Current Issue Oktober 2017

Tiga Sorotan Utama Diplomasi dan Politik Luar Negeri

MEMASUKI TIGA TAHUN PEMERINTAHAN PRESIDEN JOKO WIDODO, BANYAK PENCAPAIAN YANG TELAH DILAKUKAN OLEH MESIN KEPEMIMPINANNYA. SALAH SATU LANGKAH PEMERINTAH YANG KIAN MENJADI SOROTAN ADALAH UPAYA DARI KEMENTERIAN LUAR NEGERI RI DALAM MENJALANKAN DIPLOMASI DAN POLITIK LUAR NEGERI RI DI DUNIA INTERNASIONAL

Terkait hal tersebut,  Menlu Retno Marsudi  menyampaikan tiga  sorotan utama. “Dari sekian  banyak isu yang telah kami  tangani, ada tiga hal yang  terlihat menonjol dan kian  dipantau oleh masyarakat  luas. Hal pertama adalah krisis  kemanusiaan yang terjadi  di Rakhine. Kedua, bantuan  pemerintah Indonesia untuk  mendukung kemerdekaan  Palestina. Ketiga, diplomasi  perlindungan warga Indonesia  yang berada di luar negeri,” ujar Menlu Retno.  Menyoroti peran nyata  Indonesia dalam mengatasi  krisis kemanusiaan yang terjadi  di Rakhine State, Myanmar,  Menlu Retno mengatakan  bahwa terdapat permasalahan  yang begitu kompleks. Melihat situasi tersebut, pemerintah  Indonesia tidak mau duduk  diam dan hanya berteriak di  tempat, melainkan memilih  untuk menjalankan mesin  diplomasinya. “Informasi terkini yang telah  kami himpun, dalam enam  minggu ini mesin diplomasi  terus berjalan. Indonesia  adalah negara pertama yang  mendatangi Myanmar dan  Bangladesh sejak kondisi  Muslim Rohingya mulai  terancam,” terang Menlu Retno.

Demi mengatasi permasalahan tersebut, Menlu  Retno mewakili pemerintah  Indonesia telah bertemu  dengan pihak Myanmar dan  memberikan Formula 4+1.  Posisi Indonesia dianggap  sebagai jembatan bagi kedua negara untuk saling berdiskusi. Menlu Retno  menyampaikan bahwa sejak  kedatangannya ke Myanmar  dan Bangladesh, sudah  dilakukan tiga kali pertemuan  antara kedua negara untuk  membahas isu tersebut. Capaian lain pemerintah Indonesia dalam menjalankan  diplomasi politik luar negeri  adalah dukungan nyata  RI untuk mewujudkan kemerdekaan Palestina.  Disampaikan oleh Menlu  Retno bahwa Palestina berada  di jantung politik luar negeri Indonesia, dimana disetiap helaan diplomasi RI disitu  selalu ada Palestina.

“Mendirikan konsulat  Indonesia di Palestina adalah  cara terbaik bagi kami untuk  mendekatkan diri dengan warga Palestina,” kata Menlu Retno.

Capaian ketiga adalah  langkah pemerintah untuk  memberikan perlindungan kepada WNI yang tersebar di  luar negeri. Diakui oleh Menlu  Retno bahwa tantangan yang  dihadapi semakin besar, namun  demikian Pemerintah RI terus  menjalankan komitmennya  dengan sepenuh hati. Lebih lanjut Menlu Retno menjelaskan bahwa apabila  WNI menjumpai pemasalahan  ketika berada di luar negeri,  pemerintah telah meluncurkan  mobile save travel, sehingga  dapat meningkatkan kualitas  perlindungan terhadap WNI.

Dalam tiga tahun  terakhir, pemerintah telah  menyelesaikan total 27.341  kasus WNI di luar negeri. Di  antaranya  membebaskan 144  WNI dari ancaman hukuman  mati, melakukan repatriasi  terhadap 181.942 WNI yang mengalami masalah, termasuk  overstayer, serta mengevakuasi 16.426 WNI dari berbagai  wilayah konflik, perang dan  bencana alam. Selain itu, Indonesia juga  berhasil membebaskan 31  sandera WNI dari Filipina dan  Somalia serta mengembalikan  hak finansial WNI yang nilainya  mencapai Rp 388 miliar berupa  gaji yang tidak dibayar oleh  majikan

 

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Oktober 2017

Tabloid Oktober 2017