Current Issue Oktober 2017

Menlu RI : Berkontribusi Dalam Menjaga Perdamaian Telah Menjadi bagian Dari DNA Indonesia

Menteri Luar Negeri, Retno LP Marsudi, padatanggal 27 Oktober 2017  menyampaikan pidato kunci dalam seminar internasional bertajuk “Building Indonesia’s Civilian Capacity and Its Role in Sustaining Peace” di Gedung Pancasila, Kementerian Luar Negeri, Jakarta. Seminar ini diselenggarakan dalam rangka
memperingati hari disahkannya UN Charter yang menandai berdirinya Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tanggal 24 Oktober 1945.

Dalam pidatonya, Menlu Retno menyampaikan bahwa berkontribusi dalam menjaga
perdamaian telah menjadi bagian tak terpisahkan dari DNA Indonesia. Amanah
Pembukaan UUD 1945 ini diantaranya diwujudkan dengan mengirimkan pasukan
perdamaian. “Indonesia merupakan salah satu negara yang menjadi kontributor terbesar dalam Pasukan Perdamaian PBB,” ujar Menlu Retno. Sampai saat ini, Indonesia tercatat telah mengirimkan lebih dari 2.800 personel yang bertugas di 9
daerah misi. Di antara ke-2.800 personel tersebut, terdapat 64 personel perempuan.
Berdasarkan pengalaman, negara yang baru keluar dari konflik sering menghadapi
permasalahan dalam mempertahankan perdamaian di wilayahnya. Hal ini disebabkan oleh kurangnya sumber daya manusia yang dibutuhkan untuk menopang perdamaian seperti guru, dokter, perawat, insinyur, serta penyusun kebijakan.

“Dalam hal ini, SDM  yang memiliki kapasitas dan pengalaman di bidang bina-damai pasca-konflik (post-conflict peacebuilding) dapat melengkapi personel militer  dan polisi,” kata Menlu Retno. Indonesia telah mengumpulkan berbagai pakar sipil, tamanya dalam bidang dialog dan rekonsiliasi, demokrasi dan good governance, hukum, serta perkembangan inklusif dan merata. Menlu Retno menegaskan bahwa
Indonesia berkomitmen untuk terus berkontribusi dalam pengiriman kapasitas sipil tersebut demi mempertahankan perdamaian.

Salah satu kontribusiIndonesia dalam hal peningkatan kapasitas sipil adalah Resolusi Sidang umum PBB tahun 2012 tentang kapasitas sipil yang dimotori oleh Indonesia dan Kanada. Resolusi tersebut menekankan antara lain kepemilikan nasional terhadap
pembangunan institusi, pembangunan kapasitas sipil nasional, dan mobilisasi  kapasitas negara berkembang. Di sela-sela pelaksanaan Sidang Umum ke-72 PBB di
New York, Amerika Serikat, baru-baru ini, Indonesia dan Norwegia menginisiasi
Kerja Sama Selatan-Selatan Triangular untuk mendukung pembangunan di negara-negara pasca-konflik.

Di akhir pidatonya, Menlu Retno menegaskan kembali pencalonan Indonesia sebagai
anggota tidak tetap Dewan Keamanan PBB periode 2019- 2020. Dengan menjadi bagian dari DK PBB, Indonesia akan mampu berkontribusi lebih besar lagi bagi perdamaian dunia. “I count on your support for Indonesia’s candidacy in the UNSC,” ujar Menlu Retno menutup pidatonya. Seminar ini dihadiri oleh berbagai kalangan dan perwakilan PBB serta kedutaan negara sahabat di Indonesia. Selain untuk merayakan UN Day ke-72, seminar ini juga bertujuan untuk meningkatkan kesadaran publik mengenai kemitraan Indonesia dan PBB, khususnya dalam agenda peace
and security.

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017