Juni 2017 Preivous Issue

Menlu Retno di Oslo Forum: Perdamaian Itu Mungkin Dicapai

Menlu Retno L.P. Marsudi berbicara di Oslo Forum, Oslo (13/6). (foto: BDSP)

Di tengah pesimisme dan ketidakpastian global, Menlu Retno L.P. Marsudi menegaskan bahwa perdamaian adalah sesuatu yang mungkin dicapai. Pernyataan ini disampaikannya ketika berbicara pada Oslo Forum 2017 bertema ‘Peacemaking in a new era of geo-politics’, di Oslo (13/6).

Menlu Retno memberikan contoh mengenai ASEAN, yang menurutnya masih dapat memberikan kontribusi bagi perdamaian dan kesejahteraan kawasan Asia Tenggara.

“Salah satu kesuksesan ASEAN adalah terpeliharanya culture of dialogue and culture of equality [budaya dialog dan persamaan, red],” ungkapnya di Oslo Forum, satu ajang diskusi politik-keamanan prestisius, yang membahas berbagai upaya mediasi dan resolusi konflik dan membangun perdamaian.

Budaya dialog ini, lanjutnya, semakin lama semakin hilang dalam hubungan internasional saat ini, sehingga kita melihat banyak konflik terjadi.

ASEAN tidak hanya mengembangkan budaya dialog di antara anggotanya, namun juga dengan para mitra, termasuk negara-negara besar melalui ASEAN-led mechanism. ASEAN juga dinilai sukses dalam meningkatkan kesejahteraan kawasan Asia Tenggara.

“ASEAN telah mampu menciptakan ekosistem kesejahteraan. Rata-rata pertumbuhan ekonomi ASEAN (4.7%) berada di atas rata-rata pertumbuhan ekonomi dunia (3.1%),” kata Menlu Retno.

Keberhasilan ASEAN di masa mendatang akan sangat ditentukan, paling tidak, oleh tiga hal yaitu ancaman persaingan geopolitik; penanganan trans-national organized crimes; dan kesatuan serta sentralitas ASEAN.

Menlu Retno adalah salah pembicara utama dalam Oslo Forum 2017. Beberapa Menlu yang juga hadir adalah Menlu Bosnia, Menlu Kanada, Menlu Sudan, Menlu Kolumbia, Menlu Slovakia, Menlu UE, Menlu Iran dan Menlu Kroasia. Hadir pula, mantan Menlu Amerika Serikat, mantan Sekjen PBB, Kofi Annan, mantan Menlu Selandia Baru dan beberapa tokoh-tokoh penting think tank.

Di forum ini, Indonesia mendapatkan penghargaan karena peran aktif yang dimainkan dalam membantu penyelesaian berbagai macam masalah dan perbedaan. Indonesia juga dihargai karena sebagai negara Muslim terbesar di dunia dan negara demokrasi ketiga terbesar di dunia.

Menlu Retno menggunakan kesempatan saat menghadiri di Oslo Forum untuk melakukan sejumlah pertemuan bilateral antara lain dengan Menlu UE, Menlu Sudan, Menlu Slovakia, mantan Menlu AS dan Menteri Informasi Myanmar.[]

Kategori