Current Issue Februari 2017

Diplomasi Ekonomi Secara Total

DALAM MELAKSANAKAN DIPLOMASI EKONOMI KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI MELAKSANAKAN TUGAS SECARA TOTAL. SEMUA PELUANG YANG ADA HARUS DIOPTIMALKAN, SELURUH KEGIATAN DAN HUBUNGAN BAIK DENGAN BERBAGAI PIHAK DI LUAR NEGERI, HARUS DIMANFAATKAN SECARA BAIK DAN MAKSIMAL. KEMENLU AKAN MEMANFAATKAN HUBUNGAN DAN KERJA SAMA YANG TELAH BERJALAN BAIK DENGAN NEGARA-NEGARA SAHABAT UNTUK MEMAKSIMALKAN DIPLOMASI EKONOMI.

Sebanyak 132 Perwakilan RI di luar negeri akan menjadi ujung tombak bagi diplomasi ekonomi Indonesia. Hubungan baik dalam bidang sosial budaya juga bisa menjadi pemicu bagi hubungan lainnya yang saling menguntungkan, seperti misalnya perdagangan, investasi, dan pariwisata. Semua itu akan membawa implikasi ekonomi bagi hubungan kerjasama bilateral yang baik dengan Negara sahabat.

Kementerian Luar Negeri akan menerjemahkan hubungan baik yang berjalan selama ini dengan negara-negara sahabat untuk diarahkan pada kerjasama ekonomi yang konkrit. Pemerintah tidak bisa berjalan sendiri, melainkan harus bersinergi dengan dunia usaha dalam pengembangan ekonomi. Ketika misalnya Pemerintah melakukan kerja sama memberikan bantuan kerja sama teknis di bidang pertanian kepada suatu negara, tentunya kita akan mengirim produk-produk dalam negeri kita, apakah itu berupa traktor, pupuk, bibit dan produk-produk lainnya. Semestinya produk-produk yang kita kirim tersebut menjadi suatu kebutuhan di negara-negara yang kita bantu.

Dengan demikian maka bantuan kerjasama teknik membuka pasar produk Indonesia di negara yang kita bantu tersebut. Ada istilah yang mengatakan ‘tak kenal maka tak sayang, tak sayang maka tak cinta’. Melalui program bantuan teknis itu sebenarnya pemerintah sudah melakukan pengenalan produk-produk dalam negeri. Selanjutnya tinggal bagaimana melakukan maintenance terhadap hal ini. Apakah dunia usaha kita siap untuk melayani permintaan dari negara bersangkutan. Kemudian apakah kita udah siap untuk mengatasi hambatan persoalan pembayaran apabila negara bersangkutan tidak memiliki cukup sumberdaya untuk bisa melakukan pembayaran.

Terkait hal itu, pemerintah sudah melakukan kerja sama dengan Bank Exim. Jadi pendekatannya adalah kerja sama yang komprehensif, melibatkan semua stakeholder, karena pemerintah tidak bisa melakukannya sendirian.

Dalam hal ini juga termasuk program lembaga aggregator yang bertujuan untuk membantu para pelaku UMKM agar bisa berkiprah di pasar internasional. Jika ada UMKM dari Indonesia yang mengikuti kegiatan pameran, dan kemudian mendapatkan respon yang bagus berupa pemesanan produk dalam jumlah besar, maka lembaga aggregatorakan membantu jika UMKM bersangkutan menemui kesulitan dalam memenuhi pesanan tersebut.

Kesulitan itu bisa berupa kurangnya modal kerja, sempitnya waktu pengiriman, terbatasnya kapasitas produksi dan lain sebagainya. Pemerintah telah menunjuk PT Sarinah sebagai salah satu aggregator. Jika terdapat kendala dan kesulitan yang dihadapi oleh UMKN untuk bertransaksi ke luar negeri, maka PT Sarinah yang akan melakukan kontak dengan produsennya. Kalau UMKM yang menjadi produsen produk itu mampu memenuhi permintaan tersebut dengan baik dan tanpa hambatan, maka hal itu sepenuhnya diserahkan kepada UMKM bersangkutan. Tapi jika UMKM itu tidak mampu memenuhi permintaan tersebut, PT Sarinah akan menawarkan bantuan untuk dikerjakan bersama. Apa yang menjadi hambatan akan dicarikan bagaimana solusinya.

Dalam diplomasi ekonomi memerlukan yang namnya “Indonesia Incorporated” agar peluang yang ada tidak lepas begitu saja. Karena jika pelaku usaha kita tidak mampu memenuhi permintaan tersebut maka pihak buyerakan memesan kepada pihak lain. Tentunya segala cara bisa dapat dimanfaatkan sebagai upaya peningkatan diplomasi ekonomi, termasuk program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI). Setelah ditempatkan di berbagai daerah di Indonesia selama kurang lebih 3 bulan, para peserta program BSBI ini bisa menjadi Friends of Indonesiadan menjadi agen kita di luar negeri.

Selama berada di Indonesia, mereka akan memperoleh pengalaman, tidak saja berupa pengalaman dan pengetahuan di bidang seni dan budaya Indonesia, tetapi juga di bidang pariwisata, bahasa, busana, dan kuliner Indonesia. Mereka bisa dimanfaatkan untuk melakukan ‘getok tular’, deret ukur atau multiplayer effect dalam hal pengenalan Indonesia di luar negeri, karena mereka memiliki keluarga, kerabat, dan juga teman. Kalau bisa, ketika kembali ke negaranya masingmasing, mereka membawa oleh-oleh berupa produk busana dan kuliner Indonesia. Karena mereka adalah bibit-bibit yang nantinya bisa mempromosikan produk-produk Indonesia.

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Kategori

Edisi Terbaru

Edisi Terbaru

Facebook Page