Juni 2017 Preivous Issue

Kisah Warga Negara Asing yang Tertarik Mempelajari Bahasa Indonesia

Bahasa Indonesia adalah bahasa nasional dan bahasa persatuan bagi bangsa Indonesia. Sejak dideklarasikan pada Sumpah Pemuda tanggal 28 Oktober 1928, Bahasa Indonesia telah menjadi pemersatu bangsa multikultur yang memiliki 707 bahasa daerah ini.

Di tingkat global, bahasa Indonesia memang belum menjadi bahasa internasional yang digunakan dalam forum-forum resmi dunia seperti halnya bahasa Inggris, Bahasa Spanyol atau Bahasa Perancis. Meskipun demikian, minat orang luar negeri dalam mempelajari bahasa Indonesia mengalami peningkatan yang cukup signifikan dalam dua dekade terakhir.

Berdasarkan data yang diperoleh dari Pusat Pengembangan Strategi dan Diplomasi Kebahasaan (PPSDK) pada Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa yang merupakan salah satu unit di Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, terdapat 251 lembaga di 22 negara yang aktif menyelenggarakan program Bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) pada tahun 2016 lalu. Jumlah tersebut tidak termasuk yayasan, sekolah dan universitas yang membuka kelas bahasa Indonesia secara swadaya atau di luar kerjasama dengan PPSDK.

Orang-orang luar negeri yang mempelajari bahasa Indonesia berasal dari berbagai kalangan usia dan pekerjaan serta dilandasi oleh tujuan yang berbeda-beda. Seperti halnya orang Indonesia yang mempelajari bahasa asing, tentu ada banyak pengalaman unik yang dialami oleh orang luar negeri ketika mereka mendalami bahasa Indonesia. Berbekal rasa penasaran untuk mengetahui hal tersebut, penulis melakukan wawancara tertulis dengan enam orang luar negeri yang telah dan sedang belajar bahasa Indonesia.

Tiga orang diantaranya adalah pemenang Lomba Pidato Bahasa Indonesia untuk Penutur Asing yang diselenggarakan oleh kantor Atase Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia pada tahun 2016 yaitu Amy Brueck (Amerika Serikat), Taiki Fujita (Jepang) dan Christoph Bracks (Jerman).

Tiga orang lainnya adalah peserta program Explore Indonesia untuk Siswa Berprestasi tahun 2016 yang diselenggarakan oleh Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan yaitu Andrew Howes (Australia), Ly Rita (Kamboja) dan Mohamed El-Fouly (Mesir).

Bersama dengan 36 orang pemenang lomba serupa dari negara-negara lainnya, Amy, Taiki dan Christoph diundang ke Indonesia untuk mengikuti Upacara Peringatan Hari Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-71 di Istana Merdeka dan berwisata budaya di Yogyakarta pada bulan Agustus lalu.

Sementara Andrew, Rita dan Fouly bersama 27 peserta lainnya dari 15 negara mendapat kesempatan untuk belajar budaya Indonesia selama dua minggu di Jakarta dan Yogyakarta. Mereka juga merasakan tinggal bersama keluarga Indonesia sebagai host family dan mengikuti kegiatan belajar-mengajar di sekolah menengah atas di Yogyakarta.

Berdasarkan wawancara tertulis tersebut, penulis menemukan sejumlah hal menarik dan beragam tentang proses belajar ahasa Indonesia oleh orang luar negeri, sebagaimana dirangkum pada beberapa poin di bawah ini.

Awal Mula Berkenalan dengan Bahasa Indonesia

Seperti yang disebutkan sebelumnya, bahasa Indonesia diajarkan di beberapa institusi pendidikan di luar negeri dan menjadi salah satu pilihan kelas bahasa asing bagi siswa. Di Lyneham High School Australia yang setara dengan sekolah menengah pertama di Indonesia, Andrew harus menentukan satu bahasa asing yang akan dipelajari. Andrew akhirnya memilih bahasa Indonesia daripada bahasa Jepang atau bahasa Perancis karena ia melihat bahwa pengajar Bahasa Indonesia di sekolahnya adalah guru yang pintar dan baik hati.

Hal serupa juga dilakukan oleh Christoph yang mengambil bahasa Indonesia sebagai pilihan kelas bahasa asing selain bahasa Arab ketika ia berkuliah tentang Kajian Islam di Universitas Koeln, Jerman. Pilihan lainnya adalah bahasa Turki atau bahasa Persia.[]

 

(Sumber:  kompasiana Gentur Adiutama)

 

Kategori