Current Issue Oktober 2017

Wapres Jusuf Kalla Raih Benevolence Award dalam WECS 2017

ianggap berjasa dan banyak memberikan kontribusi dalam upaya penyelesaian konflik dan perdamaian, Wapres RI Jusuf Kalla dianugerahi penghargaan “Benevolence Award” oleh ASEAN Strategy and Leadership Institute (ASLI), sebuah lembaga kajian yang berbasis di Malaysia. Penganugrahan penghargaan itu dilaksanakan dalam Gala Dinner dan malam penyerahan penghargaan yang dilaksanakan dalam “The 9th World Chinese Economic Summit (WCES) 2017” di Hong Kong, Senin (13/11).

Acara yang dihadiri oleh Deputi Perdana Menteri Malaysia ini diikuti oleh lebih dari 300 perwakilan pemerintah dan swasta dari sekitar 30 negara. Dalam pengantar penyerahan penghargaan, Chairman ASLI Tan Sri Dr. Jeffrey Cheah menyebutkan bahwa sebagai bagian dari WCES, pihaknya memberikan penghargaan bagi para diaspora Tiongkok yang dianggap berjasa dan berkontribusi dalam kepemimpinan di berbagai sektor. “Namun khusus untuk
Benevolence Award ini kami anugerahkan kepada tokoh non-Tiongkok yang juga banyak kontribusinya dalam memimpin masyarakat,” katanya.

Dijelaskan Dr. Cheah, “benevolence” atau kebajikan merupakan konsep utama yang membentuk nilai-nilai moral Konfusianisme yang dianut di Tiongkok. “Kami melihat bahwa hanya dengan dasar nilai-nilai moral kebajikan dan budi pekerti yang luhur seseorang bisa melakukan tindakan-tindakan yang berguna bagi lingkungan masyarakatnya,”  jelasnya. Sementara itu Wapres Jusuf Kalla dalam pidato penerimaan penghargaan yang disampaikan dalam rekaman video menyampaikan terima kasih atas penghargaan ini. “Ini adalah bentuk nyata dari
keinginan kita semua untuk menciptakan dunia yang damai dan sejahtera,” kata Wapres.

Selanjutnya Wapres menyatakan bahwa saat ini dunia tengah menghadapi tantangan sangat besar. “Mulai dari perselisihan di Semenanjung Korea, Laut Tiongkok Selatan dan konflik di Timur Tengah, sampai ke permasalahan kemanusaiaan di Myanmar, masalah pengungsi di Eropa dan kekhawatiran kebijakan AS di bawah Presidennya saat ini,” ungkapnya. Lebih jauh, Wapres juga mengatakan bahwa saat masyarakat dunia tengah memasuki revolusi industri keempat yang ditandai dengan perkembangan pesat dalam bidang kecerdasan buatan, teknologi robotik dan “Internet of Things”. “Sama halnya dengan revolusi industri sebelumnya, revolusi industri keempat ini juga sedikit banyak akan mengubah landscap politik dan ekonomi global,” jelasnya.

Akibat dari perkembangan itu, ungkap Wapres, masyarakat akan menghadapi tantangan baru yaitu pengangguran yang diakibatkan oleh digantikannya tenaga manusia oleh mesin. “Selain itu, dominasi para perusahaan-perusahaan teknologi besar akan mengakibatkan sulitnya perusahaan kecil bersaing,” kata Wapres.

 

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017