Current Issue Juli 2017

Sanggar Studio Tydif, Surabaya : Perkenalkan SenI, Budaya, Keunggulan Lokal dan Karakter Masyarakat jawa tIMur

Tahun 2010 awal yang membanggakan bagi kami saat terpilih diantara sanggar-sanggar tari di Surabaya untuk mendapat kesempatan bergabung di program BSBI (Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia). Tydif Art Center adalah salah satu dari 4 sanggar yang direkomendasikan Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Surabaya untuk diajukan sebagai pembina pada program BSBI. Pada awalnya kami sebagai sanggar yang memiliki banyak kegiatan dan kesibukan dengan latihan, pementasan, berproses kekaryaan tari merasa sangat terbebani karena harus membina pemuda pemudi asing dalam berkesenian, hal ini lebih tepatnya kami katakan sebagai bentuk tugas pada negara. Inilah yang dapat kami lakukan untuk Bangsa dan Negara agar kami dapat menjalankan program ini dengan baik. Seiring dengan berjalannya waktu ternyata kami yang awalnya terbebani berubah menjadi menikmati sebuah kebersamaan, kekeluargaan, saling belajar banyak hal mulai dari intropeksi diri sampai mendapatkan pengalaman hidup yang sangat berarti.

Tidak terasa 7 tahun sudah keterlibatan kami pada program BSBI ini, setiap tahun dalam waktu 3 bulan merupakan sebuah perjuangan untuk memberikan yang terbaik pada peserta tidak hanya memperkenalkan seni, budaya, keunggulan lokal daerah, karakter masyarakat juga berbagai macam interaksi yang menyenangkan di kalangan anak muda. Menyatukan karakter yang berbeda dari berbagai bangsa bukan hal yang mudah tetapi disitulah letak keunikannya. Tydif Art Center sebagai salah satu pembinaan berlokasi di Surabaya yang metropolis kadangkala kurang diminati orang asing, hal tersebut sebagai tantangan bagi kami. Tidak hanya memperkenalkan Kota Surabaya tetapi juga keunggulan beberapa daerah di Jawa Timur. Walau dalam 3 bulan hanya beberapa daerah
di luar Jawa Timur yang kami perkenalkan, tetapi sangat membuat mereka senang.

Pada awalnya, biasanya peserta tertarik melihat sajian tarian dan film yang kami tampilkan pada presentasi tetapi kurang berminat berada di kota metropolis. Untuk itu, kami membuat program kegiatan yang ada keterlibatannya dengan Pemkot Surabaya, mengikuti agenda kegiatan Disbudpar Kota Surabaya. Kami juga menambahkan program Socio Culture yaitu 1 minggu peserta berada di luar daerah Surabaya, di kota kecil berkumpul dengan masyarakat,
berlatih tari dan music bersama kelompok musik daerah. Beberapa tahun ini kami bekerjasama dengan Pemda Pamekasan melalui Sanggar Musik Putra Meonk.

Dalam 3 bulan, yang awalnya kurang tertarik, di bulan pertama kami mencoba eksplorasi untuk mengenal karakter dan apa keinginan mereka untuk berada di program ini, bulan ke-2 kami mulai mengenal satu sama lain, bahkan peserta mencoba mengikuti rutinitas kita dan saling berinteraksi untuk mencoba menyatukan diri. Pada akhirnya
di bulan yang terakhir kami sama-sama tidak ingin terpisahkan karena kami sama-sama tahu susah bagi kami untuk bisa bertemu lagi dengan terbentangnya samudera, lautan bahkan benua. Program BSBI ini memiliki keunikan tersendiri tidak hanya pemberian materi seni dan budaya, tetapi juga belajar pemahaman karakter bangsa yang
berbeda.

Peserta yang kebanyakan non muslim kadangkala bisa menilai masyarakat muslim di Indonesia, yang menurutnya berbeda seperti yang mereka dengar di negara lain. Muslim di Indonesia baik dan terbuka untuk menerima perbedaan seperti itu anggapannya.

Kategori