Current Issue Mei 2017

Kemlu dan CfDS UGM Pertemukan Para Pakar untuk Bahas Strategi Diplomasi Digital RI

Perkembangan teknologi dan digitalisasi telah memengaruhi dinamika politik luar negeri dunia, termasuk aktor-aktor yang terlibat di dalamnya. Hal ini turut mengubah strategi pemerintah dalam menentukan kebijakan luar negeri Indonesia. Merespons fenomena dan perubahan ini, Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia mengadakan Experts Meeting on Digital Diplomacy yang bekerja sama dengan Center for Di gital Society (CfDS) Fisipol UGM pada Rabu, 17 Mei 2017.

Acara ini secara  khusus membahas tantangan dan peluang perkembangan teknologi informasi dan komunikasi dalam membantu diplomasi Indonesia. Menurut Wakil Menteri Luar Negeri RI, AM. Fachir, dalam pidato  pembukanya, diplomasi harus mampu menjawab tantangan-tantangan digital. Dunia digital mengubah partisipan, mendorong semangat  keterbukaan dan transparansi.  Perkembangan digital juga telah menciptakan sumber informasi baru dan tantangan paradox of plenty. Menurut Wamenlu RI, diplomasi harus mampu merebut ruang informasi publik dan menyajikan informasi secara cepat, tepat dan benar.

Harapan yang sama  disampaikan oleh UGM dan CfDS, selaku lembaga akademik yang turut berkontribusi memberikan edukasi tentang perkembangan teknologi digital. Menurut Direktur Eksekutif Center for Digital Society, Dr. Nanang Pamuji Mugasejati pada sesi pleno, dengan adanya aspek digital maka efisiensi strategi diplomasi pun semakin memungkinkan. Begitu juga apabila dilihat dari aspek pengoptimalan anggaran diplomasi. Pertemuan yang berlangsung di Fisipol UGM ini dibagi menjadi dua sesi, yakni sesi pleno dan sesi working group yang terdiri dari tiga kelompok. Masing-masing working group membahas tentang konseptualisasi diskursus, evaluasi, dan masa depan diplomasi digital Republik Indonesia.

Adapun pertemuan ini diikuti sekitar  30 pakar di bidang diplomasi dan teknologi informasi komunikasi dan lebih dari 100 praktisi yang terdiri pengamat, konsultan, akademisi, para ahli di bidang teknologi informasi komunikasi, public figure, dan diplomat asing dari negaranegara sahabat. Hasil diskusi tiap working group akan dirangkum menjadi rekomendasi kebijakan yang diserahkan ke Kemlu RI, melalui perwakilannya, Azis Nurwahyudi, Sekretaris Ditjen Informasi dan Diplomasi Publik Kemlu RI. Rekomendasi kebijakan ini secara khusus akan menjadi rujukan Kemenlu RI dalam memetakan kebijakan diplomasi digital. Ke depannya diharapkan lebih banyak diplomat dan Duta Besar yang memanfaatkan kemajuan teknologi memaksimalkan pencapaian kepentingan nasional Indonesia di masa yang akan datang.

 

Kategori