Print E-mail
Edisi - Desember 2010
Tuesday, 30 November 2010 20:19

Indonesia Memainkan Peran Penting

di Kawasan Asia-Pasifik dan Ekonomi Global

Barack Hussein Obama
Presiden Amerika Serikat
obama

Indonesia adalah bagian dari diri saya. Pertama kali saya bersentuhan dengan negeri ini adalah ketika ibu saya menikahi seorang pria Indonesia bernama Lolo Soetoro. Sebagai seorang bocah, saya terdampar di sebuah dunia yang berbeda. Namun, orang-orang di sini membuat saya merasa berada di rumah saya sendiri. Pada masa itu, Jakarta terlihat begitu berbeda. Kota ini disesaki oleh gedung-gedung yang tidak begitu tinggi. Salah satu bangunan tinggi di Jakarta kala itu adalah Hotel Indonesia, dan sebuah pusat perbelanjaan baru bernama Sarinah. Jumlah becak jauh lebih banyak dibanding kendaraan bermotor, sementara jalan raya juga masih belum seramai jalan-jalan kampung yang tidak beraspal.

Kami tinggal di Menteng Dalam, yaitu di sebuah rumah mungil yang halamannya ditumbuhi sebatang pohon mangga. Saya belajar mencintai Indonesia pada saat menerbangkan layang-layang, berlarian di sepanjang pematang sawah, menangkap capung, dan jajan sate atau bakso dari pedagang keliling. Yang paling saya kenang adalah orang-orangnya: lelaki dan perempuan sepuh yang menyapa kami dengan senyumnya; guru-guru yang mengajarkan tentang keluasan dunia, dan anak-anak yang membuat seorang asing seperti saya menjadi seperti tetangga.

Karena Indonesia terdiri dari ribuan pulau, ratusan bahasa, dan orang-orang dari berbagai daerah dan suku, maka periode ketika saya tinggal di negeri ini telah melapangkan jalan bagi saya untuk menghargai kemanusiaan. Walaupun ayah tiri saya, sebagaimana orang Indonesia pada umumnya, dibesarkan sebagai seorang Muslim, namun ia sepenuhnya percaya bahwa semua agama patut dihargai secara setara. Dengan cara itu, ia mencerminkan semangat toleransi keberagamaan yang diabadikan dalam Undang-undang Dasar Indonesia yang tetap menjadi salah satu ciri negeri ini, dan tentunya memberi inspirasi kepada dunia.

Saya tinggal di kota ini selama beberapa tahun, dan itu sungguh merupakan suatu masa yang membentuk masa kecil saya; suatu masa yang menjadi saksi bagi kelahiran adik saya yang manis, Maya; dan suatu masa yang telah membuat ibu saya terpesona sehingga ia terus-menerus menghampiri Indonesia selama 20 tahun untuk kemudian tinggal dan bekerja serta melakukan perjalanan untuk mengejar hasratnya mendorong terbukanya kesempatan bagi perempuan Indonesia, khususnya mereka yang tinggal di pedesaan. Sepanjang hidupnya, negeri ini beserta orang-orangnya, tetap tersimpan di hati ibu saya.  

Begitu banyak yang berubah dalam empat dekade ini sejak saya kembali ke Hawaii. Jika ditanyakan kepada saya, atau teman-teman sekolah yang mengenal saya pada masa itu, saya yakin tidak ada di antara kami yang menyangka bahwa saya akan kembali ke negeri ini sebagai Presiden Amerika Serikat. Semestinya beberapa orang bisa meramalkan kisah luar biasa yang melibatkan Indonesia dalam empat dekade terakhir.  

Jakarta yang dulu saya kenal, kini telah berkembang menjadi sebuah kota yang dijejali hampir sepuluh juta manusia dengan gedung-gedung pencakar langit serta pusat-pusat kebudayaan dan perdagangan yang membuat Hotel Indonesia terlihat kerdil. Semasa anak-anak dulu, saya dan kawan-kawan biasa berkejar-kejaran di lapangan ditemani kerbau dan kambing. Kini, generasi baru Indonesia termasuk dalam golongan yang saling terhubung dalam jagat komunikasi dunia melalui telepon genggam dan media sosial. Dulu, Indonesia sebagai bangsa yang masih muda hanya fokus ke dalam, tetapi kini, bangsa Indonesia memainkan peran penting di kawasan Asia-Pasifik dan ekonomi global.

Perubahan ini juga menjangkau ranah politik Indonesia. Sewaktu masih anak-anak, ayah tiri saya menyaksikan ayah dan kakaknya pergi berperang dan tewas demi kemerdekaan Indonesia. Saya lega bisa berada di sini tepat pada peringatan Hari Pahlawan untuk mengingat jasa begitu banyak orang Indonesia yang rela berkorban demi negara yang besar ini.

Ketika saya pindah ke Jakarta pada tahun 1967, beberapa wilayah di negeri ini baru saja mengalami penderitaan dan konflik yang hebat. Meskipun ayah tiri saya pernah menjadi seorang tentara, namun kekerasan dan pembantaian yang terjadi pada masa kekisruhan politik itu tidak dapat saya pahami, karena keluarga Indonesia dan teman-teman saya memilih bungkam. Di dalam keluarga kami, seperti juga keluarga-keluarga Indonesia pada umumnya, peristiwa itu menggurat secara mendalam. Bangsa Indonesia sudah merdeka, tapi rasa takut senantiasa mengikuti.

Pada masa-masa sesudahnya, Indonesia memilih jalannya sendiri melalui tranformasi demokratis yang luar biasa, yaitu dari pemerintahan tangan besi ke pemerintahan rakyat. Pada beberapa tahun belakangan ini, dunia menyaksikan dengan rasa kagum upaya bangsa Indonesia merengkuh peralihan kekuasaan dengan jalan damai melalui pemilihan kepala negara serta kepala daerah secara langsung. Ketika demokrasi di negeri ini disimbolkan oleh terpilihnya Presiden dan wakil-wakil rakyat, maka ketika itu pula demokrasi dijalankan dan dipelihara melalui mekanisme check and balance. Sebuah masyarakat madani, partai politik, media dan warga negara yang penuh semangat dan meyakini bahwa tidak ada jalan untuk kembali ke masa lalu bagi Indonesia.

Bahkan ketika tanah tempat saya melalui masa muda ini telah berubah banyak, hal-hal yang pernah saya pelajari untuk mencintai Indonesia, seperti semangat toleransi yang tercantum dalam Undang-undang Dasar dan tercermin melalui keberadaan masjid, gereja dan candi, yang tertanam dalam darah bangsa Indonesia, masih mengalir di tubuh saya. Bhinneka Tunggal Ika atau persatuan dalam keragaman, merupakan falsafah yang menjadi pondasi bangsa Indonesia dan dicontohkan kepada dunia. Itulah sebabnya maka Indonesia akan memainkan peran penting pada abad ke-21.

Hari ini, saya kembali ke Indonesia sebagai seorang sahabat sekaligus Presiden AS yang mengharapkan terjalinnya kerjasama yang erat antar kedua negara. Indonesia adalah sebuah negara yang luas dan majemuk, dan terletak berdampingan dengan Samudera Pasifik. Dan di atas semua itu, Indonesia adalah sebuah negara demokrasi, dimana Amerika Serikat dan Indonesia ditakdirkan untuk bersama-sama dalam sebuah kepentingan dan nilai-nilai yang sama.

Saya dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono telah menyetujui Comprehensive Cooperation yang baru antara Amerika Serikat dan Indonesia, dimana pemerintahan kedua negara akan mempererat hubungan di berbagai bidang. Dan yang juga penting adalah  memperkuat hubungan antar bangsa. Kerjasama ini tentunya dilandasi atas dasar rasa saling membutuhkan dan saling menghormati.

Dengan sisa waktu yang saya miliki hari ini, saya ingin berbagi tentang mengapa hal-hal yang saya utarakan tadi begitu penting bagi Amerika Serikat dan dunia. Saya ingin menitikberatkan pembahasan pada tiga hal yang saling berkait-erat serta mendasar bagi kemajuan manusia, yaitu: Pembangunan, Demokrasi dan Agama.

Pertama, bahwa persahabatan yang terjalin antara Amerika Serikat dan Indonesia dapat memajukan pembangunan yang saling menguntungkan.
Ketika saya tinggal di Indonesia, sulit bagi saya untuk membayangkan sebuah masa depan dimana kemakmuran yang dirasakan oleh banyak keluarga di Chicago dan di Jakarta itu saling berhubungan. Sekarang ini, kita berada di era ekonomi global, dimana bangsa Indonesia telah merasakan resiko dan harapan dari globalisasi: Mulai dari krisis ekonomi Asia yang terjadi pada akhir tahun 1990, dan jutaan orang yang berhasil bangkit dari kemiskinan. Artinya, ternyata pada  akhirnya apa yang dapat kita pelajari dari krisis ekonomi tersebut, adalah bahwa masing-masing dari kita memiliki sumbangsih atas keberhasilan yang diraih oleh pihak lain.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap sebagian kemakmuran yang dirasakan oleh Indonesia, karena dengan tumbuhnya kelas menengah di sini, itu juga berarti munculnya pasar bagi produk-produk kami, seperti juga halnya Amerika yang merupakan pasar bagi Indonesia. Karena itu, kami menanamkan modal lebih banyak di Indonesia. Ekspor dari Amerika telah naik sebesar 50 %, dan kami membuka pintu bagi pengusaha Amerika dan Indonesia untuk saling berhubungan.

Amerika memiliki sumbangsih terhadap peran yang dimainkan oleh Indonesia dalam perekonomian global. Hari-hari ketika tujuh atau delapan negara membentuk kelompok dan menentukan arah perekonomian dunia telah berlalu. Karena itulah saat ini G-20 telah menjadi pusat kerjasama ekonomi internasional, suatu bentuk yang memungkinkan bagi negara seperti Indonesia untuk memiliki suara dan tanggung jawab yang lebih besar. Melalui kepemimpinan Indonesia di kelompok G-20 dalam memerangi korupsi, negeri ini harus berada di depan  panggung dunia dengan memberikan contoh-contoh yang baik dalam mempraktikkan transparansi dan akuntabilitas.
Amerika memiliki sumbangsih terhadap Indonesia yang mengejar pembangunan berkelanjutan. Karena cara kita bertumbuh akan mempengaruhi kualitas hidup serta kesejahteraan planet yang kita diami ini. Karena itulah kita mengembangkan teknologi untuk menghasilkan energi bersih yang mampu menopang industri dan menjaga sumber daya alam Indonesia. Amerika menyambut kepemimpinan Indonesia dalam upaya global memerangi perubahan iklim.

Di atas itu semua, Amerika memiliki sumbangsih terhadap keberhasilan manusia Indonesia. Kita harus membangun jembatan yang menghubungkan kedua bangsa, karena kita akan berbagi jaminan dan kemakmuran di masa depan. Itulah yang kini sedang kita rintis, yaitu meningkatkan kolaborasi antara ilmuwan dan peneliti kita serta bekerjasama mengembangkan kewirausahaan. Saya pribadi merasa puas, karena kita berhasil meningkatkan jumlah pelajar Amerika dan Indonesia yang melanjutkan pendidikannya di universitas-universitas yang ada di kedua negara.

Saya baru saja membicarakan masalah-masalah penting dalam kehidupan kita. Lagipula, pembangunan tak melulu hanya berhubungan dengan tingkat pertumbuhan dan angka-angka dalam neraca. Pembangunan juga menyangkut bagaimana seorang anak mampu mempelajari keahlian yang mereka butuhkan untuk menghadapi dunia yang selalu berubah. Pembangunan berkaitan dengan bagaimana sebuah gagasan yang baik dapat diwujudkan dan tidak tercemari olehkorupsi. Pembangunan juga berhubungan dengan bagaimana kekuatan-kekuatan yang telah mengubah Jakarta yang pernah saya kenal - teknologi, perdagangan, arus keluar-masuk orang dan barang - mampu membuat hidup rakyat menjadi lebih baik, yaitu pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan martabat dan kesempatan. Dan pembangunan semacam itu tidak dapat dipisahkan dari demokrasi.

Sekarang ini kita sering mendengar bahwa demokrasi itu ternyata menghambat pertumbuhan ekonomi. Ini bukanlah suatu alasan yang baru, khususnya di tengah perubahan dan kondisi ekonomi yang tidak menentu, orang akan mengatakan bahwa pembangunan itu akan lebih mudah dijalankan dengan mengorbankan Hak Asasi Manusia. Tapi, saya tidak melihat hal itu di India dan Indonesia. Apa yang telah diraih oleh Indonesia menunjukkan bahwa demokrasi dan pembangunan itu ternyata saling menopang.[] (Disunting dari pidato Presiden Barack Obama di Universitas Indonesia 10/10).[]

Last Updated on Tuesday, 30 November 2010 22:37