Current Issue Oktober 2017

Festival Europalia, Menampilkan Wajah Indonesia di Eropa

\

atung kayu Sigale-gale hampir seukuran manusia berbusana adat Batak lengkap dengan kain Ulos menjadi salah satu artefak yang mengisi ruang pameran seni Indonesia bertema “Ancestors and Ritual” di Brussel, Belgia. Patung Sigale-gale yang diyakini memiliki hubungan dengan leluhur masyarakat Batak ini biasa ditemukan terpajang di depan rumah tradisional warga Pulau Samosir di Sumatera Utara.Sigale-gale bersama ratusan artefak kuno lainnya dari berbagai daerah di Indonesia ditampilkan pada festival seni dan budaya “Europalia Arts Festival” yang pada tahun ini Indonesia mendapat kehormatan sebagai “tuan rumah”.

Saat menghadiri pembukaan festival ini, Raja Philippe dan Ratu Mathilde tampak serius mengamati setiap koleksi yang ditampilkan dan dengan seksama mendengarkan
penjelasan dari ahli sejarah tentang setiap artefak yang dipamerkan. Selain itu juga dipamerkan patung pahat kayu Ana Deo dari Flores, patung manusia Tau-Tau dari Tana Toraja hingga patung batu Sarkofagus dari Minahasa yang berfungsi memandikan jenazah. Sebanyak 40 ribu ton koleksi Museum Nasional telah diboyong ke pameran ini untuk memampilkan wajah Indonesia di Eropa.

Festival Europalia kali  ni berlangsung dari tanggal 10 Oktober 2017 sampai 21 Januari 2018 dan digelar di 45 kota di tujuh negara Eropa, diantaranya di kota Antwerpen, Leuven, Gent, Brusel, Amsterdam, Denhaag, Krakow, Berlin dan London. Selama pameran juga digelar 290 ata acara yang didukung oleh 316 artis seniman musik Indonesia, diantaranya Kande dari Aceh, Rahayu Supanggah dan Garasi Seni Benawa, Salawat Dulang dan Saluang Dendang, Wayang Hip Hop dan penampilan Ikke Nurjanah, Tesia Manaf sertapertunjukkan musik lawas “ 60’s & 70’s Indonesian Rock & Roll Night” diLondon. Selain itu, pameran juga menghadirkan sejumlah penulis Indonesia ternama untuk berdiskusi, antara lain Ayu Utami, Zubaidah Djohar, Intan Paramaditha, dan Tan Lioe Le. Tidak ketinggalan, film-film buah karya sineas besar Indonesia seperti Garin Nugroho, Mira Lesmana, Nia Dinata, Riri Riza  dan Mouly Surya juga  turut diputar pada pameran ini dengan menampilkan kurator film Nan Achnas. Dubes Indonesia untuk UNESCO, Fauzi Soelaiman, yang hadir pada acara pembukaan pameranini menyampaikan penghargaannya atas keberhasilan Indonesia sebagai tuan rumah festival kali ini dengan menampilkan pagelaran yang terbaik di depan Raja dan Ratu Belgia.

Wajah Indonesia yang berwarna-warni, rancak, memukau pengunjung yang berdecak  agum ketika menyaksikan Tari Saman, salah satu seni tari dari Aceh yang tercatat di  NESCO sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia di tahun 2011. “Saya berharap donesia akan menjadi tujuan utama warga Eropa untuk berlibur setelah diperkenalkan dalam Festival Europalia,” ujar Dubes Fauzi. Pembukaan Festival Europalia 2017 ini dimeriahkan dengan pertunjukan senibudaya Indonesia sehingga pengunjung pameran dimanjakan dengan kekayaan seni tari Indonesia, diantaranya tari Topeng Losari, Suara Papua, dan ditutup dengan tari Saman Gayo Lues yang mendapat sambutan meriah dari para penonton. Kehadiran Indonesia sebagai tuan rumah pada Festival Europalia 2017 ini telah menjadikan Menlu Retno Marsudi merasa bangga. Lebih lanjut Menlu Retno mengatakan bahwa  penyelenggaraan Festival Europalia ini

 

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017