Februari 2017 Preivous Issue

Indonesia Bidik Pasar Prospektif

Promosi produk Indonesia pada Autoshop 2016 di Riyadh, Saudi Arabia

Sebagaimana prinsip dalam dunia usaha atau kegiatan bisnis, suatu negara bisa berdagang dan menjalin hubungan bisnis dengan negara mana saja dan yang terletak dimana saja, maka oleh karena itu semua kawasan dan negara-negara yang potensial bisa digarap

Namun demikian ada wilayah-wilayah atau negara-negara di dunia ini yang memang menjadi kekuatan ekonomi utama, seperti misalnya AS, Tiongkok, Jepang, dan Singapura. Negaranegara tersebut memang menjadi tujuan ekspor utama Indonesia selama ini, dan itulah yang disebut sebagai ‘pasar tradisional’ bagi Indonesia. Belakangan, Indonesia tidak hanya menggarap pasar tradisional tersebut saja, tapi juga sudah mulai menggarap potensi-potensi dan peluang-peluang baru. Di satu sisi, selama ini Indonesia memang sudah terbiasa atau memiliki orientasi pasar ke negara-negara ekonomi utama tersebut, dimana sebagian besar ekspor Indonesia ditujukan kesana saja. Demikian juga dalam hal mencari sumber investasi, dimana sebagian besar investasi di Indonesia berasal dari negara-negara ekonomi utama tersebut.

Peringkat pertama dalam hal besarnya nilai investasi di Indonesia, sekarang ini berasal dari Singapura, disusul kemudian oleh Jepang, Korea dan AS. Tapi perekonomian dunia saat ini telah mengalami pergeseran kekuatan yang terjadi dari satu wilayah ke wilayah yang lain dan dari satu negara ke negara yang lain. Di sisi lain juga terjadi kelesuan ekonomi dalam bentuk perlambatan pertumbuhan ekonomi, termasuk di Tiongkok yang merupakan mesin utama peningkatan perekonomian dunia.

Indonesia harus mencermati hal ini, karena pada satu sisi Indonesia memiliki target untuk memperluas pasar ekspor dan sumber investasi, serta meningkatkan arus wisatawan asing yang berkunjung ke Indonesia. Karena itu pemerintahan Presiden Joko Widodo sekarang ini menekankan kembali untuk menggarap pasar-pasar baru, dimana ada yang menyebutnya sebagai ‘pasar non-tradisional’ dan ada juga yang menyebutnya dengan ‘pasar prospektif’.

Dan beberapa kawasan yang dianggap sebagai ‘pasar prospektif’ itu diantaranya adalah Afrika, Timur Tengah dan Amerika Selatan Latin. Secara historis dan politis, Afrika lebih dekat dengan Indonesia dan memiliki peluang yang sangat besar. Saat ini, nilai perdagangan Indonesia dengan negaranegara di Afrika relatif masih sangat kecil, demikian juga dengan negara-negara di Timur Tengah, padahal mereka mengimpor sedemikian banyak produk dari berbagai negara. Sebetulnya produk-produk Indonesia memiliki beberapa keunggulan, baik dalam bentuk barang manufaktur, pakaian, makanan, peralatan bermesin, komponen elektronik dan sebagainya. Namun Indonesia memang harus lebih intensif untuk meningkatkan nilai perdagangannya dengan negara-negara di kawasan Afrika, Timur Tengah dan Amerika Latin.

Tidak kurang dari itu, Menlu RI juga telah melakukan kunjungan kerja ke beberapa negara Afrika Sub Sahara dengan melibatkan sektor BUMN dan swasta nasional, diantaranya adalah dari sektor perbankan, yaitu Bank Exim.  Hal ini dilakukan dalam upaya mengatasi hambatan pada sistem pembayaran. Berbagai peluang yang ada di kawasan Afrika Sub Sahara memang harus bisa dimanfaatkan dengan baik dan maksimal oleh Indonesia, karena itulah Indonesia kemudian mencari cara-cara baru atau terobosan-terobosan baru agar peluang pasar yang ada tidak tersia-siakan.

 

Kementerian Perdagangan
Republik Indonesia
Jl. M.I. Ridwan Rais, RT.14/
RW.2, Gambir, Kota Jakarta
Pusat, DKI Jakarta 10110

Kategori