NEWS FLASH
Print E-mail
Edisi - Mei 2011
Monday, 16 May 2011 23:27

Merealisasikan Ekonomi ASEAN Sebagai Suatu Komunitas

Marie Elka Pangestu, Menteri Perdagangan RI

MENYONGSONG ASEAN Community 2015, Banyak sekali yang harus kita persiapkan. Karena selain pilar ekonomi juga ada pilar-pilar lainnya, yaitu pilar politik dan kemanan,  serta pilar sosial budaya. Tetapi khusus untuk pilar ekonomi, intinya adalah kita bicara mengenai bagaimana merealisasikan ekonomi ASEAN sebagai suatu komunitas di tahun 2015. Bagaimana kita memanfaatkan secara optimal dan juga bagaimana kita memanfaatkan kerjasama yang sudah terjalin, bahkan sudah menjadi ASEAN Free Trade Area (AFTA) dengan enam negara mitra dialog kita yang sudah ada, serta menjalin kerjasama yang baru seperti misalnya dengan Eropa. Ini penting, karena Eropa memiliki pasar yang cukup besar dan juga sebagai training partner kita yang pertama.

 Selain itu kita juga harus mengatasi kesenjangan antara negara anggota ASEAN dan kesenjangan di dalam negara anggota ASEAN itu sendiri.  Salah satu hal yang akan di dorong oleh Indonesia adalah apa yang disebut sebagai financial inclusion, atau bagaimana UKM itu bisa benar-benar memperoleh manfaat dari ASEAN Economic Community ini, dimana salah satu kendala mereka adalah tentang permodalan.

kita harus berupaya membuat program yang baik, yang benar-benar kongkrit dan ada hasilnya di bidang permodalan UKM, kredit mikro dan sebagainya. Ini sangat perlu kita angkat pada KTT ASEAN tahun ini supaya bukan hanya sekedar seremoni dan bertemu tetapi apa program kongkritnya.

Utamanya adalah mengatasi berbagai hal yang belum teratasi, seperti misalnya kesenjangan diantara negara anggota, kemudian bagaimana mendorong kerjasama ASEAN dengan mitra-mitra dialognya agar diperoleh hasil yang lebih optimal, karena kerjasama ini akan berkembang ke kawasan yang lebih besar lagi dari ASEAN, yaitu yang kita sebut dengan kawasan Asia Timur yang melibatkan hampir sebagian besar negara-negara di Asia.
 
Tahun ini bahkan untuk pertama kalinya akan ada summit ke dua di bulan November , disamping juga akan diselenggarakan East Asia Summit, dengan mengundang negara-negara di Asia Timur lainnya dan untuk pertama kalinya juga akan hadir Amerika Serikat dan Rusia.  East Asia Summit itu akan dihadiri oleh 18 Kepala Negara yang mencakup hampir 2/3 dari perekonomian dunia, jadi sangat signifikan, dimana sebagai pusatnya adalah ASEAN.

Inilah hal penting yang perlu kita sadari, karena disinilah keuntungan utama dari semua kegiatan yang kita lakukan pada tahun ini, yaitu bagaimana menempatkan ASEAN sebagai pusat dari East Asia Summit. Indonesia sendiri merupakan negara terbesar di ASEAN, jadi disitulah vocal point nya.  Kalau kita melihat signifikansinya dalam bidang ekonomi, yang diukur dalam GDP antara ASEAN dengan enam negara mitra wicaranya (RRT, India, Korea, Jepang, Australia, dan New Zealand), angkanya mencapai sekitar Rp 16 trilliun, sementara Amerika Serikat hanya mencapai sekitar Rp 15 trilliun, dan Rusia sekitar Rp 3 trilliun. Itu berarti hanya tinggal Eropa saja yang tersisa sebagai kawasan besar lainnya dengan GDP sebesar Rp 14 trilliun.  Angka itu hampir setara dengan 2/3 perekonomian dunia, meskipun masih ada kawasan Amerika Latin dan Afrika, tetapi angka tersebut sudah mencakup 60% nilai perekonomian dan perdagangan dunia.  Ini sangat signifikan dan penting, dimana vocal point nya adalah ASEAN, karena East Asia itu merupakan inisiatif dari ASEAN, dan Indonesia harus memanfaatkan secara sungguh-sungguh dengan bagaimana kita menyusun kerjasama regional di East Asia yang menguntungkan bagi Indonesia dan ASEAN.

Dengan sendirinya apa yang kita lakukan sepanjang tahun ini akan semakin mengangkat citra Indonesia sebagai tuan rumah penyelenggaraan event internasional sebesar ini, dengan dua puncak yaitu summit pada bulan Mei dan summit pada bulan November. Di luar itu kita juga menyelenggarakan ASEAN-EU Business Summit, sementara para pengusaha juga akan menyelenggarakan business dialogue sepanjang tahun pula.

Ini merupakan moment yang sangat baik untuk kita manfaatkan, dimana mungkin nanti akan ada cetak biru dan road map yang baru untuk mengatasi hal-hal yang belum teratasi didalam road map hingga tahun 2015. Sebagaimana telah beberapa kali terjadi sebelumnya, biasanya yang mengeluarkan visi, cetak biru dan strategi adalah Indonesia,  jadi kitapun memiliki prioritas untuk melakukan hal tersebut pada tahun ini, yaitu ASEAN Beyond 2015.

Sudah banyak yang kita lakukan dalam menyongsong ASEAN Community di 2015, selain di sektor  otomotif, kita juga melakukan pembenahan dan kerjasama di sektor textile dan garmen. Sebenarnya pasar dalam negeri dan pasar ASEAN itu sudah sama karena biaya masuknya sudah 0. Asosiasi-asosiasi textile dan garmen ASEAN juga telah melakukan inisiatif untuk membentuk apa yang diistilahkan sebagai ASEAN Out Sourching, mereka bersepakat melakukan kerjasama di bidang out sourching untuk garmen dan textile ini.  Jadi arahnya kesana.

Kerjasama lainnya yang dijalin di luar biaya masuk 0, tentunya adalah terkait isu-isu non-tarif, seperti standarisasi. Kalau berbicara mengenai daya saing Indonesia, maka ujung-ujungnya adalah infrastruktur, yaitu bagaimana kita bisa mengantarkan barang-barang atau produk kita secara cepat ke pasar, termasuk pasar dalam negeri. Itu merupakan tantangan bagi kita dan mungkin sebagai prioritas utama kita, oleh karena itu kita kemarin berkumpul di Bogor selama dua hari untuk membahas masalah infrastruktur ini.

Kita sudah sampai pada pembahasan infrastruktur apa yang diperlukan di suatu daerah, siapa yang akan melakukan investasi, berapa besar anggaran yang akan ditanggung oleh APBN, BUMN ataupun swasta. Seluruhnya sudah terpetakan dan menjadi program kita untuk jangka waktu 3, 5 dan 10 tahun kedepan, jadi yang penting sekarang adalah bagaimana implementasinya. hal ini bukan hanya menjadi tugas pemerintah, melainkan upaya kerja keras dan PR kita bersama.  Pemerintah bertugas menciptakan kerangka kebijakan yang kondusif untuk investasi swasta sehingga dapat berjalan dengan baik.

Hal lain yang juga ingin dicapai pada tahun ini adalah mengenai visa. Jika warga ASEAN menjadi satu komunitas maka tidak diperlukan lagi visa ke manapun kita pergi di dalam lingkungan ASEAN. Ini sedang diperjuangkan untuk bisa dirampungkan pada tahun ini.  Sebagaimana halnya di Uni Eropa, kalau kita pergi ke Eropa, misalnya ke Amsterdam, setelah itu kita dapat pergi ke manapun di Eropa. Ini juga sedang diusulkan oleh menteri-menteri ekonomi dan menteri pariwisata. Jadi kalau sudah satu komunitas, dan kalau orang non-ASEAN datang ke ASEAN, maka setelah itu dia bisa pergi ke negara-negara ASEAN lainnya tanpa perlu visa lagi. Ini juga merupakan salah satu wujud kongkrit dari movement of people, bisnis maupun wisatawan, dan itu sangat penting didalam menciptakan satu komunitas.

Untuk menyampaikan sejauh mana perkembangan ASEAN Community ini, kita sudah memiliki program antar instansi pemerintah maupun antara pemerintah dengan swasta untuk melakukan sosialisasi secara terus-menerus. Bahkan Bapak Presiden sendiri juga akan turut bersama-sama mengkampanyekan ASEAN kepada masyarakat. Akan ada serangkaian kegiatan yang tidak hanya berupa pertemuan para Kepala Negara atau Pejabat Negara, tetapi juga juga ada acara yang khusus untuk masyarakat, seperti misalnya ASEAN Fair yang akan diselenggarakan selama satu bulan penuh pada bulan November , yaitu berupa acara budaya dan industri kreatif. Acara ini digelar di penghujung  ASEAN Summit ke-dua dan menjelang pelaksanaan East Asia Summit pertama, agar masyarakat benar-benar  ikut serta dalam pesta merayakan ASEAN di tahun ini.

Itu adalah cara kita untuk membawa ASEAN ke level masyarakat, disamping itu para Kepala Negara juga bertemu dengan civil society, jadi mereka akan bertemu dengan perwakilan-perwakilan di masyarakat dalam sebuah acara khusus pada ASEAN summit bulan selama sekitar satu jam, agar aspirasi semua pihak dapat tersalurkan.  Kemudian juga ada pertemuan dengan ASEAN Business Council.

Ini tentunya merupakan keuntungan yang sangat jelas dan berada di depan mata kita, baik dari segi ekonomi maupun bagaimana kita mengikut sertakan masyarakat bisnis, maupun masyarakat secara lebih luas kedalam proses ASEAN dan para mitra dialognya. Untuk itu tentunya kita harus menyelesaikan PR di dalam negeri guna meningkatkan daya saing, menetapkan prioritas pembangunan infrastruktur, dan mengurangi kesenjangan antara negara ASEAN maupun untuk kita sendiri.

Dari kacamata Indonesia tentunya adalah mengurangi kesenjangan antar daerah, antara pengusaha besar dengan UKM dan sektor-sektor tertentu yang mungkin masih harus didorong untuk meningkatkan daya saing. Pemerintah harus melakukan ini bersama-sama dalam bentuk Indonesia incorporated, sehingga dengan demikian kita bisa lebih jeli dalam menangkap kesempatan yang ada. Tentunya dengan sebanyak mungkin mengikut-sertakan masyarakat dan UKM di Indonesia untuk dapat memanfaatkan keberadaan ASEAN dan juga Asia Timur yang lebih luas untuk kesejahteraan masyarakat Indonesia.[]

Last Updated on Monday, 16 May 2011 23:29