Desember 2021 Preivous Issue

INDONESIA DORONG DUNIA PULIH BERSAMA

Mulai 1 Desember 2021 hingga setahun ke depan, Indonesia resmi didaulat sebagai Presidensi G20 2022. Peresmian presidensi Indonesia terjadi pada sesi penutupan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) G20 Roma yang berlangsung di La Nuvola, Roma, Italia, pada Minggu, 31 Oktober 2021. Presidensi atau tuan rumah perhelatan G20 ditetapkan secara konsensus pada KTT berdasarkan sistem rotasi kawasan dan berganti setiap tahunnya

Ini kali pertama dalam sejarah Indonesia memegang presidensi (keketuaan) sejak bergabung di forum G20 pada 1999. Kepercayaan yang diberikan kepada Indonesia untuk memegang presidensi tersebut mencerminkan pengakuan atas kepemimpinan Indonesia pada fo[1]rum G20. Karena itu, kesempatan emas selama setahun ke depan ini harus dimanfaatkan seoptimal mungkin bagi kepentingan global maupun domestik untuk menghasilkan berbagai kesepakatan solutif dalam upaya bangkit bersama dari krisis pandemi COVID-19.

Sebagaimana tema yang diusung oleh Presidensi G20 Indonesia, yaitu “Recover Together, Recover Stronger”.

Normalisasi Kebijakan

Kejadian luar biasa pandemi COVID-19 masih menjadi isu utama yang dihadapi negara-negara di dunia. Kepala Departemen Ekonomi CSIS dan Co-Chair Think 20 (T20) Indonesia, Yose Rizal Damuri, sebagaimana dilansir dari media keuangan.kemenkeu.go.id mengatakan pemulihan ekonomi di dunia pasca hantaman gelombang COVID-19 belum berlangsung optimal karena masih terbatasnya akses vaksin COVID-19 di negara miskin dan berkembang. Ada negara-negara yang populasinya sudah mencapai 70 atau 80 persen dalam pemberian vaksin, namun masih ada negara-negara seperti Madagaskar yang hanya sekitar satu persen dari populasinya yang baru mendapatkan vaksinasi secara penuh.

Artinya, pembahasan soal pemulihan ekonomi di negara dengan vaksinasi rendah seperti ini tentu masih akan jauh panggang dari api karena masalah kesehatannya masih belum terselesaikan. Menurut Yose, kompleksitas imbas pandemi tersebut diperparah dengan beban utang negara mi[1]skin dan berkembang yang makin tinggi serta krisis energi akibat re[1]striksi ataupun menurunnya permintaan.[

Kepala Departemen Internasional BI Doddy Zulverdi mengungkapkan hal serupa. Menurut Doddy, negara-negara besar yang memiliki kapasitas fiskal maupun moneter yang besar serta akses vaksin dan pengobatan COVID-19 memadai bisa pulih lebih cepat. Sedangkan negara-negara dengan kondisi sebaliknya tertinggal.

Setelah pulih, negara-negara maju tersebut terdorong untuk mulai menormalisasi kebijakan. Stimulus fiskal dan moneter mulai dikura[1]ngi sehingga terjadi pengetatan. Likuiditas global pun menurun dan suku bunga terdorong naik. Akibat[1]nya, aliran modal ke negara-negara berkembang berkurang. Kondisi fiskal dan moneter negara berkem[1]bang menjadi tidak kondusif.

Sehingga mereka semakin terbela[1]kang dalam pemulihan. Solusi Menghadapi Tantangan Ekonomi Global Presidensi G20 Indonesia 2022 menjadi bagian solutif dari sederet tantangan ekonomi global tersebut. Menurut Doddy, Presidensi Indonesia memberi peluang untuk Indonesia memimpin dunia keluar dari krisis. Indonesia akan mendorong pembahasan topik-topik yang relevan dan esensial dengan kondisi ekonomi global terkini termasuk topik penanganan krisis.

Berarti, langkah Indonesia yang paling penting adalah bagaimana mempercepat proses keluar dari krisis bersama-sama, jadi bukan hanya kepentingan segelintir negara tertentu saja, terutama negara-negara besar yang selama ini perekonomiannya paling dominan di dunia global. Tidak hanya itu, Indonesia juga mampu mendorong peningkatan produktivitas sektor ekonomi.

Sebab, banyak orang kehilangan pekerjaan dan banyak sektor yang sulit untuk bangkit kembali akibat pandemi. Sementara upaya mitigasi risiko munculnya krisis di waktu men[1]datang dilakukan dengan mening[1]katkan ketahanan dan stabilitas. Di samping itu, G20 harapannya juga mampu mendorong inklusivitas untuk pemerataan ekonomi serta menjaga aspek keberlanjutan misalnya melalui penanganan isu-isu lingkungan.

Perhelatan G20 bukan saja berskala besar tapi juga berdurasi panjang yakni hampir sepanjang tahun. Direktur Pembangunan, Ekonomi, dan Lingkungan Hidup Kementerian Luar Negeri, Hari Prabowo mengatakan akan ada 150 lebih per[1]temuan yang diadakan di berbagai kota di Indonesia. Mulai Desember 2021 sampai dengan November 2022 yang terdiri dari pertemuan di tingkat  engagement group,  working group, Deputi, Menteri dan Gubernur Bank Sentral, hingga puncaknya yaitu pertemuan kepala negara/pemerintahan dalam KTT.

Artinya, keberhasilan Indonesia dalam menyelenggarakan presidensi G20 akan menunjukkan kemampuan Indonesia dalam mengelola pertemuan-pertemuan berskala internasional tersebut. Untuk memastikan kesuksesan penyelenggaraan acara, Hari mengatakan ada Standar Layanan Acara yang selaras yang akan diterapkan pada setiap pertemuan sehingga delegasi yang datang akan melewati proses serta memiliki pengalaman yang sama.

Gelaran presidensi G20 Indonesia juga akan mendorong manfaat ekonomi yang nyata bagi perekono[1]mian lokal serta pemulihan sektor pariwisata. Menteri Keuangan, Sri Mulyani Indrawati dalam laman akun instagram miliknya mengungkapkan acara G20 Indonesia berpotensi membuka 3000 lapangan pekerjaan baru dan mendongkrak konsumsi sebesar USD119,2 juta. Hal tersebut akan berkontribusi pada PDB Indonesia sebesar USD533 juta.

Sementara Doddy berpendapat kenduri berskala internasional ini sangat efektif untuk mempromosikan berbagai keunggulan dan kemajuan Indonesia kepada dunia. Baik dari segi resiliensi atau ketahanan ekonomi dari guncangan pandemi maupun dari segi budaya serta pariwisata yang pada akhirnya akan berdampak positif bagi pere[1]konomian nasional. Presidensi G20 Indonesia merupakan kesempatan emas agar Kepemimpinan Indonesia menjadi fokus perhatian dunia. Di samping itu, ini juga sebagai wujud nyata upaya menjaga keadilan sosial di tingkat dunia sebagaimana amanat Konstitusi.[

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Don`t copy text!