Current Issue Oktober 2017

Diplomasi Ekonomi

Kondisi ekonomi global dalam tiga tahun terakhir diwarnai pertumbuhan  3-3,1%. Dengan rendahnya  pertumbuhan perdagangan, banyak negara menerapkan kebijakan proteksionis sehingga meningkatkan resiko dagang dan investasi internasional. Indonesia terus melakukan perbaikan sistem investasi sehingga akhirnya berhasil mendapatkan pengakuan investment grade. Diplomasi ekonomi sangat penting artinya untuk ditingkatkan karena dengan situasi yang belum kondusif maka diplomasi ekonomi perlu ditingkatkan. Salah satunya dengan membuka pasar non tradisional untuk produk-produk Indonesia, terutama ke Afrika, Asia Selatan dan Tengah, serta Amerika Selatan.

Sebagai ilustrasi, pada 2016 terdapat peningkatan perdagangan Indonesia dengan sejumlah negara Afrika : Madagaskar meningkat lebih dari 112%, Chad 207%, Zimbabwe 223%, Gabon 562%, Congo 566%, Zambia 637%, dan Rwanda meningkat menjadi 17 kali lipat. Upaya mendorong kedekatan bisnis Indonesia-Afrika dilakukan dengan meningkatkan intensitas kunjungan,  tidak hanya di tingkat pejabat pemerintah, namun juga pada tingkat swasta. Indonesia telah melakukan perundingan perdagangan dalam kerangka PTA dengan beberapa kelompok ekonomi di Afrika untuk mendapatkan penurunan tarif perdagangan. Tantangan perdagangan dengan Afrika adalah tingginya tarif bagi sebagian produk-produk Indonesia.

Pada tahun 2018 mendatang Indonesia-Afrika Forum (IAF) akan digelar untuk pertama kalinya dengan tujuan untuk mendekatkan interaksi pihak swasta Indonesia-Afrika. Pada 2015, perundingan CEPA telah dilakukan dengan Jepang, Hong Kong, Korea dan Afrika Selatan. Sedangkan Regional Economic Partnership dilakukan dengan 10 negara ASEAN dan 6 negara mitra. Pada 2016, 16 kali perundingan telah dilakukan dengan Uni Eropa. Diplomasi ekonomi telah dilakukan untuk meningkatkan perdagangan pada tahun 2016. Pada 2017 sudah dilakukan 11 kali perundingan untuk menyelesaikan FTA dan CEPA. Perwakilan RI di luar negeri juga terus mendorong partisipasi pengusaha asing dalam Trade Expo Indonesia (TEI).  Pada 2017, transaksi TEI mencapai hampir USD 1 miliar dengan penandatanganan 31 kontrak dagang.

“Mendag menyampaikan terjadi peningkatan transaksi secara signifikan dan menyampaikan terima kasih kepada
Perwakilan dan diplomat Indonesia yang telah membantu diplomasi ekonomi dalam konteks promosi perdagangan dan TEI,” kata Menlu. Tim Pokja Diplomasi Indonesia dan Perwakilan RI telah  memfasilitasi lebih dari 35.000 pelaku usaha Indonesia untuk menangani  informasi yang diperlukan sekaligus mengadakan matchmaking. Satu hal menonjol dalam diplomasi ekonomi adalah upaya untuk memperkuat kemampuan  industri strategis Indonesia.

Indonesia telah berhasil menjual produk industri strategis seperti kereta api PT INKA dan pesawat buatan PT Dirgantara Indonesia.Bangladesh telah membeli sebanyak 400 gerbong kereta api, 150 sudah dikirim dan 250 gerbong yang sudah ditandatangani kontraknya.  Pesawat CN 235 banyak dipakai di beberapa negara Afrika dan  investasi produk-produk Indonesia seperti mie instan di Afrika dan juga di beberapa negara Eropa antara lain di  Serbia dengan total nilai investasi 11 juta USD.

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017