NEWS FLASH
Print E-mail
Juni 2012 - Diplomasi Juni 2012
Sunday, 17 June 2012 15:38

Perkembangan Perdagangan RI - Afrika Selatan
 

Total perdagangan Afrika Selatan pada periode Januari-September 2011 tercatat sebesar US$ 147,58 miliar, atau meningkat sebesar 26,80% dibandingkan periode yang sama tahun 2010. Total perdagangan tersebut terdiri dari ekspor sebesar US$ 73,01 miliar, meningkat 26,52% dibanding periode yang sama tahun sebelumnya, dan impor dengan nilai US$ 74,57 miliar, me-ningkat sebesar 27,0 7%, dibandingkan periode yang sama tahun 2010.

Neraca perdagangan Afrika Selatan pada periode Januari-September 2011 ini, tercatat mengalami defisit sebesar US$ 1.566 juta, atau meningkat 59,39% diban-dingkan periode yang sama tahun 2010, yang tercatat sebesar US$ 982 juta. Sementara itu, tingkat inflasi rata-rata tahunan bulan Nopember 2011 sebesar 6,1% , atau meningkat 0,1% dibanding bulan sebelumnya yang tercatat sebesar 6,0%.

Pemasok utama pasar Afrika Selatan selama periode Januari-September 2011, adalah China yang masih terus menduduki posisi pertama dengan nilai ekspor mencapai US$ 10,17 milyar, dan pangsa pasar sebesar 13,63% atau naik 22,12%;

Posisi kedua ditempati oleh Jerman dengan nilai ekspor sebesar US$ 8,06 milyar, dengan pangsa pasar sebesar 10,81% atau naik 19,37%; posisi berikutnya ditempati oleh Amerika Serikat dengan nilai ekspor sebesar US$ 6,24 milyar dan pangsa pasar sebesar 8,36%; selanjutnya adalah Jepang (US$ 3,48 milyar, dan 4,67% pangsa pasar); Saudi Arabia (US$ 3,33 milyar, dan 4,47% pangsa pasar). Indonesia menempati posisi ke 27 sebagai pemasok, dengan total nilai ekspor sebesar US$ 706 juta dan pangsa pasar sebesar 0,95%.

Perekonomian Afrika Selatan mengalami peningkatan sebesar 1,4% pada kuartal ke-3 tahun 2011 (Q to Q). Kontribusi utama terhadap kenaikan ini, disumbang oleh: Industri Keuangan, Real Estate, dan Jasa Usaha yang berkontribusi sebesar 21,0%; Industri Pelayanan Jasa Umum Pemerintah berkontribusi sebesar 15,6%; Industri Ma-nufaktur berkontribusi 13,9%; dan Industri Perdagangan Besar, Eceran dan Kendaraan serta Perhotelan dan Akomodasi berkontribusi 13,5%, dan sektor-sektor lainnya.

Melemahnya mata uang Rand terha-dap mata uang asing utama (US Dollar dan Euro), mengakibatkan kenaikan tingkat inflasi serta berpengaruh besar terhadap prediksi pertumbuhan ekonomi pada tahun mendatang. Kemerosotan dalam pertumbuhan produksi manufaktur, juga menjadi penyebab melemahnya mata uang Rand terhadap US Dollar dan Euro.

Sementara itu, Producer Price Index (PPI) tahunan bulan Nopember 2011 sebesar + 10,1%, atau mengalami penurunan sebesar 0,5% dibanding bulan Oktober 2011 yang mencapai 10,6%. Penurunan PPI pada bulan Nopember tahun 2011, adalah karena adanya perubahan PPI pada industri di sektor pertambangan dan listrik;

Adapun dari Oktober sampai dengan Nopember 2011, PPI untuk komoditas eks-por mengalami peningkatan sebesar 1,0%, sebagai kontribusi dari peningkatan harga pada produk logam dan pertambangan.

Sedangkan, dari bulan Oktober 2011 sampai dengan Nopember 2011, PPI untuk komoditas impor mengalami peningkatan sebesar 4,3%, yang dipengaruhi oleh harga produk tambang, alat perkantoran dan komputer, kimia dan produk kimia serta mesin elektrikal.

Pada periode Januari-September 2011, total perdagangan Afrika Selatan dengan Indonesia tercatat senilai US$ 1.191,66 juta, meningkat sebesar 31,85% dibandingkan dengan periode yang sama tahun 2010, dengan nilai US$ 903,82 juta. Total perdagangan tersebut terdiri dari ekspor sebesar US$ 485,90 juta, dan impor sebesar US$ 705,76 juta.

Posisi neraca perdagangan Afrika Selatan terhadap Indonesia pada periode Januari-September 2011 tercatat surplus bagi Indonesia sebesar US$ 219,86 juta, atau meningkat sebesar 114,96% dibandingkan periode Januari-September 2010.

Selama periode Januari-September 2011, Afrika Selatan mengimpor tiga komoditi utama non migas dari Indonesia dengan nilai mencapai diatas US$ 40 juta. Komoditi tersebut, adalah: Palm Oil & Its Fractions; Natural Rubber, Balata, Gutta-Percha dan Motor Cars & Vehicle Transportation Person.

Kontribusi ketiga komoditi tersebut terhadap impor non migas Afrika Selatan dari Indonesia pada periode Januari – September 2011, dapat digambarkan sebagai berikut : Palm Oil, naik 51,97 % dibanding Januari – September 2010, atau mencapai US$ 140,16 juta; Natural Rubber naik 30,89% menjadi US$ 88,95 juta; dan Motor Cars & Vehic Transp Person, naik 9,43 % menjadi US$ 42,77 juta. Pangsa pasar ketiga komoditi Indonedia tersebut terhadap nilai impor Afrika Selatan pada periode ini cukup besar, yaitu mencapai 38,52%.

Stagflasi dapat menghantui perekonomian Afrika Selatan dengan bentuk kombinasi antara meningkatnya inflasi dan menurunnya tingkat pertumbuhan domestik. Disamping itu, interkoneksitas resiko yang tidak dapat dihindari dari adanya krisis Eropa, yaitu fluktuasi nilai tukar Rand terhadap dollar AS. Nilai tukar Rand sejak bulan Juli 2011 sampai bulan Desember 2011 kembali bergerak, dari Rand 6,65 per Dolar AS menjadi Rand 8,50 per Dolar AS.

Dalam kaitan ini, Afrika Selatan mengambil sikap dalam menghadapi kemungkinan imbas negatif dari timbulnya krisis UE melalui seperangkat instrumen kebijakan moneter yang bersifat stimulus, walaupun sejauh ini Afrika Selatan belum menerima dampaknya secara langsung, tetapi mereka tetap menjalin kerjasama perdagangan dengan negara-negara mitra diluar UE, seperti Indonesia. (Sumber: ITPC Johannesburg).