NEWS FLASH
Print E-mail
Edisi - Mei 2012
Sunday, 20 May 2012 07:47

 

Museum KAA Merangkul Pengunjung Melalui Sahabat Museum

Gilang A. Jabbar

Koordinator Sekretariat SMKAA

Yang biasanya kita rasakan saat berkunjung ke museum pada umumnya adalah kotor, tidak terawat, kosong, pada awalnya saja menarik waktu pertama kali datang, tapi lama-lama bosan juga karena tidak pernah ada yang baru.

Kesan-kesan tersebut seringkali menempel pada kebanyakan museum yang dikelola pemerintah di Indonesia. Para pengunjungpun mempertanyakan; lalu siapa yang mempunyai museum? Bukankah sebetulnya museum dibiayai oleh para pembayar pajak? Mengapa pelayanan yang diberikan olehnya justru jauh dari kebutuhan kita?

Museum Konperensi Asia Afrika merupakan salah satu museum yang serius dalam upayanya menjawab deretan pertanyaan tersebut. Disebut serius karena Museum Konperensi Asia Afrika tidak menjawabnya dengan omongan, tetapi dengan tindakan. Dengan berbagai program dan kebijakan yang mengundang segenap lapisan masyarakat aktif berpartisipasi dalam keseharian di museum.

Salah satu kebijakan Museum Konperensi Asia Afrika adalah dengan merangkul pengunjung melalui Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika (SMKAA). SMKAA selalu berupaya menjadi penyemangat denyut nadi keseharian di Museum Konperensi Asia Afrika. SMKAA muncul sebagai event management dari setiap kegiatan masyarakat yang bersifat dinamis. Sinergi antara SMKAA dan Museum Konperensi Asia Afrika diharapkan dapat mempermudah publikasi kegiatan masyarakat di museum secara luas kepada khalayak.

Pesan dan makna yang terkandung dalam setiap kegiatan tidak disampaikan dari museum kepada pengunjung, tetapi dari pengunjung museum kepada pengunjung lainnya, sehingga tersampaikan dengan baik. Pola komunikasi ini disebut people to people contact, dan pola ini hanya bisa terjalin jika para pengunjung museum menganggap museum sebagai rumahnya.

Apabila kita menganggap museum sebagai rumah kita, tentu kita tidak akan membiarkannya kotor, membosankan atau malah kelihatan kosong. Sebisa mungkin kita akan membuatnya bersih, nyaman dan ramai dengan berbagai kegiatan yang menarik minat kita. Itulah yang coba dilakukan oleh Sahabat Museum Konperensi Asia Afrika. []

 

pandangan publik terhadap pelaksanaan polugri positif

Nur Ayu Ramalinda

Mahasiswa Universitas Mulawarman, Samarinda.

 

Saya kira penyelenggaraan kegiatan NuMUN 2012 ini sangat bagus, dimana kita sebagai mahasiswa dan generasi penerus bangsa dapat melihat dan mengetahui bagaimana sebenarnya proses dan suasana sebuah sidang di PBB, serta bagaimana kita melakukan teknik negosiasi dan berdiplomasi di forum multilateral.

Ini tentunya sangat penting, apalagi bagi kami para mahasiswa jurusan Hubungan Internasional yang nantinya mungkin saja akan bekerja di bidang ini atau bidang lain yang terkait dengan hal ini. Jadi disini kami bisa belajar bagaimana menjadi seorang diplomat atau negosiator. Dalam hal ini saya sangat tertarik untuk mendalami tentang hubungan internasional, karena dengan begitu saya dapat mempelajari berbagai hal yang terkait dengan hubungan internasional secara lebih luas.

Menurut saya, pandangan masyarakat terhadap politik luar negeri Indonesia, yang dalam hal ini dilaksanakan oleh Kementerian Luar Negeri, tampaknya sudah lebih baik, terutama dalam hal berdiplomasi dan peningkatan peran Indonesia di berbagai forum internasional termasuk PBB. Sekarang ini Indonesia tampak lebih menonjol di kancah pergaulan internasional, terutama dalam peranannya memberikan kontribusi solusi terhadap berbagai persoalan global.

Terkait dengan hal tersebut, karena itu kami sebagai generasi muda yang akan meneruskan estafet kepemimpinan di negeri ini harus lebih giat dan gigih dalam mempersiapkan diri sebagai pemimpin Indonesia kedepan. Jangan sampai apa yang sudah dicapai oleh para pemimpin Indonesia pada saat ini, kemudian tidak dapat kita kembangkan dan tingkatkan atau bahkan justru malah menurun.

Kami harus berupaya menjadikan Indonesia kedepan lebih baik dari saat sekarang ini, yaitu menjadikan Indonesia sebagai negara maju dengan peran yang signifikan di  kancah internasional. Oleh karena itu saya kira kegiatan seperti NuMUN ini perlu dilakukan lebih banyak dan tidak hanya di kota-kota besar tetapi juga di daerah-daerah. Hal ini perlu dilakukan mengingat kegiatan seperti ini sangat jarang dilakukan di daerah, ini perlu menjadi perhatian kita bersama agar kemampuan mahasiswa di daerah bisa lebih ditingkatkan sehingga memiliki kemampuan yang sejajar dengan mahasiswa di kota-kota besar.[]