NEWS FLASH
Print E-mail
Edisi - April 2011
Sunday, 24 April 2011 05:45

Perkembangan Politik Timur Tengah

Optimalisasi Peran Indonesia Di OKI


TIMUR Tengah merupakan kawasan yang bernilai sangat strategis karena memiliki cadangan minyak terbesar dunia yang sangat penting dalam industri modern. Keberadaan minyak dari waktu ke waktu semakin langka sehingga sangat menentukan percaturan politik dan ekonomi internasional. Di sisi lain, kawasan Timur Tengah merupakan pengimpor potensial senjata dan berbagai komoditas, sehingga sangat menarik bagi negara-negara industri. Kondisi ini telah menciptakan Timur Tengah sebagai kawasan yang memiliki nilai strategis, baik politik maupun ekonomi.

Secara geografis, geopolitis, dan geostrategis, Timur Tengah merupakan kawasan yang selalu menjadi pusat perhatian internasional, karena letaknya yang menghubungkan benua Eropa, Afrika, dan Asia. Disamping sebagai pusat dunia Islam dengan beberapa tempat sucinya dan juga pusat keilmuan Islam tertinggi, kawasan Timur Tengah juga terbukti sebagai the cradle of civilization (asal muasal peradaban), bahkan semua agama wahyu (Yahudi, Kristiani dan Islam) diturunkan di sini.

Agama Islam merupakan pengikat dan perekat negeri-negeri muslim di kawasan Timur Tengah dalam satu aqidah yang sama dan berimplikasi bahwa setiap muslim di mana pun mereka berada merupakan saudara (QS. 49:10). Dan ini telah mendorong mereka untuk berhimpun dalam satu wadah, yaitu OKI. 

Menyikapi perkembangan yang terjadi akhir-akhir ini di beberapa negara Timur Tengah yang juga merupakan anggota OKI, Indonesia dapat mengambil momentum ini untuk lebih berperan dan berkontribusi dalam OKI dengan menularkan berbagai pengalaman yang dimiliki. Suksesnya Indonesia menyelenggarakan pemilihan umum secara langsung, umum, bebas, rahasia, jujur dan adil telah membuktikan bahwa Islam dan demokrasi tidaklah bertentangan.

Indonesia adalah jembatan untuk menjelaskan demokrasi & HAM kepada negara-negara di kawasanTimur Tengah karena Indonesia telah menerjemahkan praktek demokrasi dan HAM dalam tataran menciptakan civil society tanpa mengabaikan nilai-nilai Islam. Indonesia harus berupaya menyakinkan dan menegaskan pada Dunia Arab dan Dunia Islam melalui keberadaannya di OKI, bahwa Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari dunia Islam dan Arab.

Indonesia memiliki peran sebagai Bridge Builder dalam hubungan Timur Tengah dengan Barat (terutama AS dan Eropa), dan di sisi lain Indonesia menempati posisi “harmoni” dalam hubungan antara Indonesia dengan negara-negara Islam di kawasan Timur Tengah. Untuk memposisikan peranannya yang strategis di Timur Tengah, Indonesia harus berusaha meyakinkan Barat bahwa mereka tidak akan dapat mengubah masyarakat Timur Tengah dengan propaganda demokrasi dan HAM karena akan terjadi penolakan. Posisi inilah yang harus diambil oleh Indonesia, yaitu sebagai jembatan dalam konteks demokrasi dan HAM.

Sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar dan negara demokrasi terbesar ketiga di dunia, Indonesia dipandang masyarakat dunia sebagai negara yang dapat mensinergikan antara Islam dan demokrasi. Dengan predikat tersebut, Indonesia memiliki peran penting dalam tata kelola dunia yang lebih adil, damai dan beradab sebagaimana yang diamanatkan oleh konstitusi.  

Di sisi lain, sebagai Ketua Parliamentary Union of OIC Member States (PUIC), Indonesia memiliki kesempatan untuk lebih bisa menyuarakan kebijakan luar negeri dan kepentingannya. Indonesia dapat mendorong peningkatan kinerja OKI di tengah-tengah tantangan global saat ini, karena parlemen OKI merupakan satu kekuatan signifikan yang dapat mendorong negara-negara OKI memiliki posisi tawar yang kuat di depan negara Barat. Oleh karena itu Indonesia perlu mengupayakan peningkatan citra OKI sebagai organisasi yang cukup menarik dan disegani oleh masyarakat internasional.

Kebijakan-kebijakan yang dapat dilakukan dalam rangka penguatan partisipasi Indonesia di OKI antara lain adalah: Menugaskan sejumlah diplomat yang mempunyai kapasitas untuk mewakili Indonesia duduk di posisi tinggi dan strategis di OKI dan badan-badan subsidernya, terutama di unit-unit yang menjadi perhatian besar Indonesia; Mendorong para diplomat muda yang sudah mencapai level Duta Besar dan pernah menduduki Eselon I dan Eselon II untuk mewakili dan memperjuangkan kepentingan Indonesia di OKI;

Menugaskan para intelektual baik dari instansi pemerintah ataupun kampus untuk bisa duduk di posisi strategis dan penting di OKI; Mengalokasikan anggaran yang cukup agar para intelektual Indonesia dapat menulis dan menerjemahkan karya mereka sehingga dapat dibaca dan dimengerti oleh masyarakat di negara-negara OKI;
Membentuk komisi nasional yang khusus menangani kepentingan Indonesia di OKI; dan mempromosikan komunitas muslim di Indonesia kepada dunia Islam melalui fasilitasi penerbitan hasil karya akademisi/cendekia Islam Indonesia kedalam bahasa asing (Inggris dan bahasa Arab) melalui media massa konvesional (buku, majalah, jurnal) maupun melalui media massa modern (laman).[]