|
Dalam tujuh tahun kedepan negara-negara ASEAN akan memasuki era baru menyongsong ASEAN Community, karena Piagam ASEAN telah rampung diratifikasi oleh seluruh negara ASEAN. Hal ini menunjukkan seluruh anggota ASEAN sudah menerima konsep Piagam ASEAN, bahwa mereka akan demokratis, namun tentunya dengan cara penyampaiannya masing-masing.
Indonesia khususnya telah mendorong agar prinsip-prinsip demokrasi itu bisa diterima dan tertuang didalam Piagam ASEAN, demikian juga dengan pemajuan dan perlindungan HAM, serta good governance untuk menunjang tiga pilar ASEAN Community, yaitu ASEAN Economic Community, ASEAN politic and Security Community dan ASEAN Socio-Culture Community.
Untuk menunjang proses tersebut, Indonesia juga meluncurkan Bali Democracy Forum yang bertujuan agar demokrasi menjadi bagian dari pembicaraan di kawasan Asia, yang memang selama ini belum pernah ada. Sebuah momentum yang tepat, karena bersamaan dengan kemenangan Barack Obama, yang tidak hanya dirayakan di AS tapi juga di pelosok dunia sebagai perayaan dari kemenangan demokrasi.
Selama ini memang beberapa negara di Asia tidak memiliki akses terhadap informasi dan demokrasi yang berkembang dipelosok dunia, karenanya dibandingkan dengan kawasan lain, seperti Afrika atau Amerika Latin, Asia masih ketinggalan. Indonesia mengambil inisiatif, karena setelah 10 tahun reformasi, Indonesia dihargai atas kemajuan dalam mentransformasi diri dari negara otoriter menjadi negara demokratis. Banyak pihak menjuluki Indonesia sebagai negara demokrasi terbesar ketiga, dan karena itu kita perlu membuka diri bagi proses sharing of experience and best practice dalam pengembangan demokrasi.
Dalam membangun hubungan bilateral dengan Malaysia, Eminent Persons Group (EPG) Indonesia-Malaysia telah melaksanakan pertemuan ke-tiga di Jakarta (12-13/11/2008) dan memunculkan gagasan mengenai perlunya dialog tentang kesejarahan, workshop tentang warisan budaya, dan penyusunan buku tentang sejarah kebudayaan Indonesia-Malaysia. Untuk menunjang kegiatan-kegiatan tersebut juga disepakati pembentukan Pusat Penelitian Kebudayaan (Cultural Research Center). Sehubungan dengan pengembangan kebudayaan, Indonesia melalui Departemen Luar Negeri menyelenggarakan program Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia (BSBI) bagi para pelajar dan pemuda di Asia, Pasifik, Eropa, Afrika dan AS. BSBI adalah wahana soft diplomasi Indonesia, disamping juga untuk menggugah apresiasi generasi muda Indonesia, utamanya di kalangan mahasiswa, terhadap kekayaan dan keberagaman seni budaya Indonesia. Program tersebut ditutup dengan pagelaran seni budaya “INDONESIA CHANNEL 2008 ; Arts and Culture under the Sky di Taman Budaya, Yogyakarta dengan menampilkan 50 seniman muda dari 29 negara peserta program BSBI 2008.
Disamping itu sebagai upaya menciptakan dunia yang lebih aman dan damai, serta melindungi kelangsungan hidup umat manusia kedepan dari ancaman tragedi kemusnahan besar-besaran akibat nuklir, Indonesia telah menandatangani Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty (CTBT) pada 10/11/2008. CTBT ini penting karena merupakan instrumen non-proliferasi dan perlucutan senjata nuklir yang vital disamping juga sebagai norma universal yang melarang ujicoba nuklir. CTBT ini memberikan sinyal yang jelas dan kongkrit tentang keseriusan komitmen dari negara-negara nuklir untuk bergerak menuju perlucutan senjata nuklir.
Dengan demikian CTBT bisa mencegah munculnya negara nuklir baru tanpa melanggar norma-norma hukum, mencegah pengembangan dan pemajuan kualitatif jenis senjata nuklir baru (new type of nuclear weapons) dan berpotensi untuk mengurangi eskalasi ketegangan kawasan di dunia, disamping juga memberikan manfaat di bidang iptek dan teknik, termasuk deteksi dini terjadinya gempa bumi dan tsunami.
|