Current Issue Oktober 2017

Indonesia Menjadi Negara ASEAN Pertama Jadi Tuan Rumah Festival Europalia

Bertempat di Center for Fine Arts Brussels (Bozar), Rue Ravenstein, Brussels, Belgia pada tanggal 17 Oktober 2017, telah diselenggarakan pembukaan pameran Europalia bertajuk Power and Other Things (POT). Pameran ini akan berlangsung hingga tanggal 21 Januari 2018. General Commissioner  Europalia Indonesia, Ibu Shanti esposoetjipto yang mewakili Indonesia pada pembukaan pameran tersebut menyampaikan harapan agar pameran dapat diapresiasi secara positif dan keterlibatan berbagai seniman dari Indonesia adalah untuk membawa karya terbaik
bangsa Indonesia untuk dapat dipahami secara lebih positif. Pembukaan pameran ini
dihadiri sekitar 300 undangan yang terdiri dari para seniman, pekerja seni Belgia, jurnalis setempat dan diliput oleh koresponden TV One, Metro TV, dan Tempo yang berbasis di Eropa.

Pameran POT ini menjadi pameran kedua yang ditampilkan di Bozar setelah pameran yang pertama bertajuk “Ancestors and Rituals” dibuka pada tanggal 10 Oktober 2017 dan dikunjungi khusus pertama kali oleh Raja dan Ratu Belgia serta Wapres RI dan Ibu Mufidah Jusuf Kalla. Pembukaan pameran di Bozar ini merupakan bagian dari tradisi Festival Europalia sejak pertama kali diselenggarakan pada tahun 1969 dimana Italia menjadi negara tamu festival tersebut.

Indonesia merupakan negara tamu pertama dari ASEAN dan negara kelima di Asia yang menjadi negara tamu di festival ini setelah sebelumnya Jepang (1989), China (2009), India (2013) dan Turki (2015). Sebanyak 21 perupa dari Indonesia dan Eropa menampilkan karyanya dalam pameran yang menampilkan karya seni rupa mulai dari periode 1835 hingga sekarang.

Masa kolonialisme Belanda dan Jepang, kedudukan perempuan dan imigrasi adalah beberapa hal yang diangkat oleh para seniman untuk memberikan pemahaman mengenai Indonesia dari sisi kontemporer. Kurator pameran, Riksa Afiaty dan harles Esche memaparkan bahwa pameran ini diawali dengan karya tiga perupa abad ke-19 yakni Raden Saleh, Jan Toorop, dan Emiria Sunarsa. Raden Saleh adalah pelukis pertama Indonesia yang meninggalkan negaranya dan menerima pendidikan Eropa diBelanda. Ia kemudian kembali ke Indonesia untuk memahami identitas gandanya.

Jan Toorop adalah pelukis kelahiran Indonesia yang hijrah ke Belanda tetapi terus berhubungan dengan negaranya. Sedangkan Emiria Sunarsa menghabiskan seluruh masa hidupnya di Indonesia setelah sempat tinggal di Brussels. Lukisan dan sketsa karya para seniman tersebut yangdipamerkan di pameran ini merupakan koleksi Istana Kepresidenan, Galeri Nasional Indonesia, OHD Museum, Galeri Nasirun, dan S.Sudjojono Center.

Pameran ini juga menampilkan karya instalasi baru dari para perupa lintas generasi Indonesia, diantaranya FX Harsono, Agung Kurniawan, Mella Jaarsma, Saleh Husein, Maryanto, Antariksa, Dea Aulia Widyaevan, Leonardiansyah Allenda, Lifepatch, Timoteus Anggawan Kusno dan Octora Chan. Secara teknik, para perupa Indonesia  ersebut juga sudah mumpuni jika disandingkan dengan para perupa Eropa, karena itu para penikmat seni yang datang ke pameran ini akan disuguhkan pesatnya kemajuan perkembangan seni rupa Indonesia, sehingga pameran ini dapat menjadi ajang diplomasi budaya melalui karya-karya yang ditampilkan.

Salah satu mata acara penting dalam rangkaian pameran POT ini adalah simposium internasional bertajuk “Lupa Lupa Ingat: Imperial Zombies, Modern Vampires and Contemporart Ghosts” yang diselenggarakan di Royal Museum for Central Africa, Brussels pada tanggal 19 Oktober 2017. Simposium ini membahas ssejarah konflik di Indonesia danbagaimana kaitannya dengan sejarah pasca kolonialisme. Simposium juga menggali lebih dalam pemahaman mengenai seni modern dan kontemporer di Indonesia dan internasionalisasinya. (Sumber : KBRI Den Haag)

 

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017