|
Mengamankan Informasi di Era Keterbukaan
“Diplomat is the first line of defence”. Informasi yang dimiliki oleh seorang diplomat adalah salah satu instrumen penting dalam pengambilan kebijakan yang berdampak terhadap masalah keamanan negara. Dalam kaitan tersebut, Direktorat Keamanan Diplomatik, Kemlu, telah menyelenggarakan kegiatan Lokakarya Peningkatan Pengamanan Informasi di Bogor, tanggal 27-29 Juli 2011.
Lokakarya bertema, “Terwujudnya Pemanfaatan Informasi yang Efektif Bagi Kepentingan Diplomasi Indonesia” yang berlangsung selama dua hari tersebut menghadirkan narasumber, seperti: Ruby Alamsyah, ST., MTI., pakar telematika; Dr. Andi Wijayanto, MA., Akademisi UI; Bambang Heru Tjahyono Msc., Direktur Keamanan Informasi, Kemkominfo; Dubes H. Bom Soerjanto S. Ip.MH, Staf Khusus Kepala BIN; Ign. Kristanyo Hardojo, MA, Direktur Keamanan Diplomatik dan Supriyo Utomo Nadir, SE, Kepala Pusat Komunikasi Kementerian Luar Negeri.
Forum yang dimaksudkan sebagai wahana untuk meningkatkan pengetahuan dan pertukaran pengalaman tentang hal-hal terkait pengamanan informasi bagi para diplomat ini dibuka oleh Dirjen IDP, Andri Hadi. Bobot dan kualitas para narasumber lokakarya telah memicu semangat dan antusias lebih dari 60 hadirin yang terdiri dari para diplomat senior, madya dan muda wakil-wakil dari berbagai satuan kerja di Kementerian Luar Negeri. Lokakarya ini telah mengingatkan kembali nilai penting pengamanan informasi dalam era keterbukaan.
Pada hari pertama lokakarya, para narasumber memberikan gambaran tentang ancaman terhadap keamanan informasi. Dapat dikatakan bahwa ancaman bisa datang dari berbagai penjuru dan dalam berbagai bentuk. Terlebih lagi hingga saat ini belum ada landasan hukum spesifik atau sistem/mekanisme yang mengatur penyelesaian atas kebocoran informasi negara.
Sedangkan pada hari kedua para narasumber menekankan pentingnya dukungan pengamanan personil, fisik dan lingkungan bagi terciptanya pengamanan informasi yang lebih baik di lingkungan Kemlu. Para narasumber dari Kemlu atau yang pernah bertugas di lingkungan Kemlu mengakui bahwa kerapkali kedapatan sejumlah dokumen rahasia yang tidak tersimpan secara baik di beberapa meja kerja pejabat Kemlu. Karenanya, diingatkan agar para peserta turut aktif memberi contoh, bahkan ikut dalam meningkatkan kesadaran pengamanan informasi di lingkungan Perwakilan dan Kementerian Luar Negeri.
Sebagai kesimpulan, lokakarya mencatat perlunya diberikan porsi yang cukup untuk pengaturan pengamanan secara menyeluruh, meliputi fisik, personil dan lingkungan. Disadari bahwa diperlukan waktu untuk menginternalisasikan sense of security menjadi hal yang konkrit. Dalam pelaksanaan selanjutnya, diperlukan koordinasi antar-unit di Kemlu untuk menciptakan sistem pengamanan yang lebih holistik karena sense of security bukan saja personal behavior namun juga organizational behavior. (fa)
|