|
Wahyuni Bahar SH, LLM. Anggota EPG Indonesia
Kerjasama ekonomi Indonesia-Malaysia termasuk pelaku-pelaku ekonomi swasta kedua negara sudah ada, jadi melalui EPG ini kita mengusahakan kerjasama tersebut untuk ditingkatkan. Kemudian kita juga berusaha bersama-sama belajar dan berdiskusi tentang bagaimana mengatasi masalah krisis ekonomi global saat ini dan menemukan opportunity-opportunity yang bisa dikerjakan oleh kedua negara, termasuk pelaku-pelaku swastanya. Dari pihak Malaysia, tentunya mereka ingin meningkatkan investasi yang telah mereka lakukan disini. Kita tahu mereka sudah melakukan investasi di beberapa bidang usaha di Indonesia seperti perbankan dan perkebunan, tentunya mereka akan terus meningkatkan investasi tersebut, karena bagi mereka Indonesia adalah salah satu negara prioritas untuk kerjasama ekonomi. Tetapi yang sangat penting bagi Indonesia dalam hal ini adalah, mereka membuka kesempatan pasar Malaysia bagi UKM-UKM dari Indonesia. Inilah salah satu peluang kerjasama ekonomi yang EPG melihat sangat bagus, karena kita tahu bahwa UKM di Indonesia adalah salah satu sendi perekonomian nasional.
Ini adalah juga merupakan masa depan bangsa kita, yaitu bagaimana kita bisa menumbuhkan kekuatan ekonomi nasional. Jadi kerjasama di bidang UKM ini adalah salah satu prioritas yang akan kita usulkan, dan mudah-mudahan pada waktu laporan akhir nanti, bentuk kerjasamanya sudah kongkrit. Gagasan mengenai World Halal Trade Center (WHTC), realisnya adalah kita melihat pasar domestik Indonesia itu sangat besar untuk produk halal. Jadi kerjasama dengan Malaysia ini tentunya akan membuat kita semakin kuat. Munculnya gagasan WHTC selama pembicaraan ini, dari awal EPG melihat bahwa sebetulnya ini adalah ide yang bagus.
Dari satu sisi kita bisa menarik manfaat dari produsen-produsen produk halal, yang sebagian besar tentunya adalah negara-negara maju yang bisa mendatangkan keuntungan bagi kita sebagai konsumen. Dan dilain pihak juga memberikan manfaat bagi kita semua, karena dengan demikian kita mempunyai suatu standarisasi perserikatan produk-produk halal. Satu hal yang penting juga adalah bahwa dari pertemuan-pertemuan EPG yang sudah dilakukan, kita tidak melihat adanya suatu usaha untuk mengontrol atau bahwa WHTC ini harus ada di Malaysia, karena sebetulnya konsepnya adalah global, dimana WHTC ini akan ada di setiap negara. Jadi ini harus kita lihat secara positif dari sisi ekonomi, kita semua sadar bahwa potensinya sangat besar.
Dan hingga saat ini, belum ada suatu organisasi internasional yang mempunyai otoritas tunggal untuk produk-produk halal, jadi ini memang satu hal yang akan terus kita bicarakan. Kalau memang ini nantinya disepakati untuk disampaikan pada laporan akhir, saya kira maksudnya tentu bukan untuk bersaing dengan Fillipina dan lainnya.Untuk masalah kerjasama ekonomi di perbatasan, sebenarnya ini juga sama dengan masalah WHTC, jadi detailnya memang masih perlu dibicarakan, dan ini memang suatu usulan yang membutuhkan pembicaraan lebih lanjut dan mendapatkan persetujuan dari kedua EPG.
Mengenai kerjasama ekonomi makro, saya kira itu melalui jalur kepala negara, Deplu dan Departemen-Departemen terkait, mereka sudah melakukan itu. Pada pertemuan-pertemuan EPG ini kita lebih banyak membahas sektor riel, UKM, dan kemudian juga bagaimana kita bisa membentuk semacam komite yang bisa membantu menengahi masalah-masalah yang berhubungan dengan investasi dan perdagangan antar kedua negara dan juga upaya mencari penyelesaiannya, apakah langsung atau melalui rekomendasi yang diberikan kepada pemerintah kedua negara.
Tentunya juga ada bidang-bidang lain yang sedang kita pelajari, dan mudah-mudahan dalam pertemuan-pertemuan selanjutnya kita bisa tingkatkan dengan usulan-usulan yang positif. Kita percaya bahwa ada banyak hal dalam kerjasama ekonomi yang terbuka luas untuk kedua negara dan para pelaku usaha dari kedua negara, jadi mudah-mudahan pada pertemuan selanjutnya di Kualalumpur, kita bisa mendapatkan hasil-hasil yang lebih kongkrit.[]
|