkan sebagai anak seorang Camat di sebuah desa di Kendal Jawa Tengah 5 Oktober 59 tahun silam, tidak serta merta menjadikan Eddy anak manja karena hidup penuh dengan fasilitas. Alih-alih Eddy kecil harus berjuang membantu sang Ibu berjualan di pasar untuk mempertahankan hidup dan membesarkan ke empat adik laki-lakinya setelah sosok ayah yang sangat dikagumi tersebut meninggal dunia pada saat Eddy Pratomo baru menginjak kelas 6 Sekolah Dasar. Dunia Eddy kecil kemudian berlangsung dengan keras dan hanya berbekal disiplin dari seorang ibu yang juga tidak mempunyai latar belakang pendidikan formal memadai. Kesulitan hidup dan juga transisi psikis yang berat sempat membuat Eddy Pratomo tidak bisa menyelesaikan pendidikan sekolah dasarnya dengan baik. “Saya sempat tidak lulus SD karena harus membantu Ibu saya berjualan di pasar setelah Ayah saya meninggal,“ kenang Eddy Pratomo. Dan karena kesulitan ekonomilah maka Eddy Pratomo kecil terpaksa harus ikut Kakek dan Neneknya yang kemudian mendaftarkannya ke Pendidikan Guru Agama Pertama (PGAP) atau yang sekarang disebut Madrasah Tsanawiyah. “Sejak saat itu sepenuhnya saya menyerahkan nasib saya kepada Tuhan, tidak ada panutan dalam hidup, sehingga saya mencari jalan hidup saya sendiri dengan tekat kuat melakukan yang terbaik dan selebihnya saya menyandarkan kepada nasib yang telah diguratkan Tuhan atas diri saya“, tutur Eddy Pratomo. Dengan bekal kerja keras dan disiplin tinggi Eddy Pratomo berhasil menyelesaikan pendidikan menengahnya dan bahkan mendapatkan beasiswa Pendidikan Hakim Islam Negeri di Jogjakarta yang sekarang telah berubah menjadi Madrasah Aliyah Negeri (MAN). Mengawali Karir DIplomat Perjalanan karir Eddy Pratomo sebagai seorang diplomat diawali pada awal tahun 1983. „Sebenarnya waktu itu saya ingin bekerja di Kementerian Perdagangan karena saya punya latar belakang wirausaha. Namun saya malah diterima di Kementerian Luar Negeri dan di Bank Indonesia. Saat itu saya memilih di Kementerian Luar Negeri setelah seorang teman yang terlebih dahulu diterima di Kemlu menjelaskan apa dan bagaimana profesi seorang diplomat. “ demikian ungkap Eddy Pratomo. Walaupun sempat gamang dengan pilihannya, namun atasan langsungnya pada waktu itu yaitu Bapak Sumaryo Suryokusumo meyakinkan dirinya dan mengatakan bahwa suatu saat dia bisa mencapai jabatan duta besar jika serius mendalami karier diplomat . Tak dinyana, 30 tahun kemudian Prof. Dr. Sumaryo Suryokusumo ikut membimbingnya dalam Program Pasca Sarjana (S3) Fakultas Hukum di di Universitas Padjajaran. Dubes Eddy berhasil mempertahankan disertasi untuk gelar Doktor di bidang Ilmu Hukum dan lulus dengan Cum Laude pada tanggal 26 April 2011 yang lalu. Eddy Pratomo mendapatkan penugasan luar negeri pertama kalinya di PTRI New York. “Melihat New York saya merasa seperti semut keluar dari lubangnya. Mata saya amat terbuka melihat New York yang begitu luas dan ramai, banyak sekali yang saya kagumi ketika itu, dan mulai merasa banyak sekali yang perlu ditekuni, dan di situlah untuk pertama kalinya saya mulai merasa, saya ingin menjadi diplomat yang serius , syukur-syukur jika bisa mencapai puncak karier sebagai duta besar. Terlebih ketika saya melihat bagaimana Bapak Ali Alatas dan Bapak Nana Sutresna memimpin sidang ,“ tutur Eddy yang pernah menjadi sekretaris Dubes Nana Sutresna. Dengan kerja keras dan semangat untuk selalu mengerjakan dan memberikan yang terbaik disela-sela tugas rutinnya di perwakilan RI untuk PBB di New York Eddy Pratomo menyempatkan diri untuk menimba ilmu di St. John University dan berhasil memperoleh Master of Arts in International Relations pada tahun 1989. Tak puas dengan pendidikan masternya, Eddy Pratomo juga berhasil mendapatkan gelar Doktor di Universitas Padjajaran Bandung pada tahun 2011 saat dirinya menjadi Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh untuk Jerman. Selain itu, seluruh pendidikan berjenjang di Kementerian Luar Negeri selalu dilewatinya dengan hasil yang terbaik. Duta Besar Dr. Eddy Pratomo yang sebelumnya pernah menjabat sebagai Wakil Kepala Perwakilan RI di London dan juga Dirjen Hukum dan Perjanjian Internasional di Kemlu RI mengaku banyak belajar dari para atasan pendahulunya. Saya banyak belajar dari Bapak Hassan Wirajuda dan juga Bapak Marty Natalegawa bagaimana mereka sangat detail, teliti, dan berdisiplin tinggi. Saya juga belajar ketegasan dari Bapak Dubes Wiryono, belajar sabar dan tenang dari Bapak Dubes Soemadi Brotodiningrat, belajar bagaimana mengerti permasalahan sampai ke akarnya, mengerti detail permasalahan, dan memimpin delegasi dari Bapak Ali Alatas, juga belajar bagaimana menjawab pertanyaan wartawan, serta bernegosiasi dengan baik dari Bapak Dubes Nana Sutresna maupun Bapak Agus Tarmidzi. Papar Eddy Pratomo mengenai pendahulunya yang turut membangun karakternya menjadi diplomat tangguh.
Menjadikan RI Mitra Utama Jerman Terkait dengan tugasnya sekarang sebagai Duta Besar RI untuk Jerman, Eddy Pratomo menguraikan bahwa misinya adalah bagaimana menempatkan Indonesia sebagai salah satu mitra utama Jerman di Asia. Untuk mencapai misi tersebut Eddy Pratomo melakukan diplomasi total melalui diplomasi ekonomi, budaya, gastronomi dll serta melibatkan semua unsur dan pemangku kepentingan terkait seperti masyarakat Indonesia di Jerman, mahasiswa, dan juga friends of Indonesia di Jerman. Sebagai Duta Besar, Eddy Pratomo menjelaskan bahwa goal terpentingnya adalah mendatangkan Kepala Negara secara resiprokal, dan hal itu telah tercapai dengan kunjungan Presiden RI Susilo Bambang Yudhoyono akhir 2009 dan kunjungan presiden Jerman ke Indonesia pada Desember 2011. Dikatakannya bahwa kunjungan Presiden Christian Wulff , Desember lalu merupakan kunjungan balasan Presiden Yudhoyono ke Jerman akhir tahun 2009. Kunjungan ini memberikan momentum dalam dinamika hubungan bilateral dengan lima fokus area kerjasama yaitu perdagangan dan investasi, ristek, kesehatan, pendidikan dan pertahanan. “Mengacu kepada hal tersebut maka tidak berlebihan jika saya nyatakan bahwa sudah saatnya Indonesia dan Jerman membangun kemitraan strategis,” demikian Eddy Pratomo mengungkapkan. Eddy Pratomo menguraikan Jerman dan Indonesia saat ini tengah melakukan pembahasan intensif ke arah hubungan kemitraan strategis tersebut. Salah satu langkah nyata untuk mewujudkan peningkatan intensitas hubungan tersebut adalah rencana pembentukan advisory board yang terdiri dari kaum akademisi, ilmuwan dan berbagai tenaga ahli dari kedua negara. „Badan ini nantinya akan diberi mandat untuk memberikan berbagai masukan dalam suatu dokumen guna peningkatan hubungan bilateral dalam konteks kemitraan strategis“, tutur Eddy Pratomo. Selain itu, posisi Jerman sebagai negara yang disegani di Uni Eropa dan peran sentral Indonesia dalam ASEAN kiranya juga akan dibawa dalam kemitraan strategis tersebut untuk menjadi landasan peningkatan kerjasama antara kedua organisasi di kawasan tersebut. Selain kunjungan kepala negara tersebut Eddy Pratomo juga menyampaikan komitmen Kanselir Jerman Angela Merkel untuk berkunjung ke Indonesia akhir tahun 2012 ini, hal tersebut membawa dampak yang luar biasa bagi pemajuan hubungan kedua negara baik dari segi politik, ekonomi, sosial dan budaya, ujarnya. Berbagai capaian kunci lain juga diuraikan Eddy Pratomo, diantaranya yaitu keputusan pemerintah Jerman untuk mempersingkat proses penerbitan visa Schengen di Kedubes Jerman di Jakarta bagi WNI terhitung mulai tanggal 15 Desember 2011, dari yang semula memakan waktu 2 minggu menjadi hanya 3 hari kerja. Sebaliknya KBRI Berlin juga melakukan percepatan pelayanan visa kunjungan wisata ke Indonesia melalui program one hour service. Dibidang ekonomi dan perdagangan, Eddy Pratomo memaparkan bawa mesin diplomasi KBRI Berlin dipacu secara maksimal dan membuahkan hasil meningkatnya volume perdagangan RI-Jerman menjadi 5,3 milyar Euro pada tahun 2011, atau naik sebesar 7% dibanding tahun 2010, dengan surplus di pihak Indonesia sebesar 2,1 milyar Euro. Nilai investasi Jerman di Indonesia juga meningkat mencapai 134,7 juta dollar tahun 2011. Jiwa wirausaha yang dimiliki Eddy Pratomo ternyata tak pupus saat dirinya menjadi diplomat. Hal tersebut nyata tercermin dalam program diplomasi ekonominya yang dilangsungkan secara gencar dan terpadu yang diimplementasikan dalam program-program seperti promosi terpadu Tourism-Trade and Investment, Update from the Region, penyelenggaraan berbagai temu bisnis, bahkan memanfaatkan berbagai pejabat yang transit di Jerman dalam Transit Business Meeting dan lain sebaginya. Di sisi investasi, saat ini volume investasi Januari-September 2011 sebesar USD157,6 juta (48 proyek). Angka tersebut menempatkan Jerman pada peringkat ketujuh negara yang melakukan investasi di Indonesia, atau negara Uni Eropa kedua terbesar kedua setelah Inggris. Jumlah wisatawan Jerman ke Indonesia yang terus meningkat dari tahun ketahun. Hal ini tak lepas dari promosi budaya dan pariwisata Indonesia yang dilakukan secara berkelanjutan, seperti misalnya penyelenggaraan pameran-pameran wisata di berbagai negara bagian di Jerman serta keberhasilan Indonesia menjadi negara mitra untuk tahun 2013 pada penyelenggaraan Pameran Pariwisata Internasional (Internationale Tourismus Börse) di Berlin yang dinilai sebagai pameran wisata terbesar di Dunia. Berbagai strategi kreatif juga sering dilakukan seperti penyelenggaraan Indonesian Culinary Festival di berbagai hotel bintang 5 di Berlin serta pembuatan buku kuliner Indonesia berjudul From The Ambassador’s Kitchen yang diluncurkan medio Maret 2012 lalu serta mempertunjukan permainan harpa dari seniman Indonesia kepada publik Jerman untuk menyampaikan bahwa budaya Indonesia tidaklah berada di bawah Jerman yang kerap mempertunjukkan permainan piano dalam berbagai kesempatan. Kesetaraan ini juga yang menjadi motivasi Eddy Pratomo untuk menghadirkan Twilite Orchestra di hadapan publik Jerman sebagai acara puncak peringatan 60 tahun hubungan RI-Jerman yang akan dilangsungkan di Gedung Konser bersejarah Gendarmenmarkt di pusat kota Berlin tanggal 19 Juni 2012 nanti. Disisi lain, Jerman tetap merupakan salah satu tujuan utama mahasiswa Indonesia untuk menimba ilmu, khususnya di bidang IPTEK. Saat ini terdapat ribuan mahasiswa Indonesia yang belajar di Jerman. Selain itu, bermacam produk dan teknologi asal Jerman sudah banyak digunakan di Indonesia. Capaian monumental lainnya adalah berhasil disepakatinya debt swap agreement ke-7 yaitu hutang Indonesia di Jerman akan dikonversikan untuk membiayai beasiswa program S-3 bagi 5000 mahasiswa Indonesia di Jerman. Selain itu Eddy Pratomo juga menjelaskan bahwa sejak kepemimpinannya di Berlin, beliau berhasil membentuk Forum Konsultasi Bilateral Indonesia Jerman, untuk me-review dan meningkatkan kerjasama bilateral , yang telah memulai pertemuan pertamanya pada bulan Mei 2010 di Jakarta dan akan diadakan pertemuan ke-2 pada bulan Oktober yang akan datang di Berlin. Selain itu juga terbentuk Forum Interfaith and Intercultural Dialogue Indonesia – Jerman sejak Juni 2010. Pertemuan ke-2 Forum ini, telah diadakan di Berlin bulan Oktober 2011 dan berikutnya direncanakan diadakan di Jogyakarta. Juga disinggung bahwa Menlu Jerman, Guido Westerwelle ketika menjabat sebagai Wakil Kanselir, untuk pertama kalinya bersantap siang di Wisma Indonesia bersama dubes-dubes Asia Pasifik di Berlin. Diakui Eddy bahwa untuk mencapai berbagai hal tersebut tentunya tidaklah mudah. Perlu seni tersendiri dalam menerjemahkan arahan dari pusat secara cepat dan tepat padahal seringkali arahan tersebut datang terlambat. Hal lain yang menurut Eddy juga dirasa berat adalah bagaimana mencapai target penyerapan anggaran yang maksimal dan dapat dipertanggungjawabkan dengan baik. Dari berbagai capaian di atas, Eddy Pratomo menilai bahwa hal yang justru membuatnya berkesan adalah saat menjadi ketua Delri dan menjadi pemimpin berbagai sidang penting dalam perundingan batas maritim, darat, udara, maupun sidang-sidang seperti perubahan iklim dan sidang PBB untuk pemberantasan korupsi. Tercatat berbagai perundingan penting telah digawanginya seperti perundingan batas kontinen dengan Vietnam yang berlangsung hingga 28 tahun, beracara di International Court of Justice (ICJ) dengan Malaysia dalam penyelesaian sengketa kedaulatan atas Pulau Sipadan dan Ligitan, serta saat memimpin Delri di Konferensi Kelautan Dunia yang dilangsungkan di Manado. “WOC di Manado telah berperan mentransformasi wajah Manado menjadi salah satu destinasi MICE dan wisata penting di Indonesia“, demikian diakui Eddy Pratomo. Kemudian Eddy Pratomo pun diminta menjadi Penasehat Senior Delegasi Indonesia untuk Konferensi Perubahan Iklim dimana dirinya harus selalu mengikuti setiap putaran sidang yang diantaranya berlangsung di Bonn, Bangkok, Cancun, New York, Madrid, Panama, Durban, Mexico dan lain-lain. Eddy Pratomo mengakui bahwa ketekunan dan disiplin yang tinggi serta kerja keraslah yang membuatnya sampai di puncak karier seorang diplomat seperti sekarang ini. “Saya menerapkan disiplin juga untuk keluarga dan anak-anak, saya punya check list sebelum mengerjakan sesuatu .” Demikian dubes menjelaskan kedisiplinan dirinya yang ketat .
Olah raga sebagai penyeimbang Untuk menunjang aktivitasnya yang sangat padat ini, ayah dua puteri dan satu putera ini amat menekankan pada kesehatan dan hidup yang seimbang. Untunglah Eddy Pratomo memang menyukai olahraga, khususnya golf. “Saya seringkali lupa waktu jika sudah bermain golf karena sambil bermain saya bisa melakukan berbagai loby-loby sebagaimana tugas saya sebagai duta besar sambil juga menikmati udara segar dan alam indah di lapangan golf,“ demikian ungkap Eddy Pratomo seraya menyebutkan dua lapangan golf favoritnya yaitu lapangan golf di Bintan dan di Nirwana Bali. Hal tersebut memang dijalani seorang Eddy Pratomo dalam kesehariannya sesuai dengan motto yang dimilikinya yaitu untuk menjalani kehidupan yang seimbang. “Hiduplah secara seimbang antara bekerja, beribadah, olahraga, dan bergembira,“ demikian saran Eddy Pratomo yang saat ini menemukan keasyikan baru yaitu bernyanyi, karena selama di Berlin dirinya menemukan banyak teman untuk berkaraoke bersama serta ada band yang berlatih secara teratur. “Bernyanyi ternyata membuat pikiran happy dan semangat, nyanyi juga bisa menjadi upaya membahagiakan diri, demikian ungkap Eddy Pratomo diakhir sesi wawancara seraya berpesan agar setiap generasi muda dapat menjadi yang terbaik dan melakukan yang terbaik, Why not the best?“, pungkas Eddy. [] |



