NEWS FLASH
Tinggal Senjata Hizbullah yang Mampu Menghadapi gempuran Israel Print E-mail
Google bookmarkDel.icio.usTwitterFacebookDigg
Edisi - Juli 2010
Monday, 19 July 2010 12:08

Tinggal Senjata Hizbullah yang Mampu Menghadapi gempuran Israel


M. Hamdan Basyar
Pengajar dan Ahli Timur Tengah UI
Pada tahun 1970-an, Ayatullah Musa Sadr mendirikan Afwaj al Muqawwamah al Lubnaniyyah yang kemudian disingkat namanya menjadi AMAL, yang merupakan suatu gerakan Syiah di Lebanon. Organisasi ini berjuang untuk kepentingan Syiah di Lebanon, yang pada waktu-waktu sebelumnya selalu dianggap sebagai “warga kelas dua” di Lebanon.
Namun suatu ketika, dalam perjalanan ke Libya, Musa Sadr ‘hilang’, dan dikabarkan dibunuh oleh Mossad (Agen rahasia Israel). Dan sepeninggal Sadr, Syiah Amal mulai retak menjadi beberapa kelompok di bawah pimpinan tokoh nasionalis sekuler : Nabih Berri dan Kamil al As’ad. Sementara itu juga ada kubu lain, yaitu Hussein al Hussein dan dan Mahdi Syamsuddin. Mereka mengusung platform “Nasionalis Islam”. Sedangkan di kubu ulama, ada Hussein Musawi dan Sayid Hussein Fadhlullah yang disebut sebagai kelompok “fundamentalis Islam”.
Secara organisasi, Nabih Berri lah yang berhak menjadi pengganti Musa Sadr sebagai pemimpin AMAL, namun Nabih Berri memimpin AMAL dengan menganut sekuler. Kedua kelompok Syiah tersebut berbeda pandangan. Misalnya, Nabih Berri tidak senang dengan adanya adanya pejuang Palestina di Lebanon Selatan. Tapi sebaliknya, Hussein Musawi mendukungnya.
Setelah peristiwa Sabra dan Shatila (1982), ketika Israel membunuh pengungsi Palestina di sana, kedua kelompok itu benar-benar pecah. Operasi Israel itu biasa disebut “Peace in in Galilee” yang berusaha untuk mengusir bangsa Palestina dari Lebanon.


Hussein Musawi kemudian membentuk organisasi Amal Islam, yang merupakan cikal-bakal sebagai embrio Hizbullah. Organisasi ini lahir pada tanggal 12 Juli 1982 di lembah Bekaa, Lebanon Selatan. Di bawah kepemimpinan Hussein Musawi, Amal Islam memberikan bantuan kepada para pengungsi Palestina.
Perjuangan yang dilakukan oleh Hizbullah ini cukup merepotkan bagi Israel, sehingga eksistensi Hizbullah langsung dilihat oleh dunia. Dan akibatnya, Hussein Musawi, menjadi musuh yang paling dicari-cari oleh Israel. Sehingga pada tahun 1992, Hussein Musawi dirudal dari jarak dekat oleh tentara Zionis itu. Hussein Musawi kemudian digantikan oleh Hassan Nasrullah yang pada waktu itu baru berusia 32 tahun. Tetapi di bawah kepemimpinan Nasrullah, organisasi Hizbullah terus berkembang, dimana dalam salah satu pidatonya Nasrullah mengatakan “Tanah Lebanon menjadi tempat di mana saudara saudara Kristen dan Muslim mampu hidup berdampingan dalam kerukunan politik”.
Dalam buku Hizbullah, Politics Religion: disebutkan bahwa Hizbullah tidak pernah berlumuran darah kaum Kristen sejak perang saudara 1975-1990. Dan sejak tampil di dunia politik (1992), Hizbullah merupakan satu-satunya parpol yang tidak ternoda oleh tuntutan korupsi dan oportunisme politik.
Hizbullah memiliki hubungan yang erat dengan Iran, dimana dalam hal ini paling tidak ada tiga faktor penyebab, yaitu faktor Musa Sadr, yang merupakan teman dekat Ayatullah Khomeini. Kemudian adanya bantuan Iran ke Lebanon Selatan, ketika terjadi invasi Israel, 1982. Waktu itu, lebih dari 1500 pasukan Iran melatih pejuang Amal Islam, dan faktor yang lainnya adalah bahwa Hasan Nasrullah pernah belajar di Qom, Iran.
Pada Juli 2006, Israel menggempur posisi Hizbullah, dengan alasan hendak membebaskan dua tentaranya yang ditahan Hizbullah, dan mengakibatkan berbagai fasilitas umum di Lebanon hancur. Kecaman datang dari berbagai pihak, tetapi Israel terus melanjutkan apa yang menjadi hajatnya. Dan serangan Israel ke Lebanon tersebut baru berhenti, setelah ada resolusi DK PBB no.1701.
Resolusi tersebut disetujui pada tanggal 11 Agustus 2006, dengan mengadopsi keinginan AS, yaitu walaupun tidak diberi sanksi, tetapi pasukan Israel harus ditarik mundur dari Lebanon sampai batas “garis biru”, yang merupakan garis perbatasan antara Lebanon dan Israel yang disepakati kedua negara tersebut pada tanggal 23 Maret 1949.
Selanjutnya, genjatan senjata antara Lebanon dan Israel berjalan sejak tanggal 14 Agustus 2006. Dan gencatan senjata itu dianggap sebagai kemenangan pihak Hizbullah, karena dalam 50 tahun terakhir, dunia Arab tidak memiliki dan tidak menyangka mempunyai kekuatan militer yang mampu menghadang Israel.
Perlawanan Hizbullah atas Israel yang dibuktikan selama lebih dari satu bulan itu telah membuka mata rakyat Arab, bahwa mereka mampu melawan Israel. Selama ini, ada mitos yang menyebutkan bahwa Israel tidak terkalahkan. Maka tak heran jika penghentian serangan Israel itu, juga dirayakan di seluruh jazirah Arab. Mulai dari Mesir hingga Jeddah, dan dari Maroko hingga Iran, semua mengelu-elukan Hizbullah.
Di sisi lain, dengan disetujuinya resolusi DK PBB 1701 itu bisa diartikan sebagai “kekalahan” bagi Israel. Hal ini tidak pernah dialami oleh Israel dalam beberapa perang dengan negara Arab, sejak negara Zionis itu pada tahun 1948. Padahal sebenarnya, Israel telah menyiapkan perang itu secara saksama bersama AS, sebelum Hizbullah menyandera dua tentara Israel pada tanggal 12 Juli 2006, sebagaimana dilaporkan oleh majalah AS, The New Yorker, yang ditulis oleh wartawan AS pemenang Pulitzer, Seymour Hersh.
Hersh menuliskan, Presiden George W Bush dan Wakil Presiden Dick Cheney telah diyakinkan oleh pihak Israel bahwa serangan bom yang sukses akan dapat mengurangi ancaman terhadap masalah keamanan Israel. Selain itu, serangan Israel juga berpotensi dapat digunakan AS sebagai batu loncatan untuk melancarkan serangan terhadap instalasi nuklir Iran (Kompas, 14 Agustus 2006).
PM Israel waktu itu, Ehud Olmert, mengakui kegagalan pasukan militernya dalam perang melawan Hizbullah. Selama pertempuran itu, performa pasukan Israel sangat buruk. Israel yang tadinya sesumbar bisa mengalahkan Hizbullah dalam waktu kurang dari satu bulan, pada akhirnya harus menyerah di bawah resolusi PBB. Sedikitnya 130 tentara Israel tewas, 350 lainnya luka-luka dalam pertempuran dengan Hizbullah. Sejumlah peralatan perang Israel juga berhasil dihancurkan Hizbullah, antara lain helikopter Apache, 100 tank Mirkava kebanggaan Israel dan satu kapal perang Israel rusak berat.
Israel juga gagal melumpuhkan roket-roket Hizbullah, yang berhasil menewaskan sedikitnya 40 warga Israel di utara negara Zionis itu. “Kekalahan” Israel ini memberi dampak yang cukup luas di Timur Tengah. Di antaranya, runtuhnya mitos bahwa Israel tidak dapat dikalahkan. Pengaruh Hizbullah di Lebanon, baik di bidang militer maupun politik, semakin kuat. Bahkan di masyarakat Arab, Hizbullah adalah pahlawan yang memberi inspirasi pada milisi-milisi bersenjata lain, seperti pejuang Palestina untuk terus menggunakan perjuangan bersenjata.
Simbol kemenangan Hizbullah akan meneguhkan perlawanan bangsa yang telah dizalimi puluhan tahun itu. Sehingga Israel maupun AS akan berpikir berkali-kali untuk melakukan serangan terhadap instalasi nuklir Iran. Menghadapi Hizbullah saja, milisi yang dibantu dan dilatih Iran, Israel tak dapat mengalahkannya, apalagi menghadapi Iran yang memiliki persenjataan jauh lebih baik dari Hizbullah. Sebagian rudal Hizbullah sendiri berasal dari Iran, seperti Fajr dan Zelzal. Jadi, seakan perang Hizbullah - Israel itu untuk uji coba senjata Iran, yang ternyata cukup ampuh untuk menakuti Israel. Artinya, kemenangan Hizbullah ikut menaikkan bargaining position Iran di Timur Tengah.
Di dalam negeri Lebanon, masalah perluncutan senjata Hizbullah, sebagaimana disebutkan dalam resolusi 1701, tidak mendapatkan tanggapan yang signifikan. Pimpinan Hizbullah sendiri mengatakan bahwa mereka tidak membicarakan pelucutan senjata Hizbullah dengan pihak luar. Kalau harus dibicarakan, maka itu adalah urusan masyarakat Lebanon sendiri.
Bagi masyarakat Lebanon, senjata Hizbullah itu penting. Buktinya, senjata Hizbullah mampu menahan serangan Israel di Lebanon. Bagaimana jadinya Lebanon, bila senjata Hizbullah dilucuti dan mereka tidak dapat membalas serangan Israel. Apalagi Pasukan Lebanon masih dalam kondisi pembenahan, setelah porak poranda akibat perang saudara di sana. Presiden Lebanon waktu itu, Emile Lahoud yang berasal dari Kristen Maronit, mengakui “Senjata Hizbullah satu-satunya yang mampu menghadapi gempuran Israel”.[]

Last Updated on Friday, 23 July 2010 15:44