Current Issue Oktober 2017

Seminar IORA dan Peran Indonesia sebagai Maritime Gateway Timteng ke Pasifk

Potensi kerja sama Indonesia dengan negara-negara Timur Tengah sangat besar. Baik dalam kerangka bilateral, regional maupun internasional. Dalam kerangka IORA, Indonesia menjalin kerja sama dengan 3 anggota IORA, yaitu PEA, Oman, dan Yaman. Hal itu disampaikan Sunarko, Direktur Timur Tengah, pada Seminar Indian Ocean Rim Association (IORA) dengan tema: “IORA dan Peran Indonesia sebagai Maritime Gateway Timur Tengah ke
Pasifik” di Universitas Lampung (13/11).

Sunarko menambahkan, saat ini terdapat 3 prioritas utama Indonesia di kawasan Timur Tengah, yaitu politik dan keamanan; ekonomi, perdagangan dan investasi; dan perlindungan WNI. “Hubungan dan kerja sama Indonesia-Timur Tengah terus meningkat. Ditandai dengan meningkatnya kunjungan antar Kepala Negara dan pejabat tinggi, baik dari Indonesia maupun dari negara mitra. Kunjungan tersebut menghasilkan sejumlah komitmen, antara lain investasi di bidang infrastruktur, energi dan pariwisata. Pada tahun 2017, Indonesia menerima kunjungan kenegaraan Raja Arab Saudi dan Emir Qatar,” papar Sunarko.

Acara Seminar IORA kali ini diselenggarakan oleh Direktorat Timur Tengah dan Direktorat Kerja Sama Intra Kawasan Asia Pasifik dan Afrika – Kementerian Luar Negeri, bekerja sama dengan Universitas Lampung (Unila). Seminar bertujuan untuk melakukan diseminasi hasil-hasil keketuaan Indonesia di IORA periode 2015-2017 serta peran IORA dalam memperkuat kerja sama antara Indonesia dan negara-negara Timur Tengah. Seminar dibuka secara resmi oleh Rektor Unila, Prof. Dr. Ir. Hasriadi Mat Akin, dan dihadiri oleh Dekan FISIP Unila, Dr. Syarief Makhyar, 120 orang mahasiswa FISIP Lampung, khususnya program studi hubungan internasional (HI), dekan, dosen dan civitas akedimika Unila. Hadir sebagai narasumber, Direktur Timur Tengah, Sunarko, Pejabat Fungsional Madya KSIA Aspasaf, Asa Silalahi, serta Dosen Jurusan HI FISIP Unila, Iwan Sulistyo dan Gita Karisma. Bertindak sebagai moderator, Aman Toto Dwijono Kepala Jurusan/Program Studi HI Unila.

Dalam sambutannya, Rektor Unila menjelaskan pentingnya kerja sama di bidang kemaritiman. Utamanya untuk pengembangan jalur logistik. “Tema seminar IORA hari ini sangat tepat. Sudah saatnya Indonesia meningkatkan peranannya di kawasan Pasifik sebagai maritime gateway Timur Tengah,” kata Rektor Unila. Ditambahkan oleh Rektor, kiranya Indonesia dapat membangun pelabuhan-pelabuhan internasional yang didukung dengan industri-industri kemaritiman. Sementara Asa Silalahi, Pejabat Fungsional Madya KSIA Aspasaf, menyampaikan dalam paparannya bahwa Samudera Hindia dan Samudera Pasifik adalah “halaman depan” bagi Indonesia.

Banyak otensi kerja sama yang dapat dikembangkan Indonesia dalam kerangka IORA. Keketuaan Indonesia di ORA periode 2015-2017 dimanfaatkan untuk meletakkan landasan-landasan strategis bagi penguatan kerja sama antar negara Samudera Hindia ke depan. Narasumber berikutnya, Iwan Sulistyo dalam paparannya menekankan pentingnya IORA dalam isu-isu keamanan laut/maritim. Penting bagi IORA untuk berkontribusi dalam mencegah
dan memerangi isu-isu keamanan transnasional yang banyak melewati jalur Samudra Hindia dan Samudra Pasifik. Selanjutnya, narasumber Gita Karisma menekankan IORA sebagai organisasi regional yang dapat dimanfaatkan untuk memperkuat kerja sama bilateral Indonesia di bidang perdagangan melalui peningkatan ekspor makanan dan tekstil, produk-produk bersetifikat halal.

Ditekankan bahwa masih terdapat sejumlah tantangan IORA sebagai sebuah organisasi, utamanya isu-isu konflik antar anggota.Kegiatan seminar berlangsung dengan lancar dan mendapat respons positif dari peserta seminar, terlihat dari antusias peserta dalam sesi diskusi dan tanya jawab. Peserta seminar mengharapkan kiranya partisipasi Indonesia di IORA benar-benar dapat dioptimalkan untuk mengembangkan kerja sama yang berguna bagi pembangunan nasional Indonesia. Di akhir acara, Kepala Program Studi HI menyampaikan kembali terima
kasih kepada Kemenlu atas dipercayanya Unila sebagai tempat penyelenggaraan kegiatan Seminar. Di masa mendatang, besar harapan kiranya Kemenlu dapat menggelar kegiatan serupa karena memberikan manfaat bagi pengembangan wawasan mahasiswa dan civitas akademika Unila

 

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017