April 2009

Indonesia Mengambil Langkah-langkah Tepat Menghadapi Dampak Krisis Ekonomi Global

“Indonesia telah mengambil langkah-langkah yang tepat dengan memberikan bantuan stimulus bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah agar dapat mempertahankan dan meningkatkan produksinya. Bantuan tersebut sebesar 1,4 % dari Produk Domestik Bruto. Hal tersebut agak berlainan dari langkah yang diambil oleh negara besar yang terfokus mendukung bank-bank yang terperosok.”

Dalam sebuah seminar di Universitas Debrecen, Hongaria, Duta Besar Indonesia mengemukakan beberapa langkah penting dalam menghadapi dampak krisis ekonomi dan keuangan global yang menerpa negara-negara berkembang. Krisis yang sedang berlangsung diakui telah mengurangi kemampuan negara-negara maju untuk mengimpor dan karena itu negara-negara sedang berkembang akan kesulitan untuk mempertahankan dan memperoleh pasar.

Duta Besar Mangasi Sihombing mengemukakan menurunnya kegiatan ekonomi dunia jangan dijadikan alasan oleh negara-negara maju untuk menerapkan proteksi terhadap impor dari negara-negara berkembang. Jika hal ini terjadi maka ujung-ujungnya adalah berkurangnya kemampuan negara berkembang mengimpor dari negara-negara maju yang berarti juga merugikan negara-negara maju sendiri.

Duta Besar Indonesia melihat krisis ekonomi global bisa mengancam kebangkrutan negara-negara berkembang apabila ekspor mereka menghadapi jalan buntu sehingga cadangan devisa terkuras habis. Duta Besar Indonesia mengemukakan bahwa pemerintah Indonesia juga mendesak perlunya memperkuat lembaga-lembaga keuangan internasional seperti IMF, World Bank, Asia Development Bank, dan Africa Bank for Development mengingat lembaga-lembaga inilah sebagai sumber keuangan bagi pembangunan negara-negara terutama negara berkembang.

Dalam ceramahnya Duta Besar Indonesia menggarisbawahi bahwa Indonesia telah mengambil langkah-langkah yang tepat dengan memberikan bantuan stimulus bagi perusahaan-perusahaan kecil dan menengah agar dapat mempertahankan dan meningkatkan produksinya. Bantuan tersebut sebesar 1,4 % dari Produk Domestik Bruto. Hal tersebut agak berlainan dari langkah yang diambil oleh negara besar yang terfokus mendukung bank-bank yang terperosok.

Terdapatnya Foreign Exchange Reserves, sekitar 54 milyar USD ditambah dengan SWAP Arrangements dengan negara-negara Jepang, Cina dan Korea dalam jumlah yang cukup besar dapat menjamin kestabilan mata uang rupiah. Hal tersebut akan mampu menghadapi kemungkinan serangan para spekulan mata uang seperti yang terjadi pada tahun 1997.

Ketahanan ekonomi dan keuangan Indonesia juga diperkuat oleh bantuan dari World Islamic Economic Forum dimana sejauh ini pihak-pihak Indonesia telah menandatangani sejumlah persetujuan dengan lembaga-lembaga keuangan mitra di negara-negara sahabat seperti Saudi Arabia, Malaysia dan Dubai dengan menerapkan prinsip usaha syariah. Dalam presentasinya, Duta Besar Mangasi Sihombing memandang sekalipun terdapat dampak dari krisis ekonomi global, Indonesia akan tetap menjadi tujuan investasi manca negara. Berdasarkan kecenderungan peningkatan kunjungan wisata tahun lalu, diharapkan tahun 2009 kunjungan wisman tidak terlalu terpengaruh oleh krisis ekonomi global.

Stabilitas nasional yang ditunjukan dengan semakin mantapnya demokrasi Indonesia ikut memberikan keyakinan bagi investor asing untuk tetap menanamkan modalnya di Indonesia. Demikian dinyatakan Duta Besar Indonesia sambil memaparkan angka-angka investasi yang masuk. Seminar di Universitas Debrecen telah dilansir sejak setahun lalu dan diarahkan untuk mengamati masalah-masalah global yang mempengaruhi tatanan hubungan internasional. Seminar yang berlangsung pada tanggal 26 Maret 2009 telah dihadiri oleh sekurang-kurangnya 400 orang sarjana dan calon sarjana dari berbagai bidang studi termasuk hukum, ekonomi dan politik. Sejumlah pakar telah ikut ambil bagian sebagai penceramah dalam seminar ini termasuk diantaranya para duta besar asing yang berdomisili di Hongaria.

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Don`t copy text!