Januari 2012

Membangun “Digital Bangladesh” Dan Mensintesis Nilai-Nilai Demokrasi Dengan Kemajuan

Membangun “Digital Bangladesh” Dan Mensintesis Nilai-Nilai Demokrasi Dengan Kemajuan


Sheikh Hasina
Perdana Menteri Republik Rakyat Bangladesh

DENGAN tulus hati saya sampaikan terima kasih atas kehormatan yang diberikan kepada saya sebagai Co-Chair pada penyelenggaraan Bali Democracy Forum (BDF) yang pada tahun ini bertema “Enhancing Democratic Participation in a Changing World: Responding to Democratic Voices”. Tema ini sangat tepat pada saat semakin meningkatnya jumlah penduduk dunia yang menuntut demokrasi sebagai bentuk pemerintahan yang mereka sukai. Sementara itu perubahan positif sedang berlangsung, juga penting untuk terus memikirkan cara yang lebih baik guna menjaga pemerintahan yang sudah demokratis benar-benar mewakili harapan rakyat mereka.

Dalam kehidupan kita dunia telah berubah. Jarak telah semakin menyusut, dan yang dahulunya adalah negara yang jauh sekarang telah berubah menjadi tetangga sebelah. Ilmu pengetahuan dan teknologi terus mengubah dunia kita, terutama melalui peningkatan arus informasi dan kemampuan komunikasi. Proses yang disebut globalisasi tidak hanya menghubungkan negara-negara dan masyarakat menjadi semakin dekat, tetapi juga menempa saling ketergantungan ekonomi global dan meningkatnya arus migrasi tenaga kerja. Di luar aspek-aspek positif, globalisasi juga mendatangkan aspek negatif, termasuk perubahan iklim, konflik etnis dan pelanggaran HAM, perdagangan manusia, terorisme dan sengketa air bersih.

Globalisasi tentu saja juga telah melepaskan kekuatan demokrasi dan kebebasan yang didorong oleh kehendak mayoritas seluruh bagian dunia, mencabut rezim yang menindas dan menggantinya dengan yang demokratis. Sudah saatnya bagi negara untuk membuang praktek lama mereka, dan menyambut suara baru kebebasan, demokrasi dan HAM.

Proses ini juga membuka kesempatan bagi semua negara, terlepas dari ukuran populasi dan status ekonomi, agar suara mereka didengar dalam menghadapi tantangan baru dalam dunia globalisasi kita. Kebutuhan partisipasi demokratis yang efektif dalam diskursus global terhadap tantangan yang dibawa dari penyatuan dunia kita, telah ditempa dengan semakin eratnya kerjasama  antar negara melalui berbagai forum dan organisasi regional, multilateral dan internasional. Entitas baru ini telah membuka saluran bagi negara-negara anggota untuk menyuarakan concerns mereka terhadap isu-isu yang mengganggu, dan berbagi pengalaman antara satu negara dengan negara lainnya, mengenai praktek demokrasi yang mengemuka di banyak kasus untuk kemudian di adopsi mana yang paling cocok dengan kebutuhan masing-masing. Pembentukan SAARC telah menyebabkan partisipasi demokratis negara-negara anggotanya menjadi lebih bersatu dalam hal hubungan internasional dan mempromosikan kawasan sebagai global player. Saya yakin negara-negara di Asia Tenggara memiliki pengalaman yang serupa dengan ASEAN.

Jalan menuju demokrasi bagi Bangladesh dimulai pada tahun lima puluhan, ketika Bangabandhu Sheikh Mujibur Rahman, Bapak Bangsa, menyadari bahwa emansipasi ekonomi rakyat kita terletak pada kebebasan politik dan partisipasi demokratis akar rumput. Visinya tersebut segera menggembleng rakyat menjadi sebuah kekuatan yang tak tertahankan, dan Bangladesh lahir sebagai bangsa yang berdaulat pada tahun 1971. Sayangnya, mimpi beliau tentang rakyat yang hidup makmur dalam sebuah “Golden Bangladesh” dipotong oleh pembunuhan terhadap beliau dan 18 anggota keluarga terdekatnya pada 15 Agustus 1975. Hanya adik saya, Syekh Rehana dan saya yang selamat, karena pada saat itu kami berada di luar negeri. Segera setelah itu, sebagai yang tertua dari dua bersaudara, saya berjanji pada diri sendiri untuk dapat memenuhi impian ayah saya.

Menjadikan Bangladesh sebagai negara demokratis yang kokoh dengan berbagai peluang ekonomi yang baik memerlukan sebuah perjuangan yang berat melawan militer dan penguasa militer. Selain itu untuk jangka pendek di tahun 90-an, negara ini telah menderita di bawah pemerintahan otokratis, tidak ada pengaturan kembali agenda pembangunan tahunan dan terkadang hingga satu dekade. Pada satu tahap, saya dikirim paksa ke pengasingan, tetapi keinginan rakyat kita dan goodwill dari masyarakat internasional memastikan saya untuk kembali, bertepatan dengan pemilihan nasional pada 29 Desember 2008. Diakui sebagai pemilihan yang bebas dan adil oleh PBB dan pengamat internasional, pemilu membawa demokrasi ke Bangladesh setelah dua tahun kekuasaan militer. Kemenangan partai kami, Liga Awami mencerminkan keinginan rakyat untuk demokrasi, sekularisme dan “Digital Bangladesh” guna menjawab tantangan masa depan.

Di Bangladesh, kita mendengarkan suara rakyat untuk memperkuat demokrasi melalui kemampuan berpartisipasi yang lebih besar. Membangun “Digital Bangladesh” dan mensintesis nilai-nilai demokrasi dengan tujuan ekonomi melalui penggunaan teknologi modern, memungkinkan kita untuk berusaha menjadi negara berpenghasilan menengah pada tahun 2012, bertepatan dengan peringatan lima puluh tahun kemerdekaan kita.[]  (Sumber : Paparan BDF IV, Nusa Dua, Bali 8-9 /12)
 

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Don`t copy text!