NEWS FLASH
Print E-mail
Edisi - Pebruari 2011
Friday, 18 February 2011 22:32

Samudera India, Arena Persaingan Antara AS dan China Dalam Hal interlocks Pasifik Dan Persaingan Regional Antara China Dan India

Sanjay Chaturvedi

Universitas Panjab Chandigarh, IndiaSELAT Malaka merupakan The Global Stake, dimana lebih dari 70.000 kapal yang melintas disini setiap tahunnya, mereka masing-masing mengangkut berbagai produk barang dan jasa bernilai USD 1 triliun. Sekitar 30% perdagangan dunia dan 80% kebutuhan BBM Jepang disuplai melalui selat ini.
Untuk itu banyak permasalahan Selat Malaka yang perlu ditangani, misalnya terkait dengan masalah keamanan, diantaranya adalah; keamanan navigasi dan traffic control pelayaran. Di bidang keamanan lingkungan, yaitu berupa polusi maritim dan pengelolaan sumberdaya. Bentuk ancaman yang ada adalah aksi terorisme terhadap kapal-kapal tanker pengirim BBM, pembajakan dan perampokan bersenjata, proliferasi senjata nuklir, penculikan, perdagangan manusia, perdagangan obat illegal, dan pencurian hasil laut. Seting masalah keamanan maritim diantaranya adalah terkait bidang perikanan, energi, terorisme, penyelundupan manusia, narkotika, sumberdaya, perdagangan senjata dan lain sebagainya.

Respon dari sisi militer (CMF, NATO, Uni Eropa, Otoritas keamanan nasional) yang dihasilkan dalam pertemuan koordinasi bulanan CMF dengan perwakilan-perwakilan Angkatan Laut (AL) adalah ditetapkannya koordinat CTF 151 bagi kapal-kapal perang dan pihak-pihak maritim lainnya untuk memaksimalkan efektivitas pengamanan; Mengatur keterlibatan AL dan otoritas keamanan nasional dengan Rules of Engagement (ROE); NATO, Uni Eropa, CMF, dan pasukan lainnya memiliki komando yang bersifat independen; Komunikasi yang kompatibel agar tidak menghambat upaya koordinasi; Pengembangan pengetahuan mengenai pola pembajakan dimana dalam hal ini aset-aset militer difokuskan pada upaya pencegahan gangguan bajak laut ketimbang upaya pengumpulan data intelijen.

Sementara itu yang menjadi perhatian International Maritime Organization (IMO) dan masyarakat maritim adalah: Pertama, adanya kebutuhan untuk melindungi pelaut, nelayan dan penumpang kapal yang berlayar di lepas pantai Somalia dan di Teluk Aden; Kedua, adanya kebutuhan untuk menjamin keamanan kapal-kapal pengirim bantuan kemanusiaan ke Somalia dalam kerangka World Food Program; dan Ketiga, adanya kebutuhan untuk menjaga integritas jalur pelayaran melalui Teluk Aden, mengingat kepentingan strategis dan signifikansi terhadap pelayaran dan perdagangan antara Timur dan Barat melalui Terusan Suez.

Segitiga geopolitik-strategis di wilayah samudera Hindia antara Amerika Serikat, India dan China ini telah membuat tidak terelakkannya globalisasi terhadap program kepemimpinan Amerika dan kebebasan ekonomi, pemutusan permusuhan, perubahan rejim, dan strategi “mempersempit gap” dalam hal kekuatan dan sistem pasukan penjaga perdamaian.

Strategi pertahanan “Amerika adalah bangsa perang” pada tahun 2005 memiliki tujuan strategis untuk mengamankan AS dari serangan langsung; Akses strategis kebebasan untuk melakukan tindakan; Memperkuat aliansi dan kemitraan serta menciptakan kondisi keamanan yang menguntungkan bagi AS; Menetapkan Strategi Maritim Nasional (2007), dimana belum pernah terjadi sebelumnya pasukan maritim yang terdiri dari AL, Korps Marinir dan Coast Guard bersama-sama menciptakan sebuah strategi maritim terpadu.

Strategi tersebut juga untuk menekankan pendekatan yang mengintegrasikan kekuatan laut dengan unsur-unsur lain dari kekuatan nasional dan sekutu-sekutu AS. Hal ini guna menjelaskan kekuatan laut yang akan diterapkan di seluruh dunia untuk melindungi way of life mereka, seperti bagaimana caranya bergabung dengan bangsa-bangsa yang berbeda pemikiran guna melindungi dan mempertahankan globalisasi serta saling keterkaitan yang dapat menciptakan kemakmuran. Komitmen untuk melindungi tanah air dan memenangkan peperangan antar bangsa ternyata match dengan komitmen untuk mencegah terjadinya perang.

Strategi kerjasama AL abad 21 tampaknya akan terus disikapi di Pasifik Barat dan Teluk Arab/Samudra Hindia untuk melindungi kepentingan vital AS. Hal ini untuk menjamin komitmen negara-negara sahabat dan sekutunya untuk tetap mengusung masalah keamanan regional, mencegah dan menghalangi musuh-musuh potensial dan para pesaing lainnya. Kekuatan tempur ini akan dengan cepat dan selektif dapat di reposisi untuk memenuhi kontinjensi yang mungkin timbul di tempat lain.

Proyeksi perubahan iklim juga merupakan ancaman serius bagi keamanan nasional AS, karena bisa menciptakan suatu ketidakstabilan di beberapa wilayah yang bergejolak, dan bahkan diproyeksikan dapat menumbuhkan ketegangan di wilayah yang selama ini cukup stabil.

Pada saat terjadinya tsunami Samudra Hindia pada 2005, China memperluas hubungan vertikalnya, sementara India memperluas hubungan horizontalnya. Samudra India merupakan arena persaingan antara AS dan China dalam hal interlocks Pasifik dan persaingan regional antara China dan India, disamping juga perlawanan AS terhadap terorisme Islam di Timur Tengah serta upaya AS untuk memasukkan Iran kedalamnya. Setiapkali Angkatan Laut AS membom Irak atau Afghanistan dari pangkalan di Teluk Persia dan kepulauan Diego Garcia, itu tepat di pusat serangan AS terhadap Iran.  

Di dalam revolusi hubungan militer, India dan China masing-masing cenderung untuk mengakuisisi laut. Baik India maupun China masing-masing menunjukkan gambaran proliferasi persenjataan AL yang menarik. Beberapa akuisisi dilakukan secara defensif tapi sebagian besar pastinya dilakakukan dengan ofensif. Ini termasuk proyeksi platform kekuatan seperti kapal induk, kapal perusak, kapal selam, peralatan tempur modern, dan pesawat maritim (pesawat tempur dan pengintai).

Tren yang ada juga menunjukkan bahwa telah terjadi proliferasi rudal, torpedo canggih, peralatan tempur elektronik, sistem radar serta teknologi siluman. Sifat kualitatif dan kuantitatif dari pembelian persenjataan tersebut tentunya dibumbui dengan teknologi informasi. Baik India maupun China ternyata memiliki potensi strategis untuk secara agresif mengejar dan menyerap RMA dalam doktrin strategis mereka. Saat ini tidak ada indikasi yang menunjukkan bahwa AL kedua negara tersebut memiliki kemampuan teknologi untuk menantang AL AS atau AL Jepang.

Perspektif strategis India telah dibentuk oleh karakter kontinental dan maritim geografinya, dimana lokasi Semenanjung India berada di dasar benua Asia yang menjorok ke Samudra Hindia.  Tempat sebuah sudut pandang dalam hubungan perdagangan maritim yang melalui samudera ini. Kami memiliki peran yang kuat dalam hal keamanan dan stabilitas perairan ini, terutama terkait dengan keamanan energi, karena persentase pasokan BBM dan gas Asia yang sangat besar dikapalkan melalui Samudera Hindia.  
Strategi pembangunan kontemporer AL India adalah menjadi yang terbesar di Asia Selatan dan ketiga terbesar di Asia-Pasifik setelah AL PLA dan AL Pasukan Beladiri Jepang.  Pada 2022 armada AL India akan terdiri dari 160 kapal tempur, 3 kapal induk dan 400 pesawat dengan berbagai jenis. Satelit pengawas dengan jaringan yang lebih luas akan hadir di Samudra Hindia, dimana sebagian besar sudah mulai dibangun. Misinya adalah : pencegahan berbasis laut, keamanan ekonomi dan energi, kehadiran berbagai kepentingan, dan diplomasi multifaset AL.

Kekuatan laut nasional merupakan hasil dari sejumlah kondisi pokok, menurut Mahan adalah berupa : posisi geografis, jumlah penduduk, penyesuaia karakter dan fisik pemerintah. Saat ini kita untai di bawah satu payung istilah, yaitu geopolitik. Faktor-faktor tersebut layak dijadikan latar belakang strategi maritim di kawasan Samudera Hindia.  

Status perkembangan internasional India memberikan relevansi strategis di kawasan, mulai dari Teluk Persia hingga ke Selat Malaka. India telah mengeksploitasi ketidak-stabilan tatanan dunia yang muncul untuk menjalin hubungan baru melalui kombinasi reposisi diplomatik, kebangkitan ekonomi dan keteguhan militer.

 Dalam sebuah simposium tentang “keamanan jalur laut” yang diselenggarakan di Beijing (2004), seorang pakar telah mengutip pandangan Mahan dan membuktikan pengaruhnya. Hampir tanpa kecuali, semua yang senang berperang mengutip pandangan Mahan tentang perang, yaitu “komando laut” yang menyatakan; “ that overbearing power on the sea which drives the enemy’s flag from it, or allows it to appear only as a fugitive; and which, by controlling the great common, closes the highways by which commerce moves to and fro from the enemy’s shores.” AL PLA ternyata mampu melaksanakan misi penolakan terhadap laut selama dekade berikutnya dan berjuang untuk menguasai AL Mahanian di China bagian Timur, Kuning, dan laut China Selatan dalam beberapa dekade berikutnya.

China membangun hubungan strategis di sepanjang alur laut mulai dari Timur Tengah sampai ke Laut China Selatan dengan cara yang menunjukkan posisi defensif dan ofensifnya untuk melindungi kepentingan energi China dan juga tujuan keamanan yang lebih luas.  Strategi “string of pearls “ termasuk pangkalan AL baru yang sedang dibangun di pelabuhan Gwadar, Pakistan, pangkalan AL di Myanmar, perjanjian militer dengan Kamboja, memperkuat hubungan dengan Bangladesh dan rencana ambisius untuk membangun sebuah kanal bernilai USD 20 miliar  di Thailand untuk memotong Selat Malaka.

Pengendalian alur laut pengiriman minyak oleh militer China ini dapat mengancam kapal-kapal, sehingga menciptakan iklim ketidakpastian terhadap keselamatan kapal di laut lepas. China bukan hanya bermaksud membangun sebuah AL blue-water untuk mengontrol jalur laut, tetapi juga untuk mengembangkan penambangan dasar laut dan kemampuan rudal untuk mencegah potensi gangguan pasokan energi dari ancaman potensial, termasuk AL AS, terutama dalam kasus konflik dengan Taiwan.

Meningkatnya China secara simultan dan juga India sekarang ini merupakan faktor fundamental dalam memahami abad 21. Munculnya China sebagai Great Powers, sebuah istilah yang sangat relatif, menjadikan mereka saling kunjung di perairan Asia dan sekitarnya. Model geopolitik tradisional  Mackinder, Spykman dan Mahan kemudian bertemu di kawasan Asia Tengah, Asia Selatan, Asia Pasifik dan Samudra Hindia. Penataan hubungan aktual yang dikombinasikan dengan ruang pandang yang lebih luas dapat dirasakan disini. Negara-negara tetangga yang kuat juga terus berusaha untuk lebih meningkat, dan mendesak dibentuknya suatu aliansi/proxy. Bentuk ‘Great Game’ semacam ini sangat jelas dalam hubungan keamanan-militer, diplomatik dan bidang ekonomi. Globalisasi tidak untuk menggantikan regionalisme, demikian pula dengan geoeconomics bukan untuk menggantikan geopolitik. Taruhannya sangat besar disini seperti kebutuhan untuk mengamankan akses sumberdaya energi bagi ekonomi mereka, menyebabkan meningkatnya status mereka menjadi ‘negara adi daya’. Beberapa kerjasama yang dilakukan membuktikan bahwa mereka mengusung liberalisme-fungsional. Bagaimanapun dilema realisme geopolitik dan persepsi keamanan masih mendominasi bentuk tindakan mereka.  

Seorang analis yang banyak dibaca analisisnya, baru-baru ini juga telah menerbitkan sebuah buku mengenai Samudra Hindia yang membicarakan tentang India sebagai “poros utama global”, dalam apa yang disebut sebagai pergumulan antara AS dan China. Kami cukup tersanjung dengan deskripsi ini, namun kita tidak akan membuat kebijakan atas dasar ‘perasaan baik’. Tidak ada keniscayaan konflik, dan India memandang kecenderungan yang muncul dengan realis. Membangun tema populer di media, yaitu Samudera Hindia sebagai panggung baru keamanan regional yang berkelanjutan tentunya membutuhkan upaya kerjasama semua negara di kawasan di satu sisi dan juga semua negara pengguna Samudera Hindia. Sebagai kekuatan utama di wilayah Samudera Hindia, kita memiliki peran penting dalam evolusi yang inklusif, stabil dan terbuka terhadap arsitektur kerjasama keamanan yang seimbang di kawasan ini.

Dengan definisi ini maka diperlukan proses berdasarkan konsensus, dimana semua pemangku kepentingan yang sah di kawasan ini harus memberikan kontribusi masing-masing untuk keamanan kawasan. Singkat kata India akan memanfaatkan kekuatan geo-politiknya untuk membentuk kerjasama baru dibanding munculnya dominasi oleh satu negara. Itulah visi yang kita inginkan, dimana dengan visi tersebut kami berharap dapat mewujudkan kerjasama dengan semua negara-negara IOR. []