Desember 2021 Preivous Issue

INDONESIA DALAM JAJARAN RAKSASA EKONOMI DUNIA

Indonesia memegang Presidensi G20 mulai dari 1 Desember 2021 hingga November 2022.  Sebagai informasi, Indonesia memiliki kesempatan pertama kali menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Group of Twenty (G20), sejak didirikannya perkumpulan tersebut pada 1999. Dikutip melalui situs resmi G20 (g20.org), G20 terdiri dari 20 anggota, yaitu 19 negara dan Uni Eropa. Organisasi ini berfokus pada perekonomian dan keuangan global.

Anggota awalnya adalah para menteri keuangan dan gubernur bank sentral. Kemudian setelah krisis ekonomi global pada 2008, para pemimpin negara diikutsertakan. Indonesia menjadi anggota G20 se[1]jak forum internasional tersebut dibentuk pada tahun 1999. Pada saat itu, Indonesia ada dalam tahap pemulihan setelah krisis ekonomi 1997-1998 dan dinilai sebagai emerging economy yang mempunyai ukuran dan potensi ekonomi sangat besar di kawasan Asia.

Mengutip ulasan Kepala Bidang Program Analis Kebijakan, Badan Kebijakan Fiskal Kemenkeu RI Dalyono, rata-rata pertumbuhan ekonomi Indonesia pada periode 1970 hingga 1997 ialah 6,6%. Penduduk Indonesia pada 1997 berada pada kisaran 204 juta, terbesar keempat di dunia setelah Tiongkok, India, dan AS. Fundamen ekonomi Indonesia juga kuat setelah melaku[1]kan reformasi struktural pada periode 1985-1987.

Namun, di atas dari statistik itu, menurut Dalyono, penilaian utama yang menjadikan Indonesia sebagai anggota G20 ialah daya tahan dan upaya kebijakan yang telah dilakukan pemerintah Indonesia dalam menghadapi krisis ekonomi. Pada krisis ekonomi 1997-1998, Indonesia terdampak sangat signifikan. Pertumbuhan pada 1998 turun drastis hingga minus 13,1%, terendah sepanjang sejarah. Inflasi mencapai 77,6% dan tingkat utang menca[1]pai 62% dari produk dometik bruto (PDB).

Berhasil Keluar dari Krisis

Dari sisi moneter, nilai tukar rupiah jatuh sangat dalam. Dari yang semula hanya 2.450/dolar AS pada Juni 1997 menjadi 16.800/dolar AS pada akhir Juni 1998. Meski demikian, dengan komitmen yang kuat dan kebijakan yang tepat, Indonesia berhasil keluar dari jerat krisis. Indonesia menerapkan bauran kebijakan yang menyinergikan kebijakan fiskal, moneter, dan sektor riil.

Pada sisi fiskal, pemerintah memberikan dorongan stimulus melalui pembatasan anggaran untuk meningkatkan kinerja perekonomian. Adapun pada kebijakan moneter, Bank Indonesia melakukan stimulus dengan meningkatkan tingkat suku bunga dan mengembalikan kepercayaan sektor perbankan melalui penutupan dan penggabungan bank serta melikuidasi 16 bank. Pada sektor riil, Pemerintah Indonesia menekankan pentingnya penambahan value added dan penerapan strategi yang lebih terbuka dalam perdagangan bebas.

Pada periode lima tahun pascakrisis, Indonesia berhasil menjaga stabilitas ekonomi makro dengan lebih baik. Ditandai dengan relatif stabilnya tingkat pertumbuhan ekonomi, menurunnya laju inflasi, terkendalinya tingkat suku bunga, relatif stabilnya nilai tukar rupiah, terjaganya cadangan devisa, dan membaiknya ketahanan fiskal. Ketahanan ekonomi Indonesia kembali dibuktikan pada saat krisis global melanda dunia pada 2008- 2009. Fundamen ekonomi Indonesia saat itu sangat jauh berbeda dengan kondisi pada saat menghadapi krisis 1997-1998.

Pertumbuhan Konsumsi Meningkat

Pada saat krisis global, pertumbuhan ekonomi Indonesia berada pada angka 6,1%, tingkat inflasi 11,06%, transaksi berjalan pada angka positif 0,1%, dan utang luar negeri sebesar 29% dari PDB. Indonesia tidak terkena dampak signifikan karena fundamen sektor eksternal, fiskal, dan perbankan cukup kuat. Faktor lain yang juga mendukung ketahanan ekonomi Indonesia ialah tingkat pertumbuhan konsumsi masyarakat yang meningkat. Hal ini terjadi karena adanya peningkatan pendapatan masyarakat akibat kenaikan komoditas ekspor, kenaikan tingkat pendapatan pekerja kelas menengah ke atas, karena kebijakan kenaikan gaji pegawai negeri, juga kebijakan bantuan langsung tunai (BLT) untuk mengompensasi kenaikan harga bahan bakar minyak.

Tanggapan pemerintah Indonesia yang cepat dan tepat dalam menghadapi krisis 1997-1998 dan kembali terujinya ketahanan ekonomi Indonesia pada krisis global 2008-2009 menjadi nilai penting Indonesia untuk dapat berkontribusi aktif di G20. Indonesia memiliki pengalaman berharga yang dapat dibagikan kepada negara lain mengenai strategi mengatasi krisis, menangani dampaknya, dan mengantisipasi agar tidak terulang lagi.

Meskipun negara-negara ASEAN yang lain juga menerapkan kebijakan penanganan krisis yang cukup memadai, seperti Singapura, Thailand, Malaysia, dan Filipina, Indonesia dinilai mempunyai kelebihan ketimbang negara-negara ASEAN lain tersebut. Hal itu juga yang kemudian menjadikan Indonesia sebagai satu-satunya negara ASEAN yang menjadi anggota G20, selain karena ukuran dan potensi ekonomi yang dimiliki.

 Semoga Presidensi G20 Indonesia sekarang berhasil dimanfaatkan sebaik mungkin untuk menyejahterakan warganya, serta menginspirasi warga dunia untuk bangkit dari krisis kesehatan yang telah menyuguhkan dampak signifikan

Don`t copy text!