Januari 2012

Patologi dan Ketidakpuasan Demokrasi

Patologi dan Ketidakpuasan Demokrasi

Jejomar C. Binay
Wakil Presiden Republik Filipina

DEMOKRASI mungkin memiliki patologi dan ketidak-puasannya sendiri, tetapi tidak ada bentuk pemerintahan lainnya yang cukup seperti itu. Demokrasi masih merupakan bentuk pemerintahan yang terbaik di dunia. Itulah sebabnya negara non-demokrasi atau yang anti-demokrasi menyebut diri mereka dengan “Demokrasi Rakyat”.

Fakta bahwa pada hari ini kita mendengar protes yang paling keras melawan ketidak-adilan adalah dari yang disebut “99 percent” demokrasi terbesar di dunia yang bisa memancing pertanyaan-pertanyaan khusus tentang manfaat atau kesuksesan demokrasi. Bagi saya, itu tidak berarti bahwa demokrasi yang gagal atau telah gagal.

Ini hanya menunjukkan bahwa bahkan di negara demokrasi terbesar, masih ada banyak ruang untuk menciptakan demokrasi yang ‘lebih lengkap’ atau ‘lebih sempurna’ – atau setidaknya demokrasi yang “sedikit kurang sempurna” untuk mengatasi masalah-masalah yang tampaknya tidak dapat disembuhkan dan telah lama menghantui umat manusia. Tidak berarti bahwa demokrasi adalah obat yang mujarab untuk semua penyakit di dunia. Namun dalam hal tidak adanya obat yang mujarab, mungkin itu adalah hal yang terbaik.

Menurut definisi, demokrasi adalah aturan yang kompleks yang berkaitan dengan mekanisme pemilihan, pemeliharaan atau perubahan pemerintah, penciptaan mayoritas parlemen dan perilaku politik negara. Tapi kita tidak bisa terus di situ. Semua elemen ini penting untuk tidak dipermasalahkan, tetapi secara keseluruhan demokrasi harus berada di atas semua bagian-bagiannya untuk sepenuhnya melayani kebutuhan individu, keluarga, dan masyarakat. Narasi demokratis itu tidak harus berbicara dengan keyakinan dan praktik politik kita sendiri, melainkan harus berbicara keutuhan kita untuk mengkonfirmasi keabsahan dari keberadaan demokrasi kita.

Dalam pengalaman kami, ini adalah cara terbaik untuk meningkatkan partisipasi demokratis dalam dunia yang berubah. Jika demokrasi berarti kekuasaan mayoritas, itu adalah sistem dimana minoritas tidak melulu hanya melakukan apa yang menjadi kepentingan terbaik dari mayoritas, melainkan mayoritas itu sendiri yang melakukan apa yang terbaik untuk diri mereka.

Mereka yang melayani di tingkat akar rumput mengetahui hal ini lebih baik daripada kebanyakan. Mereka membangun struktur demokrasi terkuat dengan memberikan kesempatan sepenuhnya kepada rakyat di level bawah untuk menentukan nasib mereka sendiri. Hal ini saya ketahui dari pengalaman.

Saya menghabiskan 24 tahun pertama kehidupan politik saya dan mencoba untuk mengubah metro Manila yang terbelakang menjadi kota yang nyaman untuk ditinggali, di mana orang bisa memiliki rumah dan pekerjaan yang layak, serta masa depan yang lebih baik bagi semua, hingga anak cucu. Saat ini Makati merupakan kawasan keuangan utama negara, hampir semua kedutaan besar dan konsulat asing serta perusahaan-perusahaan swasta terkemuka di Filipina berada disini. Tapi itu bukan saya yang membangun, melainkan masyarakat Makati, tua dan muda, miskin, kelas menengah dan kaya yang membangunnya. Sebagai wakil presiden dan kaisar perumahan, saya ditugaskan untuk membangun rumah bagi yang membutuhkan, dan saya mencoba untuk melakukannya. Tetapi pada akhirnya, sekali lagi masyarakat sendiri yang melakukannya. Itu hanyalah perspektif lokal. Memiliki perspektif global jauh lebih penting. Saya tidak ragu, saya bukan yang pertama dan juga tidak akan menjadi yang terakhir untuk merujuk ke sana.

Kita tahu bahwa rakyat miskin di dunia adalah yang paling terpukul oleh krisis ini. Namun mereka tidak membuat kesalahan atapun menyebabkan hal itu. Dan mereka tampaknya masih terlalu miskin untuk diizinkan memberikan masukan yang berarti dalam pencarian solusi untuk krisis. Sementara jaring pengaman untuk mengeluarkan beban mereka diberikan kepada perusahaan dan lembaga yang ‘too big to fail’, tampaknya tidak ada upaya serius untuk memastikan bahwa mereka cukup berkonsultasi.

Mereka yang memegang tongkat kekuasaan tidak bisa membiarkan situasi ini tetap berlangsung. Banyak dari mereka yang miskin yang memiliki kesempatan untuk berkontribusi bagaimana krisis ini pada akhirnya akan terpecahkan. Tidak ada minoritas, dan pastinya juga tidak ada mayoritas, itu harus dikeluarkan.

Mengingat fakta bahwa sebagian besar penduduk dunia yang berjumlah 7 miliar sekarang ini tinggal di Asia, dan kekuatan ekonomi global sudah mulai bergeser dari barat ke timur, terlihat cukup jelas bahwa badan-badan internasional, dimana sebagian Asia yang luas tetap kurang terwakili sampai sekarang, akhirnya mengakui dan memberikan nilai yang patut untuk ukuran Asia yang muncul sebagai kawasan yang penting dan kuat.
Ini berarti bahwa mungkin di PBB, negara-negara anggota bisa mulai bekerja serius untuk meng-upgrade representasi Asia secara permanen di Dewan Keamanan. Serta bahwa, di bidang keuangan dan masalah moneter, aturan mungkin bisa direvisi untuk memungkinkan kualifikasi terbaik Asia sebagai salah satu ketua di institusi Bretton Woods yang menjadi dasar sistem keuangan global kita.

Sebagai komunitas demokrat, di forum ini kita harus memiliki keberanian bercita-cita dan berharap untuk itu. Hal ini sepenuhnya konsisten dengan etos global yang benar-benar demokratis, jika kita percaya bahwa etos itu demikian. Memang, jika kita lakukan, kita harus mempromosikan kepentingan bersama kita sebagai demokrat, dan saling membantu mengatasi masalah dan kesulitan kita masing-masing. Kita harus cepat menyelesaikan setiap perselisihan atau konflik dengan cara damai.

Negara-negara demokratis tidak boleh menyerang satu sama lain, terutama jika mereka adalah tetangga. Mereka harus mengerahkan segala upaya dan mengeksplorasi semua jalan untuk menghindari konflik perbatasan, dan bukannya mencoba untuk mengeksploitasi wilayah sengketa untuk saling menguntungkan mereka. Selama masa turbulensi ekonomi, mereka harus menghindari untuk mengadopsi kebijakan proteksionis yang terbukti berbahaya bagi kepentingan ekonomi negara demokrasi lainnya, bahkan pada saat memulai program pemulihan mereka sendiri.

Ada banyak program yang bisa kita mulai untuk bekerjasama antara satu dengan yang lainnya guna memperluas zona demokrasi dan perdamaian. Antara lain, kita bisa mengambil usulan serius Malaysia untuk menciptakan sebuah koalisi moderat, atau yang lainnya. Tapi banyak tantangan yang mulai kita hadapi dan berakhir dalam perbatasan masing-masing, dan harus ditangani dengan tepat. Selama bertahun-tahun, jumlah pemilih dalam pemilihan umum menurun secara tajam di banyak negara. Di Amerika Serikat saja, menurut salah satu penulis, lebih banyak penduduk berusia di atas 18 tahun yang memberikan voting pada program TV American Idol daripada pemilu Amerika pada tahun yang sama. Sejak tahun 1980 keanggotaan dalam partai politik di Inggris telah turun 50 persen. Internet, yang merupakan karunia teknologi di zaman kita dan untuk masa depan, telah berhasil menghubungkan satu orang dengan orang lainnya sedemikian rupa sehingga dapat melakukan suatu hubungan yang jauh lebih cepat dengan politisi didalam ‘present form’ nya, kata salah satu analis dari tren masa depan.

Pikirkan itu. Kita bisa menjadi yang terakhir dari ras kita. Dapatkah demokrasi bertahan hidup tanpa politisi? Saya bertanya-tanya. Tapi tentu demokrasi tidak dapat bertahan tanpa demokrat. Demokrat bukan anak dari demokrasi. Demokrasi adalah keturunan, anak dari demokrat.

Peningkatan investasi berkelanjutan dalam bidang pendidikan diperlukan untuk menyebarkan ide-ide dan nilai-nilai demokrasi di dunia. Forum ini akan dapat bergerak lebih jauh jika perwakilan pemerintah yang hadir di sini setuju atas apa pun yang mereka sepakati untuk menambah anggaran mereka guna mendukung ‘pendidikan demokrasi’ yang berkelanjutan di negara masing-masing dan seluruh belahan dunia.[] (Sumber : Paparan BDF IV, Nusa Dua, Bali 8-9 /12)
 

About the author

admin

Add Comment

Click here to post a comment

Don`t copy text!