|
|
| Juni 2012 - Diplomasi Juni 2012 |
| Sunday, 17 June 2012 16:08 |
|
Seminar “Early Detection of Breast Cancer”: Deteksi Langkah Penyelamatan dari Kanker Payudara RSCM Kencana
Pada tanggal 16 Mei 2012, RSCM Kencana bekerjasama dengan Direktorat Diplomasi Publik Kemlu RI mengadakan Seminar Early Detection of Breast Cancer. Seminar ini menghadirkan para pakar kedokteran terkait, yaitu dr. Diani Kartini Sp.B(K)Onk (Onkologis), dr. Vally Wulani Sp.Rad (Radiologis), dr. Ni Made Swantari Sp.BP (ahli bedah plastik). Kegiatan ini dihadiri oleh kurang lebih 35 peserta yang terdiri dari para istri dubes Aljazair, Denmark, Somalia, Yunani, dan perwakilan-perwakilan dari kedutaan-kedutaan besar Australia, Yunani, Meksiko, Filipina, Nigeria, Kuba, Belanda, perwakilan-perwakilan dari unit-unit seluruh Kemlu, serta manajemen RSCM Kencana. Acara yang bernuansakan merah jambu ini, dibuka oleh Kepala RSCM Kencana, dr. Imam Susanto Sp.BP, yang menyatakan bahwa kanker adalah masalah serius yang dihadapi oleh masyarakat saat ini. Sekitar 24,9 % populasi berkemungkinan untuk menderita kanker. Dalam seminar ini, dipaparkan langkah-langkah penyembuhan bagi para penderita kanker payudara. Diharapkan para peserta dapat memperoleh informasi yang cukup setelah seminar tersebut. Sesi pertama pada panel pemaparan, diisi oleh dr. Diani Kartini Sp.B(K)Onk (Onkologis) dengan presentasi “Early Detection of Breast Cancer” yang menjelaskan di antaranya tentang definisi kanker, kanker payudara, penjelasan bahwa kanker payudara menjadi penyakit pertama tertinggi untuk perempuan di seluruh dunia, faktor-faktor yang dapat mempertinggi resiko kanker, sejarah genetis pemicu kanker payudara, dan penyembuhan melalui proses radiasi. Dipaparkan olehnya, “Breast cancer can be detected during early stage. The earlier it is found, the better will be if treats adequately”. Dengan demikian, diperlukan suatu kesadaran pasien untuk memeriksa sejak dini (SADARI). Untuk menunjang proses ini, dijelaskan beberapa modal penyembuhan kanker payudara yang meliputi, perawatan, operasi, radiasi, chemotherapy, hormonal therapy, dan targeted therapy. Sesi kedua pada panel pemaparan, diisi oleh dr. Vally Wulani Sp.Rad (Radiologis) dengan presentasi “Early detection in breast cancer: radiologic features”. Disampaikan olehnya tentang teknik-teknik mamografi digital dan ultra-sonografi yang akan membantu pasien untuk dapat mendeteksi gejala kanker payudara pasien di Indonesia. Dipaparkan bahwa ada perbedaan perawatan antara perempuan negara-negara Barat dengan negara-negara Timur pada kasus kanker payudara. Disarankan olehnya, “do screening mammo every year.”, bagi pencegahan kanker payudara sedari dini. Dr. Ni Made Swantari Sp.BP (ahli bedah plastik) menutup sesi panel pemaparan ini dengan presentasi, “Preserving Excellent Quality of Life with Breast Reconstruction”. Disampaikan olehnya, “90% patient is satisfied with the operation of breast reconstruction”. Untuk mendukung kesejahteraan dan keutuhan dari para pasien kanker payudara dibutuhkan upaya rekonstruksi paska operasi kanker payudara. Upaya rekonstruksi paska operasi kanker payudara tersebut meliputi, mastectomy, immediate breast cancer, dan delayed breast cancer. Dalam pemaparan ini juga dipaparkan tampilan kasus-kasus implan payudara, persiapan sebelum operasi, dan perawatannya setelah kembali dari rumah sakit. Seminar diakhiri dengan sesi tanya jawab. Para peserta seminar terutama para perwakilan dari kedutaan-kedutaan besar asing di Jakarta, terlihat sangat antusias melontarkan pertanyaan-pertanyaan. Di antaranya, meliputi, operasi bedah plastik setelah pengangkatan payudara dalam kasus kanker payudara, pemeriksaan kanker payudara, dan cara membedakan benjolan pada payudara sebagai kanker atau kista, radiasi kemoterapi pada penderita kanker payudara, serta masalah-masalah yang ditimbulkan setelah operasi pengangkatan kanker payudara. Seminar ini kemudian ditutup dengan sharing session dari seorang survivor kanker payudara, yaitu, Elizabeth O’Callaghan, perwakilan dari Kedutaan Besar Australia di Jakarta. Pada kasusnya, disampaikan bahwa kanker payudara tersebut mulai menggerogoti tubuhnya setelah periode breastfeeding pada anaknya.[] |



