Januari 2018 Preivous Issue

Presiden Republik Nauru : Perjalanan Satu Dasawarsa, Merupakan Bukti Keberhasilan Forum BDF

BARON DIVAVESI WAQA M.P. Presiden Republik Nauru

Saya menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Indonesia atas inisiatif penyelenggaraan Bali Democracy Forum ke-10 ini – sebuah kesempatan langka untuk mendiskusikan isu-isu politik yang paling mendasar di kawasan Asia-Pasifik ini. Saya juga mengucapkan selamat kepada Presiden Joko Widodo, karena telah menyelenggarakan pertemuan satu dasawarsa ini. Panjangnya umur inisiatif ini merupakan bukti keberhasilan forum ini. Pertanyaan yang diajukan kepada kita – “Does Democracy Deliver?” – adalah tepat waktu mengingat pergolakan politik yang telah kita lihat di banyak tempat di seluruh dunia.

Kebajikan demokrasi yang paling abadi – menghormati kebebasan individu, perlindungan hak warga negara, ucapan terakhir masyarakat di dalam pemerintahan yang mereka kelola sendiri, dan sebuah sistem untuk memeriksa kekuatan setiap orang atau kelompok – itu adalah ciri-ciri dasar pemerintahan yang demokratis dalam arti terbebas dari isu efektivitas. Kami melihat itu sebagai nilai fundamental yang patut dijaga dan dihargai, terlepas dari apakah sistem yang berbeda mungkin juga bisa ‘mewujudkan’ atau tidak.Namun, kita melihat ancaman terhadap pemerintahan yang demokratis semakin berkembang, bahkan di beberapa negara demokrasi terkemuka di dunia, yang seringkali berakar dari rasa ketidakpuasan dan keterasingan yang dalam.

Agar demokrasi berkembang, ia harus diwujudkan. Dan kita tahu itu bisa diwujudkan. Apakah kemakmuran ekonomi mendorong terciptanya lembaga demokrasi yang stabil atau sebaliknya, itu tetap menjadi pertanyaan yang sulit, dimana para ilmuwan berdebat mengenai kedua sisi isu tersebut. Lebih jelasnya, kedua tren ini seringkali dapat bekerja sama, saling bahu membahu, dimana pembangunan berkelanjutan dan institusi-institusi politik yang stabil muncul berdampingan. Kita juga tahu bahwa upaya-upaya kembar ini harus dikelola dalam konteks global yang terus berubah dan sering berubah-ubah. Krisis di satu bagian dunia bisa menyuburkan intoleransi dan kebijakan yang egresif di negara lain. Demikian pula halnya dengan kerja sama ekonomi dan kemitraan pembangunan yang adil, dapat memberikan peningkatan kualitas kehidupan dan kepercayaan yang lebih besar pada institusi-institusi demokratis. Bantuan pembangunan sangat penting dalam membantu membangun institusi-institusi domestik. Namun, ‘dollar’ untuk demokrasi sering kali – datang dengan senjata yang merusak dan preskriptif yang sebenarnya dapat melemahkan pemerintahan yang demokratis dalam jangka panjang.

Demikian pula halnya jika kita ingin mewujudkan janji-janji demokrasi, masyarakat internasional harus memenuhi komitmen multilateralnya, khususnya Sustainable Development Agenda 2030 dan janji untuk memberantas kemiskinan, memerangi dampak perubahan iklim yang merusak, dan mitra pembangunan berkelanjutan. Masa depan demokrasi di kawasan Asia Pasifik dan lingkup yang lebih luas bergantung pada pencapaian komitmen-komitmen internasional. Kami menyambut inisiatif-inisiatif seperti ini untuk memastikan agar momentum kita terus berlanjut.

Tabloid Diplomasi Versi PDF

Tabloid Februari 2018

Tabloid Februari 2018