Current Issue Oktober 2017

ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2017

Wakil Menteri Luar Negeri, Abdurrahman Mohammad Fachir secara resmi membuka kegiatan “ASEAN Youth Interfaith Camp” (AYIC) 2017 di Universitas Pesantren Tinggi Darul Ulum (Unipdu), Jombang, Jawa Timur, pada 28 Oktober 2017 pagi. AYIC 2017 adalah bagian dari rangkaian kegiatan Peringatan 50 (lima puluh) tahun berdirinya Association of South East Asian Nations (ASEAN), dan merupakan kegiatan pemuda ASEAN pertama yang diadakan di pesantren.

Dalam pelaksanaanAYIC 2017 kali ini, Direktorat Jenderal Kerja Sama ASEAN, Kemenlu bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Jombang dan Pusat Studi ASEAN Unipdu, Jombang. Untuk menyebarluaskan informasi dan kegiatan ASEAN, Kemenlu bekerja sama dengan lembaga/institusi pendidikan di seluruh Indonesia melalui pembentukan Pusat Studi ASEAN (PSA). Saat ini, telah terdapat 46 Pusat Studi ASEAN di seluruh Indonesia. Kegiatan AYIC 2017 mengusung tema “Tolerance in Diversity for ASEAN and World Harmony” . Menurut Wakil Menlu AM Fachir, tema ini berkaitan erat dengan semboyan Indonesia “Bhineka Tunggal Ika” yang berhasil membingkai keberagaman di Indonesia menuju persatuan. Untuk itu, lanjut AM Fachir, dialog antar agama berperan penting dalam menghadapi salah satu tantangan dunia yang terus berkembang seperti ancaman radikalisme dan terorisme.

Akhir-akhir ini sering terjadi konflik perbedaan di berbagai belahan dunia yang mengatasnamakan agama, suku dan ras yang berpotensi mengganggu kestabilan keamanan, termasuk di kawasan Asia Tenggara. Oleh karena itu, sikap toleransi perlu ditanamkan kepada seluruh lapisan masyarakat, terutama kepada para pemuda sebagai generasi penerus dan agen perubahan. AYIC 2017 bertujuan untuk mencegah intoleransi dan radikalisme; menyediakan akses informasi yang terkait dengan perbedaan praktik agama dan toleransi di ASEAN kepada para pemuda; dan memperkenalkan toleransi dalam keberagaman di Indonesia.

Dalam sambutannya AM Fachir memaparkan bahwa sebagai seorang santri, ia ingat betul bagaimana pesantren telah mengajarkan dirinya menjadi seorang yang moderat, toleran dan menjalani hidup yang seimbang. Bekerja keras untuk dunia tapi juga ingat beramal untuk akhirat. “Itulah kunci untuk mencapai ketentraman, resep untuk hidup tenang”, ujar AM Fachir. Lebih lanjut AM Fachir menyampaikan bahwa masyarakat dalam Komunitas Sosial-Budaya ASEAN adalah jantung dari Komunitas ASEAN secara keseluruhan. Dan dalam hal ini para pemuda ASEAN berperan penting dalam menjaga perdamaian dan stabilitas di kawasan serta membawa masyarakat ASEAN menuju kemakmuran. Hal tersebut memerlukan saling pengertian yang hanya bisa dicapai melalui dialog. “Dengan semangat inilah, Indonesia telah berinisiatif untuk memajukan dialog lintas-agama sebagai ciri khas diplomasi. Untuk itulah, saya ingin menggunakan kesempatan ini untuk mendorong Anda sekalian menjadi duta perdamaian dan toleransi” ujar AM Fachir.

Kegiatan AYIC 2017 berlangsung pada tanggal 28-30 Oktober 2017 dan diikuti oleh 150 pemuda dari 21 negara, yaitu Indonesia, Kamboja, Brunei Darussalam, Laos, Malaysia, Filipina, Viet Nam, Thailand, Singapura, Jepang, Pakistan, Madagaskar, Lithuania, Maroko, Mesir, Hongaria,  Amerika Serikat, Tanzania,  Korea Selatan, Libya, Belanda, dan Inggris. AYIC 2017 merupakan forum interfaith dialogue bagi para pemuda ASEAN yang difasilitasi melalui kegiatan international conference; cultural perfomance; dan field trip ke berbagai tempat ibadah di Jombang, diantaranya Masjid, Gereja, Patung Budha Tidur, dan Pagoda Hong San Kiong. Kegiatan ini merupakan salah satu bentuk pengajaran kepada para peserta mengenai pentingnya menghormati dan menghargai perbedaan agama. Berbagai tempat ibadah tersebut menunjukkan keharmonisan dan kerukunan antar umat beragama yang ada di Indonesia.

Keharmonisan dan perdamaian merupakan modal utama bagi kawasan untuk menuju kesejahteraan, sebagaimana yang dicita- citakan dalam visi Masyarakat ASEAN 2025. Kegiatan AYIC 2017 menghasilkan Jombang Declaration on Youth Tolerance dan Action Plan. Deklarasi ini merupakan tindak lanjut dari rekomendasi para Pemimpin ASEAN dan juga pandangan para pemuda peserta AYIC 2017 untuk berkontribusi dan bekerjasama dalam memerangi  paham dan gerakan radikal  yang mengatasnamakan  agama yang mengakibatkan  ketidakstabilan keamanan. Deklarasi ini juga sebagai  bentuk dukungan para  pemuda peserta AYIC 2017  untuk meningkatkan toleransi  diantara umat beragama serta  masyarakat meskipun berbeda  suku, ras maupun etnis.

Kota Jombang Kota Jombang memiliki  motto “Jombang Kota Beriman”,  dan sesuai dengan mottonya  tersebut, Kota Jombang sarat  dengan nuansa agamisnya.  Hal ini terlihat dari banyaknya  bangunan-bangunan Masjid dan sejumlah majelis santri  serta pondok pesantren di  beberapa tempat. Dengan banyaknya pondok  pesantren di Jombang, telah  menjadikan kota ini terkenal  dengan sebutan Kota Santri.  Bahkan Jombang dipercaya  sebagai Pusat Pesatren di Jawa  karena hampir seluruh pendiri  pesantren di Pulau Jawa pernah  menjadi santri di Jombang.  Beberapa pondok  pesantren yang cukup terkenal  di Jombang, diantaranya:  Tebuireng, Tambak Beras, Denanyar, dan Pesantren Tinggi  Darul Ulum. Kota Jombang  juga telah melahirkan beberapa  tokoh muslim terkenal, seperti  KH Wahid Hasyim (Pahlawan  Nasional), KH Abdulrrahman  Wahid (Presiden RI ke-4),  Nurcholis Majid (cendikiawan)  dan Cucuk Espe (seniman).

Sebagai salah satu kota  strategis yang berada di  persimpangan jalur lalu lintas  Utara dan Selatan Pulau Jawa  dengan tebu sebagai komoditas  utama hasil pertanian,  Jombang terpilih menjadi tuan  rumah kegiatan ASEAN Youth  Interfaith Camp (AYIC) 2017  yang berlangsung pada tanggal  28-30 Oktober 2017 di kampus  Universitas Pesantren Tinggi  Darul Ulum (Unipdu). AYIC 2017 adalah salah satu  kegiatan yang dilaksanakan  dalam rangka merayakan  HUT ASEAN yang ke-50.  Dan dipilihnya pondok  pesantren Unipdu sebagai  tempat pelaksanaan AYIC 2017  adalah karena Indonesia ingin  menyampaikan kepada dunia  sebuah cerminan kehidupan  damai suatu masyarakat yang  majemuk di negara dengan  populasi muslim terbesar di  dunia.

Diharapkan melalui  interaksi antara peserta  AYIC dan para santri di  Jombang akan tumbuh rasa  saling pengertian, sehingga  terciptalah suasana dunia yang  damai, stabil dan tangguh.  Kegiatan AYIC  2017 dilaksanakan bertepatan  dengan perayaan Hari Sumpah  Pemuda dan dibuka secara  resmi oleh Wakil Menteri  Luar Negeri RI serta ditutup  oleh Menteri Sosial RI. Hadir  dalam kegiatan ini beberapa  pejabat tinggi negara lainnya  seperti Wakil dari Kementerian  Koordinator Bidang Politik,  Hukum dan HAM yang memberikan paparan  terkait resolusi konflik dan  perdamaian di Indonesia. Di  akhir acara, Wakil Presiden  RI juga menyampaikan  pandangannya mengenai  indahnya keberagaman di  Indonesia.

Dalam kegiatan ini, para  pemuda dari negara anggota  ASEAN dan mitra ASEAN berdiskusi dan berdialog mengenai bagaimana membangun  toleransi di tengah keberagaman agama melalui tiga subtema yaitu tolerance, balance dan moderate. Dan selama berada di Jombang, para peserta AYIC 2017 diberikan
kesempatan untuk merasakan kehidupan sebagai santri. Kegiatan pemuda lintas  agama di Kota Santri ini diharapkan dapat menumbuhkan  saling pengertian antar agama  sebagai cikal bakal terciptanya  kawasan yang damai, stabil dan  tangguh. Kegiatan ini juga diharapkan semakin mengukuhkan  peran pesantren dalam upaya
membangun perdamaian di  kawasan ASEAN dan dunia  internasional, karena peranan  pondok pesantren saat ini tidak  bisa dianggap sebelah mata.

Saat ini, pondok pesantren  mendapat perhatian khusus  dari Presiden Joko Widodo. Hal  ini terlihat dari seringnya Pres- iden Joko Widodo melakukan  kunjungan ke pondok pesantren, serta ditetapkannya Hari  Santri Nasional pada tanggal 22 Oktober 2017. Hari Santri merupakan mo mentum pengakuan sekaligus penghargaan negara atas per an santri, kyai dan pesantren  yang telah berkontribusi besar  bagi negara, terutama dalam  memperjuangkan kemerdekaan  Indonesia. Hal ini sebagaimana  pernah dikatakan oleh Douwes  Dekker dalam bukunya: “Kalau tidak ada kyai dan pondok  pesantren, maka patriotisme  bangsa Indonesia sudah hancur  berantakan”.

 

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017