|
|
| Edisi - November 2010 |
| Monday, 15 November 2010 21:34 |
Alumni BSBI Efektif Menjadi Corong Indonesia Di Luar NegeriTaufik Hidayat UdjoJUMLAH peserta Beasiswa Seni Dan Budaya Indonesia (BSBI) yang pernah belajar di Saung Angklung Udjo hingga saat ini sekitar 70 orang, dan pada umumnya, para alumni BSBI ini datang kembali ke Saung Angklung Udjo untuk memperoleh pelajaran yang lebih mendalam. Kalaupun diantaranya ada yang tidak datang kembali, mereka tetap melakukan hubungan korespondensi dengan kami, apalagi sekarang ini sudah era internet jadi komunikasi itu tetap terus dilakukan, apalagi hubungan kami dengan para peserta BSBI itu sangat erat dan sudah seperti keluarga, itulah yang membuat kami bahagia. Sekarang ini perkembangan dan apresiasi terhadap seni budaya Indonesia di luar negeri sudah cukup baik, dimana kami diminta untuk mengirimkan pelatih ke beberapa negara. Sementara itu apresiasi dari para mahasiswa Indonesia sendiri juga tinggi, oleh karena itu kalau seni budaya Indonesia ini bisa kita kemas dengan baik tentunya akan menjadi sesuatu yang luar biasa. Agar pelaksanaan BSBI dan Indonesia Channel dapat dilakukan dengan lebih baik lagi, kedepan Kementerian Luar Negeri perlu melibatkan instansi lain yang terkait, seperti Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata, Kementerian Pendidikan dan lain-lainnya, karena mereka juga berkepentingan terhadap para peserta BSBI ini. Bagaimanapun ini sangat erat kaitannya dengan promosi pariwisata dan kebudayaan Indonesia di luar negeri. Program BSBI ini merupakan promosi yang luar biasa, jadi saya kira keterlibatan pihak-pihak terkait itu sangat penting. Saung Angklung Udjo menganut prinsip ’keep the older and make the new one’, artinya kita tetap harus senantiasa memelihara yang lama dan disisi lain kita juga harus mampu menciptakan sesuatu yang baru. Di bidang entertainment misalnya, kita harus mampu untuk terus menampilkan hal-hal yang baru agar tidak monoton. Demikian juga halnya dengan bidang seni budaya, kita harus mampu menampilkan sisi ke-modern-an supaya tidak monoton dan orang lebih bisa menikmati seni budaya tersebut. Artinya kita jangan terlalu terikat dengan suatu pakem, walaupun di sisi lain kita tetap harus menjaga kelestarian, tetapi kita juga perlu melakukan pengembangan dengan berbagai inovasi baru. Keterlibatan pihak-pihak terkait dalam upaya pelestarian dan pengembangan seni budaya ini sangat penting, karena kita tidak bisa mengharapkan orang lain untuk melakukan hal ini, melainkan kita sendirilah yang harus melakukannya secara terus-menerus untuk membendung pengaruh budaya Barat, terutama yang menyangkut dengan tata nilai, karena merupakan warisan budaya yang sangat berharga. Kita jangan melihat ini hanya dari sisi industri semata, karena memang tidak semua seni budaya yang kita miliki itu dapat kita jual, tetapi kita juga harus melihatnya sebagai peristiwa budaya yang penuh dengan nilai-nilai. Manfaat lainnya yang kami peroleh dari penyelenggaraan BSBI ini adalah, bahwa paling tidak kami memiliki banyak teman di luar negeri, mereka efektif menjadi corong Indonesia di negara mereka masing-masing. Saya sangat yakin bahwa seumur hidupnya para peserta BSBI itu tidak akan melupakan pengalamannya selama berada di Indonesia, dan bahkan menjadikan Indonesia sebagai rumah kedua mereka. Saya kira perlu juga dipertimbangkan untuk menambah jumlah dan negara peserta agar acara ini bisa lebih meriah lagi, apalagi angklung ini termasuk jenis kesenian kategori 5 M, yaitu Mudah, Meriah, Mendidik, Menarik dan Masal. Karena bersifat masal itulah, maka disini diperlukan suatu kerjasama, toleransi sosial dan sebagainya yang dapat menciptakan kebersamaan antar bangsa. Mengenai cukup atau tidaknya durasi pelatihan selama tiga bulan, saya kira ini sangat relatif. Kalau hanya untuk sekedar mengetahui dan bisa memainkannya, durasi selama tiga bulan itu bisa terlalu lama, tetapi kalau untuk penguasaan yang lebih mendalam, bisa jadi tiga bulan itu tidak cukup. Jadi saya kira durasi pelatihan selama tiga bulan itu cukup pas. Sebenarnya cukup banyak dari mereka yang meminta untuk privat, tetapi itu berarti cost yang harus mereka tanggung sendiri. Banyak peserta BSBI yang ingin tinggal lebih lama untuk memperdalam pengetahuannya, tetapi mereka tersandung masalah cost dan budget untuk ongkos pelatih, akomodasi dan sebagainya. Sebenarnya apresiasi pihak luar negeri terhadap seni budaya Indonesia itu tergantung dari bagaimana sikap Pemerintah Indonesia sendiri. Kalau kita memberikan apresiasi yang tinggi kepada seni budaya kita sendiri, maka negara-negara lain juga akan ikut seperti itu. Tetapi tampaknya seolah-olah pemerintah kita itu ’menelantarkan’ seni dan budaya ini, dan ini sangat memprihatinkan. Karena itu ketika terjadi pengakuan negara lain terhadap seni budaya yang kita miliki, bagi saya ini ada hikmahnya. Saya cukup senang karena dengan begitu pada akhirnya pemerintah kita menjadi tahu dan memberikan perhatian bahwa seni budaya ini wajib kita lestarikan. Sebelum ini perhatian pemerintah sangat kurang dan action nya juga belum cukup untuk menjaga agar seni budaya kita tidak diakui oleh negara lain. Harusnya posisi yang kita miliki di percaturan internasional (anggota G-20, ketua ASEAN dan lain sebagainya) dapat kita manfaatkan untuk mengembangkan seni dan budaya Indonesia ke dunia internasional. Seni budaya adalah sesuatu yang berharga dan juga memerlukan budget yang cukup besar untuk dapat ditampilkan dengan bagus. Inilah yang menyedihkan bagi kita, karena terkadang seni budaya tradisi itu dianggap sesuatu yang murah, sehingga mereka merasa cukup dengan melakukan persiapan yang seadanya. Panggungnya tidak di setup dengan baik, sound system nya tidak memadai, mic nya kurang, lighting nya tidak bagus dan sebagainya. Jadi disini terjadi gap yang cukup dalam antara seni budaya tradisional dengan seni budaya modern. Sikap seperti itu mengakibatkan terjadinya percepatan pemusnahan seni budaya tradisional, karena dengan kondisi seperti itu orang menjadi tidak tertarik dengan seni budaya tradisional. Sebenarnya kalau pertunjukan seni budaya tradisional itu didukung oleh sarana yang lengkap dan kemajuan teknologi yang canggih, maka sebuah pertunjukan seni budaya tradisional akan menjadi sebuah pertunjukan yang luar biasa. Kalau penampilan mereka dikemas dengan apik dengan sentuhan modern dan didukung oleh tata panggung, sound system, dan lighting yang berkualitas dan peralatan canggih lainnya itu akan menjadi luar biasa. Jadi persoalannya adalah bahwa para seniman seni budaya tradisional tidak bisa tampil dengan maksimal karena mereka tidak didukung oleh peralatan yang maksinal. Apalagi kalau kemudian diberikan apresiasi yang diwujudkan dalam bentuk transportasi dan akomodasi yang baik, mereka tentunya dapat lebih maksimal. Sayangnya sekarang ini masih banyak pihak yang memandang sebelah mata terhadap seni budaya tradisional, sehingga semakin membuatnya terpuruk dan pada akhirnya punah. Sanggar Saung Udjo banyak diundang di berbagai tempat bahkan hingga manca negara dengan apresiasi yang pantas, ini perlu untuk menjaga harga diri kita. Dalam setiap pertunjukan kita juga perlu menyiapkan key list, misalnya dari segi teknis panggung, kita tetapkan jumlah mic yang diperlukan dan apa tipenya, karena ini akan mempengaruhi kualitas pertunjukan secara keseluruhan. Jika memungkinkan, kami sarankan kedepannya program BSBI ini di rolling pelaksanaannya. Jadi bukan mereka yang belajar ke sini tetapi kita yang melatih disana. Sanggar-sanggar seni di Indonesia juga perlu melihat bagaimana pelaksanaan sebuah pertunjukan di negara lain, kita perlu melakukan studi banding supaya mengetahui bagaimana upaya pengembangan seni budaya tradisional di negara-negara lain. Hal ini supaya kita lebih siap dalam menghadapi tugas-tugas pelestarian dan pengembangan seni budaya Indonesia kedepan.[] |



