|
|
| Juni 2012 - 4 article |
| Sunday, 17 June 2012 16:16 |
|
Indonesia Memiliki Keunggulan Kompetitif, Bukan Hanya Komparatif
Melihat potensi dan trend pertumbuhan RI pada tahun-tahun terakhir ini, peluang yang tersedia pada tingkat dunia, maka saya punya tesis bahwa abad 21 ini Indonesia bisa menjadi negara maju. Itu bisa terpulang bagi kita kalau kita be-kerja keras. Dalam lima belas tahun kedepan kita akan berada pada posisi strong economy, ekonomi yang kuat dan adil. Sementara politik dan demokrasi kita akan berada pada posisi stabil dan matang. Sebuah bangsa itu akan terus berkembang manakala peradabannya tinggi: pengetahuannya maju, politiknya baik, good society, tradisinya juga baik, dan seterusnya. Kita harus bekerja sangat keras de-ngan cara lebih bersatu, dengan visi dan kepemimpinan, bersama-sama untuk menuju ke keadaan tersebut. Itulah potensi kita, dan sekaligus peluang. Kita punya potensi sumber daya energi dan juga pertanian yang luar biasa. Tinggal bagaimana kita menjadikan semua itu menjadi industri, bukan hanya komoditas dagang semata, tapi industri, hulu, hilir, dengan teknologi, sumber daya manusia, dan policy yang tepat, sehingga dengan demikian kita memiliki keunggulan kompetitif, bukan hanya komparatif. Kalau itu bisa kita bangun tahun ini, maka pada tahun-tahun kedepan, lima tahun atau sepuluh tahun, semua itu akan menjadi kontributor utama untuk menuju strong and just economy, ekonomi yang kuat tapi juga adil. Saya percaya penuh, dan arah kita ke sana. Oleh karena itu, kalau ini diimbangi dengan politik dan demokrasi yang lebih matang, dimana bangsa ini lebih bersatu, kemudian memajukan ilmu pengetahuan atau elemen utama dari peradaban kita, maka meskipun saya tidak menyebut bahwa pada abad 21 kita menjadi negara adidaya, tapi kita akan menjadi negara besar. Kita pun sekarang sudah di G20, meskipun masih banyak masalah, seperti korupsi, birokrasi yang belum beres, kurangnya infrastruktur, hukum yang kadang-kadang tidak tegak benar. Pertumbuhan kita tertinggi di ASEAN dan juga tinggi di G20. Saya yakin, kalau semua kita beresi, kita bikin benar dengan semangat dan keyakinan, maka kita akan menjadi negara besar, big power, major power yang tentu menjadi harapan dan cita-cita kita semua. Salah satu ideologi serta paham saya dalam ekonomi, adalah ekonomi yang kuat dan adil. Sebagaimana disebutkan dalam Pancasila, ada keadilan sosial. Saya bukan penganut paham kapitalisme, apalagi yang fundamental, tapi juga bukan sosialisme, komunisme. Saya mengambil jalan tengah, dan patokan saya adalah keadilan sosial yang ada dalam Pancasila. Manakala semua berpikir seperti itu, maka semuanya akan menjadi tenteram. Ada perusahaan-perusahaan besar dan perkebunan-perkebunan yang juga besar. Kalau kemajuan, pertumbuhan, benefit atau profit yang diperoleh oleh perusahaan dan perkebunan yang besar itu juga dirasakan oleh semua, maka semua akan menjadi bagian dari pertumbuhan, pergerakan, dan kemajuan itu. Oleh karena itu, secara strategis, saya tidak ingin business as usual, bisnis yang biasa-biasa saja. Meskipun memang maju tapi majunya lambat, maka itu untuk pertumbuhan ekonomi dan investasi, kita melakukan percepatan dan perluasan di bawah MP3EI. Pada intinya, dalam 15 tahun mendatang kita akan meningkatkan investasi dan pertumbuhan agar ekonomi nasional bergerak untuk rakyat. Tetapi, itu belum cukup, dalam.15 tahun ke depan kita juga harus mempercepat dan memperluas upaya pengurangan kemiskinan. MP3EI dan MP3KI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pengurangan Kemiskinan di Indonesia) harus pararel. Demikian juga dengan Pemerintah, du-nia usaha dan daerah. Dengan demikian, dipastikan bahwa rakyat, local communities, ketika bekerja, berada dalam pertumbuhan ekonomi yang makin baik ke depan, dia juga akan ikut terangkat. Apakah dia sebagai petani, nelayan, buruh atau pekerja. Oleh karena itu, saya mengembangkan kebijakan, dimana saya minta dunia usaha untuk tidak meninggalkan masyarakat lokal. Mereka harus diajak dan dijadikan pendorong untuk pertumbuhan perusahaannya, sehingga nanti kalau ada hasil dan keuntungan, juga dapat dirasakan oleh semua. Saya menyeru kepada seluruh pemimpin daerah: gubernur, bupati, walikota yang setiap harinya menangani itu, mengeluarkan izin dan mengambil keputusan, jangan lupa untuk membawa serta masyarakat lokal dalam pertumbuhan itu. Strategi yang saya pilih sejak tahun 2005 adalah pro-pertumbuhan. Kalau ekonomi tidak tumbuh, maka tidak mungkin kita bisa meningkatkan kese-jahteraan rakyat. Yang kedua, pro-lapangan pekerjaan, dan kemiskinan serta pengangguran terus turun meskipun kita harus bekerja lebih keras lagi. Yang ketiga, pro-pengurangan kemiskinan. Dan dengan adanya climate change sekarang ini, mulai tahun 2009, saya tambah satu lagi, yaitu pro-environment, atau pro-lingkungan. Jadi, secara nasional strategi kita seperti itu, demikian juga dengan daerah dan dunia usaha, semua juga harus bisa mengimplementasikan pada wilayahnya masing-masing. (Sumber: Biro Pers, Media, dan Informasi, Sekretariat Presiden). |
| Last Updated on Sunday, 17 June 2012 17:16 |




