Current Issue Mei 2017

Dialog Lintas Agama Indonesia – Myanmar Peran Pemimpin Agama Dalam Mempromosikan Toleransi dan Harmoni

Dialog lintas agama dan budaya telah menjadi salah satu komitmen Indonesia dalam mempromosikan dan mendorong tercapainya “Harmony between Civilizations”. Penyelenggaraan dialog semacam ini penting untuk memelihara perdamaian, keharmonisan sosial, pembangunan berkelanjutan, dan kemakmuran. Dialog diharapkan dapat menjadi alat untuk mempromosikan dan melindungi Hak Asasi Manusia(HAM) dalam membangun negara yang demokratis, yang memiliki keberagaman agama dan budaya.

Indonesia dan Myanmar mempunyai kesamaan dimana kedua negara memiliki penduduk dengan agama dan budaya yang beragam. Indonesia memiliki lebih dari 350 etnis, sedangkan Myanmar memiliki 135 etnis. Selain itu, kedua negara juga memiliki warisan budaya yang serupa.Dengan kesamaan yang ada, akan mudah bagi sebuah dialog untuk menjadi sarana berbagi pandangan dan pengalaman kedua negara, salah satunya di bidang perlindungan HAM terkait dengan keberagaman agama dan budaya.

Indonesia dan Myanmar dapat saling berbagi pengalaman best practicies tentang sejumlah kegiatan yang mencerminkan toleransi dan keharmonisan antar umat beragama di kedua negara serta pelaksanaan dialog lintas agama diantara komunitas di Myanmar. The 1stIndonesia-Myanmar Interfaith Dialogue (IMID) merupakan salah satu hasil dari pertemuan bilateral antara Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, Retno Marsudi dengan Menteri Luar Negeri Republik Uni Myanmar, Daw Aung San Suu Kyi di Myanmar pada 21 Desember 2016.

Menurut Menlu Retno dalam pertemuan dengan Menlu Suu Kyi, “Dalam masalah inklusifitas, semua masyarakat memiliki hak dan kewajiban yang setara dalam kegiatan lintas agama dan budaya. Selain itu, keamanan dan stabilitas dalam pembangunan negara dapat dijadikan sebagai penyelesaian dari konflik komunal.”Melalui pertemuan bilateral tersebut, Indonesia berkomitmen untuk terus memberikan dukungan terhadap Myanmar dalam membangun pemerintahan yang baik dibidang demokrasi dan penegakan HAM.

Dialog ini merupakan suatu mekanisme inovatif untuk mempromosikan pluralisme dan toleransi serta memberikan landasan bagi pemimpin agama dan masyarakat sipil di Indonesia dan Myanmar untuk bersama-sama meningkatkan hubungan lintas agama dan budaya, memerangi prasangka buruk antar sesama, dan membangun kondisi yang kondusif untuk perdamaian jangka panjang. The 1st IMID diselenggarakan di Jakarta dan Yogyakarta pada tanggal 21-24 Mei 2017.

Acara diawali dengan courtesy call kepada Menteri Luar Negeri dan Kementerian Agama di Jakarta. Kegiatan dialog diselenggarakan di Yogyakarta, dibuka oleh Duta Besar Salman Al Farisi Staff Ahli Hubungan Antar Lembaga, Kementerian Luar Negeri, kemudian dilanjutkan dengan kunjungan lapangan ke berbagai tempat peribadatan di sekitar Yogyakarta di hari berikutnya. Dalam rangkaian acara tersebut, delegasi Myanmar akan dipertemukan dengan para pemimpin agama, akademisi, dan anggota organisasi lintas agama dari Indonesia.

Hal ini bertujuan untuk mendorong dialog dan pemahaman terhadap agama dan budaya.The 1st IMID dihadiri oleh sekitar 20 orang yang terdiri dari delegasi Myanmar, delegasi Indonesia, serta para peserta aktif antara lain para Biku dari Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga Boyolali, Kantor Wilayah Kementerian Agama Yogyakarta, serta para Pejabat Kementerian Luar Negeri dan Kementerian Agama Republik Indonesia. Delegasi dari Myanmar yang turut berpartisipasi pada the 1st IMIDadalah Mr. Khin MaungTu, Member of Board of Trustees, Shwe Dagon Pagoda; Mr. Tha Nyan, General Secretary, Interfaith Group of Myanmar; dan Mr. Nyunt Maung Shein, President of the Islamic Religious Affairs Council.

Sedangkan delegasi dari Indonesia adalah Bapak Suhadi Sanjaya sebagai perwakilan tokoh agama Buddha; Bapak Dr. Jozet M.N. Hehanusa, Th.M, tokoh agama Kristen; Bapak Ida Bagus Agung, tokoh Agama Hindu; dan Fatimah Hossen, tokoh agama Islam. Hasil dari kegiatan ini adalah pemberian beasiswa kepada para tokoh agama Buddha di Myanmar untuk dapat belajar di Sekolah Tinggi Ilmu Agama Buddha Smaratungga Boyolali dan UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di tahun 2018, penambahan 1 jumlah peserta Myanmar pada Beasiswa Darmasiswa dan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI), serta rencana penyelenggaraan Indonesia-Myanmar Youth Camp for Future Faith Leaders yang akan fokus pada hubungan antar agama di tahun 2018.

 

 

Kategori