|
|
| Edisi - Mei 2012 |
| Sunday, 20 May 2012 07:43 |
|
Merasa Sebagai Orang Biasa yang Berjalan Sesuai Irama
Duta Besar Saiful Hadi Duta Besar RI untuk Qatar Diplomat yang sekarang ini menjabat sebagai Duta Besar RI untuk Qatar ini memilih profesi sebagai diplomat karena melihat pekerjaan sebagai diplomat adalah suatu pekerjaan yang membanggakan. Selain itu, seorang diplomat juga bisa melanglang buana, bergaul dengan berbagai macam bangsa, dan menjadi wakil dari pemerintah dan bangsa Indonesia di luar negeri. Hal inilah yang menurutnya sangat menarik dan mendorongnya untuk menjadi seorang diplomat. Menurutnya banyak pengalaman menarik yang didapat saat bertugas di Kemlu RI. Utamanya adalah beratnya memperjuangkan kepentingan Indonesia di dunia internasional dan mencoba mengimplementasikan berbagai kebijakan dalam negeri untuk kepentingan dan keuntungan bagi Indonesia sendiri. “Sebagai orang yang mewakili Indonesia, terkadang perasaan nasionalisme ketika berada di dalam negeri tidak begitu terasa, namun akan berbeda rasanya apabila kita berada di luar negeri dengan duduk dan berhadapan dengan orang asing, dimana kita harus memperjuangkan kepentingan Indonesia. Disitulah terasa semangat dan rasa nasionalisme kita semakin tebal”, jelasnya. Pada saat pertama kali bertugas di Vancouver, Canada, diplomat yang senang mendengarkan musik ini punya pengalaman menarik dalam memperjuangkan teman-teman dari Karyasiswa Kemdikbud RI (saat itu) untuk memperoleh beasiswa di British Columbia University dari Pemerintah Canada. Pengalaman menarik lainnya adalah pada saat menghadapi demo para simpatisan Timor Timur (saat itu) di British Columbia University, Vancouver.”Saya dan rekan-rekan diplomat lainnya berhadapan langsung dengan para pendemo sambil adu argumentasi. Saya ingat sekali saat itu Bapak Dino Patti Djalal masih menjadi mahasiswa, dengan sangat berani mendampingi saya hanya berbekal keterampilan bahasa Inggris yang sangat lancar berjuang bersama-sama demi nama bangsa Indonesia”, kenangnya. Duta Besar yang menyukai olah raga strecthing ini mengaku merasakan adanya kepuasan tersendiri jika draft proposal perjanjian yang diajukannya dalam suatu perundingan pada akhirnya dapat diterima dengan baik oleh pihak lain. Karena terkadang sampai tidak tidur semalamam dalam menyelesaikan draft perjanjian yang terus berubah. Menurut Duta Besar yang suka membaca buku-buku yang bersifat informatif ini, hubungan Indonesia-Qatar ataupun antara Indonesia dengan negara-negara Arab lainnya, umumnya masih belum signifikan dengan potensi yang ada. Hubungan ekonomi yang ada masih terbatas seiring dengan banyaknya tenaga kerja yang bekerja di negara-negara Teluk seperti TKI dan PLRT. Hal tersebut menjadikan pertanyaan dan tantangan bagi Duta Besar yang juga senang melihat pemandangan ini. Menurutnya Qatar memiliki dana yang melimpah, namun investasi Qatar di Indonesia sama sekali tidak signifikan. Ini dikarenakan Qatar tidak mengenal dengan baik potensi yang dimiliki oleh Indonesia, dan saling berprasangka negatif sehingga hubungan yang lebih baik diantara kedua negara belum dapat terealisasi karena belum adanya kecocokan. Perekonomian Qatar tumbuh dan berkembang sangat pesat dalam kurun waktu 5 tahun terakhir, sehingga potensi di bidang ketenagakerjaan sangat dibutuhkan. Dengan jumlah penduduk asli yang hanya sekitar 350.000 orang, Qatar jelas memerlukan tenaga kerja dalam jumlah besar. Saat ini jumlah tenaga kerja professional didominasi oleh tenaga kerja asal India mencapai 700.000 orang. Sementara itu WNI di Qatar yang terdata oleh KBRI Doha berjumlah 36.000 orang, dengan komposisi 20.000 orang adalah TKW/PLRT dan 5.000 orang adalah tenaga kerja professional yang telah bekerja di Qatar sejak 16 tahun lalu (sejak 1996). Ini adalah asset yang dimiliki bangsa Indonesia. “Saya tidak merekomendasikan sama sekali pengiriman TKW ke Qatar. Apalagi sesuai dengan program pemerintah yang akan menyetop pengiriman TKW hingga 2017 dan menguranginya sedikit demi sedikit. Saya tidak begitu “bersemangat” untuk meningkatkan pengiriman tenaga kerja wanita walaupun saat ini peluangnya masih terbuka” jelas Duta Besar RI untuk Qatar ini. Ia berpandangan bahwa pengiriman TKW/PLRT yang notabene less educated dan dibayar rendah terlalu besar resikonya. Harkat dan martabat bangsa juga terusik akibat pengiriman TKW ini, karena itu Dubes yang senang dengan open air cafe ini tidak merekomendasikan pengiriman TKI informal (unskilled) ke Qatar. Target utamanya adalah meningkatkan jumlah tenaga kerja formal (skilled) sehingga bangsa Indonesia lebih dihargai oleh negara setempat. Duta Besar yang baru memulai tugasnya di Qatar pada tanggal 24 Januari 2012 ini berkeinginan untuk meletakkan dasar yang kuat pada Perwakilan RI di Qatar mengingat selama dua tahun lebih KBRI Doha tidak memiliki seorang Duta Besar. Segala macam perkembangan berjalan dengan sangat cepat di Qatar, namun Dubes belum akan melihat keluar melainkan kedalam KBRI sendiri, karena ia ingin betul-betul melihat KBRI yang professional. Menurut Dubes, masyarakat Qatar adalah orang yang “very smart person”. Qatar menduduki peringkat negara dengan income perkapita tertinggi di dunia pada tahun 2011 yaitu mencapai USD 103.000, sedangkan Indonesia hanya USD 3000-an saja. Oleh karena itu Dubes terus berupaya meletakkan dasar profesionalisme yang tinggi di seluruh staff agar tidak semakin tertinggal. Qatar sangat pintar memanage negaranya, sebagai sebuah negara kecil tapi dengan otot yang besar. “Karenanya mau tidak mau kita juga harus melakukan hal yang sama. Karena itu target saya adalah agar KBRI Doha dapat beroperasi sebagai KBRI yang bagus” jelasnya. Dalam kurun waktu dua bulan terakhir, KBRI Doha aktif dan sukses mengikuti event-event internasional yang diselenggarakan oleh Qatar dengan sinergi DWP KBRI Doha dan komunitas masyarakat Indonesia di Qatar. Diantaranya adalah 8th Diplomatic Bazaar yang diadakan oleh Social Development Centre (SDC), dan 6th Global Village 2012 yang diselenggarakan oleh College of the North Atlantic University (CNA-Q). KBRI Doha juga berhasil mendirikan organisasi Indonesian Businessmen Association in Qatar (IBAQ), walaupun itu telah dirancang jauh sebelumnya oleh para pengusaha Indonesia yang ada di Qatar. Paling tidak keberadaan Dubes telah memberikan motivasi, dorongan, stimulan bagi WNI di Qatar. Prestasi lainnya adalah terkait credential, dimana Bapak Dubes RI untuk Qatar diterima oleh Emir Qatar, H.H. Sheikh Hamad Bin Khalifa Al-Thani hanya dalam waktu satu minggu yang kemudian dilanjutkan dengan courtesy call dengan berbagai menteri dan pejabat tinggi pemerintah lainnya di Qatar. Prestasi ini tidak terlepas dari jalinan networking yang diciptakan oleh Dubes dengan Direktur Protokol di Kemlu Qatar yakni Ambassador Ibrahim Fakhroo. Ayah dari dua orang anak ini akan mencoba untuk menata kembali KBRI baik keluar maupun kedalam untuk perkembangan yang lebih baik kedepannya. Selain itu, kesejahteraan seluruh staff juga tidak luput dari perhatiannya. Dubes berharap orang-orang disekelilingnya dapat bekerja dengan tenang bila ditunjang dengan kesejahteraan yang cukup walaupun tidak berlebihan. Disamping itu Dubes juga menanamkan “rasa memiliki” terhadap seluruh staff. Dubes yang menggemari olahraga tenis ini merasa bahwa dirinya hanya orang biasa-biasa saja (bukan orang hebat), dan berjalan sesuai irama, tidak ada yang meledak-ledak, dan lancar (smooth). Kedua anaknya telah lulus dari San Fransisco State Universiity dan telah bekerja. Anak sulungnya bekerja di Mandiri Investasi sedangkan yang bungsu menjadi Juniornya di Kemlu RI Angkatan 35. Dubes yang sangat aktif mengikuti berbagai perkembangan yang terjadi di wilayah Teluk ini, saat ini lebih banyak mengisi waktu luangnya untuk membaca buku bersama dengan istri sambil mengikuti berita perkembangan tentang tanah air melalui televisi.[] |



