NEWS FLASH
Print E-mail
Edisi - November 2011
Monday, 21 November 2011 12:42

Lebanon: Kami Perlu Penjaga Perdamaian Seperti Indonesia

Sejumlah akademisi, pejabat militer dan sipil Lebanon ikut menjadi pembicara pada Dialog Interaktif yang diselenggarakan oleh KBRI Beirut dan Kontingen Garuda TNI pada misi perdamaian internasional – Lebanon / UNIFIL (Selasa, 18/10).

Dalam paparan dua orang narasumber asing, Timur Goksel -- yang merupakan mantan juru bicara UNIFIL dan Kolonel Fouad Naser, Komandan Sektor Litani-Angkatan Bersenjata Lebanon (LAF) -- mengemuka bahwa Indonesia mendapat apresiasi yang besar dan positif baik oleh PBB maupun masyarakat Lebanon.
“Pasukan penjaga perdamaian internasional dari negara lain di Lebanon sebaiknya mencontoh Indonesia dalam berinteraksi dengan masyarakat setempat. Hal ini karena keberadaan misi perdamaian Indonesia yang diterima baik dan sangat dekat dengan masyarakat,” ungkap Kolonel Fouad Naser.
Kolonel Naser bahkan menegaskan, “Lebanon perlu peacekeepers (penjaga perdamaian) yang berasal dari Indonesia lebih banyak lagi”.

Dialog Interaktif yang diselenggarakan di hotel Movenpick Beirut tersebut diikuti pula oleh sejumlah pembicara Indonesia yang membahas topik khusus ‘Peluang dan Tantangan Misi Perdamaian Indonesia (Kontingen Garuda) dalam Menjaga Perdamaian dan Keamanan Internasional’.

Dubes RI untuk Lebanon, Dimas Samodra Rum, dalam sambutan pembukaan menyampaikan bahwa kegiatan dialog tersebut merupakan sarana konsultasi bagi para pejabat dan pihak berkepentingan baik Indonesia maupun Lebanon.

“Kami mengharapkan Dialog Interaktif yang diikuti oleh peserta dan narasumber Indonesia dan Lebanon ini dapat mengidentifikasi berbagai peluang dan tantangan yang dihadapi misi perdamaian Indonesia di lapangan,” jelas Dubes RI seraya menegaskan bahwa hal ini perlu guna menjadi bahan masukan bagi perumusan kebijakan dan peningkatan partisipasi Indonesia di dunia internasional pada masa yang akan datang.

Pada kesempatan yang sama, beberapa narasumber Indonesia termasuk Kolonel Yulianta (Komandan Kontingen Garuda Indonesia di UNIFIL) dan Daniel Tumpal Simanjuntak (Direktorat Keamanan Internasional dan Perlucutan Senjata / KIPS – Kemlu RI) sepakat bahwa partisipasi misi perdamaian Indonesia dalam operasi perdamaian internasional perlu ditingkatkan.
 “Selain amanat UUD 1945, juga sebagai salah satu negara besar Indonesia memiliki tanggung jawab moral untuk lebih peduli dengan proses penciptaan perdamaian di dunia,” terang Daniel yang juga menekankan bahwa hal ini secara langsung mampu meningkatkan leverage bangsa di dunia internasional.
 Hal senada juga disampaikan oleh pembicara lainnya. Diana Emilia Sutikno (dari Perutusan Tetap RI New York) mengungkapkan bahwa secara nasional, partisipasi Kontingen Garuda pada berbagai misi perdamaian internasional akan membawa manfaat positif dalam peningkatan kualitas dan kapasitas personel dan organisasi di Indonesia melalui penambahan pengalaman dan pengetahuan serta wahana pengenalan alat-alat persenjataan yang diproduksi Indonesia kepada masyarakat internasional.

Dialog menggarisbawahi berbagai kendala dalam penyiapan dan pelaksanaan misi perdamaian Indonesia antara lain reaksi yang tidak cepat dalam memenuhi permintaan PBB untuk sewaktu-waktu terjun dalam misi perdamaian internasional.

Di akhir sesi, Dialog juga menyimpulkan beberapa solusi antara lain perlunya peningkatan sinergi dan sinkronisasi pihak-pihak terkait di Indonesia, mulai dari Kementerian Luar Negeri, Kementerian Pertahanan, Kantor Menkopolhukam, TNI, Polri dan Kementerian Keuangan sehingga penggelaran pasukan dapat secara cepat dan tepat dilakukan. Salah satu upaya tersebut adalah melalui finalisasi pembentukan satu koordinator nasional yang khusus menangani misi perdamaian Indonesia.

Menurut Daniel, upaya pembentukan tersebut tengah dalam proses dan masih perlu waktu serta kepedulian semua pihak terkait untuk mempercepat finalisasi pembentukan.

“Selain itu, yang tak kalah penting dalam upaya penggelaran pasukan perdamaian Indonesia adalah dukungan dan partisipasi para pemangku kepentingan lainnya termasuk legislatif (DPR), media massa, think-tank dan masyarakat luas,” tutup Daniel.

Rangkaian kegiatan dialog kemudian dilanjutkan dengan kunjungan ke markas Indonesian Battalion di UNIFIL pada hari berikutnya, Rabu (19/10). Kunjungan tersebut bertepatan dengan acara penyerahan medali penghargaan PBB kepada pasukan penjaga perdamaian Indonesia yang telah berjasa menunaikan tugasnya selama + 8 bulan. (Sumber: KBRI Beirut 2011)