Current Issue Oktober 2017

Indonesia Desak Masyarakat Internasional Atasi Akar Masalah Arus Pengungsi

Jenewa, Swiss: Komisi Tinggi PBB untuk Pengungsi (UNHCR) menggelar Thematic Discussion ke-5 prosespenyusunan Global Compact on Refugee di Jenewa, Swiss (15/11). Wakil Tetap Republik Indonesia pada PBB di Jenewa, Duta Besar Hasan Kleib, menekankan bahwa masyarakat internasional harus ambil bagian mengatasi masalah arus pengungsi. Menurut Hasan, masalah arus pengungsi kebanyakan berasal dari negara asal, baik itu masalah keamanan, ekonomi, HAM, atau kebebasan fundamental.Hasan menambahkan, “Meskipun masyarakat
internasional perlu terus mengatasi arus pengungsi melalui pemulangan secara sukarela ke negara asal, pemukiman kembali di negara ketiga, maupun reintegrasi di negara transit, namun di lain pihak masyarakat nternasional juga perlu tetap mengupayakan terciptanya jalur migrasi internasional yang aman, teratur dan berdasarkan aturan hukum.”

Dalam pertemuan tersebut, Dubes Hasan Kleib menguraikan di hadapan para delegasi negara-negara anggota PBB mengenai tujuan dan berbagai capaian Bali Process yang diketuai bersama oleh Indonesia dan Australia, sebagai institusi regional di kawasan Asia Pasifik yang berfokus pada pencegahan dan pemberantasan penyelundupan manusia dan perdagangan orang serta kejahatan lintas-negara terkait lainnya Meskipun mandat dari Bali Process berfokus pada penanganan penyelundupan manusia dan perdagangan orang, namun Bali Process juga berperan alam pembangunan kapasitas, keahlian, serta kerja sama dan jejaring di kawasan.

Hal ini telah membantu kesiapan kawasan dalam penanganan migrasi irreguler, khususnya pengungsi dan pencari suaka, serta mendorong terbentuknya jalur migrasi yang aman dan teratur di kawasan Asia Pasifik. Oleh karena itu, Hasan menegaskan bahwa praktik dan pengaturan kerja sama regional dalam kerangka Bali Process dapat menjadi model bagi erangka
penanganan pengungsi secara komprehensif dan program aksi pada Global Compact for Refugees. Hasan yang menjabat sebagai ketua Bali Process periode 2012–April 2017 tersebut secara khusus diundang oleh UNHCR untuk menjadi panelis dan memaparkan peran dan kontribusi Bali Process dalam penanganan masalah pengungsi secara komprehensif.

UNHCR juga melihat peran dan kepemimpinan Indonesia di kawasan untuk atasi persoalan migrasi internasional yang aman. Diskusi panel menghadirkan panelis yang terdiri dari sejumlah perwakilan organisasi regional yaitu ECOWAS, African Union, Organization of American States,  Liga Arab, dan Bali Process.Kegiatan diskusi tematik yang dihadiri oleh negara-negara anggota PBB dan organisasi internasional pemangku kepentingan terkait, bertujuan untuk menjaring berbagai masukan negara-negara dan pemangku kepentingan internasional dalam menyusun Global Compact on Refugee, yang akan terdiri dari dokumen Comprehensive Refugee Response Framework (CRRF)  dan Programme of Action, sebagai pendukung implementasi CRRF.  Dijadwalkan pada bulan Februari 2018, UNHCR telah dapat menyelesaikan konsep awal dokumen Global Compact on Refugee ini untuk dikonsultasikan kembali  dan disepakati oleh negara-negara anggota di Sidang Majelis Umum PBB bulan September 2018.

 

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017