| Sunday, 17 June 2012 15:31 |
 |
 |
|
|
Juni 2012 -
Diplomasi Juni 2012
|
|
Kerja sama East Asia Summit (EAS) Memperkuat Ketahanan dan Daya Saing Kawasan
East Asia Summit (EAS) merupakan satu forum regional terbuka yang muncul di kawasan Asia Timur sejak tahun 2005. Pada awal pembentukannya, terdapat 16 negara peserta EAS, yaitu 10 negara ASEAN, Australia, China, India, Jepang, Republik Korea dan Selandia Baru. AS dan Rusia resmi bergabung menjadi peserta EAS pada KTT ke-6 EAS di Bali, November 2011. Dengan demikian, jumlah negara peserta EAS sekarang menjadi 18.
EAS merupakan forum leaders-led summit dengan ASEAN sebagai kekuatan penggerak (driving force). Secara rinci tujuan dan prinsip-prinsip EAS termuat di dalam Deklarasi Kuala Lumpur tentang Pembentukan EAS tahun 2005 yaitu: The EAS is a forum for dialogue on broad strategic, political and economic issues of common interest and concern with the aim of promoting peace, stability and economic prosperity in East Asia; The EAS’s efforts to promote community building in the region will be consistent with and reinforce the realization of the ASEAN Community; The EAS will be an open, inclusive, transparent and outward-looking forum.
KTT ke-6 East Asia Summit (EAS) di Bali, Indonesia, 19 November 2011, telah me-ningkatkan profil ASEAN dan EAS di mata dunia, termasuk dengan resmi bergabungnya Federasi Russia dan Amerika Serikat. KTT ke-6 EAS juga berhasil menjadi wahana dialog para Pemimpin untuk membahas isu-isu strategis regional dan internasional yang berkontribusi positif pada upaya menjaga keamanan dan stabilitas serta pemajuan ekonomi di kawasan Asia Timur.
|
|
| Sunday, 17 June 2012 15:36 |
 |
 |
|
|
Juni 2012 -
Diplomasi Juni 2012
|
|
Indonesia Dipandang Sebagai Negara Kunci yang Menentukan Arah Masa Depan ASEAN
Foster Gultom
Sekretaris Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN
Sekitar seminggu yang lalu, saya membaca satu berita yang cukup menarik yang di rilis oleh salah satu media on-line berjudul “Diserbu Buah Impor, Petani Apel Malang Kian Terpuruk”. Artikel itu menyebutkan bahwa buah lokal yang sebelumnya cukup popular, seperti apel Malang, kini makin tertekan dan dikhawatirkan dapat tergilas oleh pasar apel asing, khususnya dari China.
Sehari sebelumnya, Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat total impor buah-buahan asal China per triwulan I tahun 2012 nilainya sebesar US$ 140,9 juta atau sekitar Rp 1,26 triliun. Meng-alami kenaikan 20 persen dibandingkan dengan triwulan I tahun 2011, yang mencapai US$ 115,6 juta atau sekitar Rp 1,04 triliun.
Saya percaya bahwa masih banyak media massa lain yang juga memuat berita senada yang menyiratkan betapa globalisasi telah secara nyata berdampak langsung kepada masyarakat di semua lapisan.
|
|
|
| Sunday, 17 June 2012 15:36 |
 |
 |
|
|
Juni 2012 -
Diplomasi Juni 2012
|
|
Pelaksanaan Kebijakan Luar Negeri Masih Bersifat Sektoral
Desain Besar (grand design) tentang Kebijakan Luar Negeri RI akan disusun dan dirumuskan dengan berpedoman pada UU No. 37/1999 tentang Hubungan Luar Negeri, serta Rencana Pembangunan Jangka Panjang Nasional (RPJPN) 2005 – 2025, dan Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2010 – 2014. Desain Besar ini akan memuat visi, misi, tujuan, strategi, kebijakan, program dan kegiatan, serta target-target yang akan dicapai, de-ngan melibatkan dukungan dan partisipasi dari seluruh pemangku kepentingan secara terpadu dan terintegrasi.
Praktek pelaksanaan kebijakan luar negeri Indonesia dewasa ini dipersepsikan masih bersifat sektoral sehingga Kementerian Luar Negeri (Kemlu) sebagai institusi penyelenggara hubungan luar negeri belum secara optimal memanfaatkan seluruh lini kekuatan (multi-track diplomacy) dari kementerian/lembaga teknis terkait serta pemangku kepentingan lainnya, termasuk peme-rintah daerah sebagai konsekuensi dari kebijakan otonomi daerah. Sebagian kalangan juga beranggapan bahwa Kemlu sebagai ujung tombak pelaksanaan kebijakan luar negeri masih belum bersiner-ji maksimal dengan seluruh komponen stakeholder dalam satu kesatuan irama diplomasi total, utamanya untuk lebih memperkuat diplomasi bidang ekonomi dalam kerangka Indonesia Incorporated.
Ke depan, apapun yang menjadi target dari pelaksanaan diplomasi Indonesia, Kemlu seyogianya dapat lebih mengefektifkan keterpaduan langkah dari seluruh pemangku kepentingan yang akan berkorelasi langsung dengan pembangunan ekonomi dan peningkat-an kesejahteraan nasional Indonesia. Melalui ketokohan dan intellectual lea-dership Indonesia pada tataran regional, utamanya ASEAN dan Asia Timur, terdapat banyak peluang kepentingan yang bisa disinerjikan dengan tujuan nasional Indonesia.
|
|
| Sunday, 17 June 2012 15:38 |
 |
 |
|
|
Juni 2012 -
Diplomasi Juni 2012
|
|
Perkembangan Perdagangan RI - Afrika Selatan
Total perdagangan Afrika Selatan pada periode Januari-September 2011 tercatat sebesar US$ 147,58 miliar, atau meningkat sebesar 26,80% dibandingkan periode yang sama tahun 2010. Total perdagangan tersebut terdiri dari ekspor sebesar US$ 73,01 miliar, meningkat 26,52% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan impor dengan nilai US$ 74,57 miliar, me-ningkat sebesar 27,0 7%, dibandingkan periode yang sama tahun 2010.
Neraca perdagangan Afrika Selatan pada periode Januari-September 2011 ini, tercatat mengalami defisit sebesar US$ 1.566 juta, atau meningkat 59,39% diban-dingkan periode yang sama tahun 2010, yang tercatat sebesar US$ 982 juta. Sementara itu, tingkat inflasi rata-rata tahunan bulan Nopember 2011 sebesar 6,1% , atau meningkat 0,1% dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,0%.
Pemasok utama pasar Afrika Selatan selama periode Januari-September 2011, adalah China yang masih terus menduduki posisi pertama dengan nilai ekspor mencapai US$ 10,17 milyar, dan pangsa pasar sebesar 13,63% atau naik 22,12%;
|
|
|