|
Tibor Toth Executive Secretary Preparatory Commision for the Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty Organization
Pada Maret 1963, presiden John F. Kennedy mengatakan: " Saya perkirakan bahwa pada tahun 1970, kalau kami berhasil, mungkin akan ada 10 kekuatan nuklir dari 4 yang ada sekarang, dan pada tahun 1975 akan bertambah menjadi 15 atau 20. " Prediksi Kennedy itu pada beberapa tahun belakangan ini ternyata terbukti, dan tampaknya akan terus berkembang hingga beberapa dasawarsa kedepan.
Karena itu, pembatasan uji coba nuklir menjadi sangat penting saat ini bagi dunia. Comprehensive Nuclear-Test-Ban Treaty (CTBT) berupaya mencegah menyebarnya senjata-senjata nuklir ke negara-negara nuklir baru, dan membatasi pengembangan tipe baru hulu ledak nuklir. Perjanjian ini adalah langkah maju didalam pelucutan senjata nuklir, dan membantu di dalam pengurangan senjata baik strategis maupun non-strategis.
Climate change dan krisis energy adalah dua hal yang menjadi prioritas utama dalam agenda dunia secara global saat ini. Hal ini berhubungan erat dengan kebangkitan energi nuklir, dimana di satu sisi adalah untuk memenuhi kebutuhan akan energi, sementara di sisi lain juga berupaya untuk memperkecil dampak terhadap lingkungan. Hal ini cenderung akan meningkatkan produksi material nuklir, dan dengan demikian juga akan meningkatkan kebutuhan akan fasilitas daur ulang atau pembuangan sampah nuklir.
Dengan kondisi dunia yang demikian, adalah penting bahwa garis antara aktifitas nuklir yang dilarang dan diizinkan harus digambarkan dengan jelas dan irrevocably. Dalam hal ini CTBT menyiapkan penghalang untuk menentang dan mencegah pengembangan persenjataan nuklir. Disamping itu CTBT juga akan memberikan insentive bagi penghentian produksi pembelahan material nuklir untuk keperluan persenjataan, sambil menunggu hasil negosiasi untuk memasukkan perjanjian Fissile Material Cut-Off Treaty, sebagaimana halnya pengurangan persediaan bahan baku nuklir.
Ketika Kennedy menyampaikan pernyataan di atas, kombinasi antara kepemimpinan yang kuat dengan inisiative pengawasan senjata secara multilateral, seperti Partial Test-Ban-Treaty pada tahun 1963 dan Non-Proliferation Treaty (NPT) pada tahun 1968, adalah faktor yang menyebabkan pembatasan penyebaran persenjataan nuklir berhasil dilakukan. Saat ini kami juga memerlukan kepemimpinan yang kuat, dengan U.S. sebagai negara terdepan didalam upaya international non-proliferation dan pelucutan senjata ini.
Adalah momentum politik bagi perjanjian ini untuk terus berkembang, karena Indonesia sebagai negara kunci sekarang ini telah menandatangani dan akan meratifikasi perjanjian ini. Dukungan kuat terhadap perjanjian ini juga telah diperoleh di tingkat politis tertinggi, seperti dari Presiden Perancis, Nicolas Sarkozy, Perdana Menteri UK, Gorgon Brown serta menteri luar negeri dari banyak negara. Mantan Kepala Kebijakan Pertahanan dan Urusan Luar Negeri US, George Shultz, William Perry, Henry Kissinger dan Sam Nunn, serta dukungan lebih dari 40 tokoh dunia lainnya - telah menyatakan akan memasukkan CTBT kedalam institusi militer melalui platform bipartisan. Bahkan Senator Barack Obama sebagai presiden baru terpilih US, juga telah mendukung untuk ratifikasi CTBT ini.
Sistem peringatan dini global CTBT juga terus berkembang secara bertahap. Sampai dengan saat ini, sebanyak 256 fasilitas monitoring telah terpasang di seluruh dunia. Seluruhnya mengirimkan data ke Vienna dari berbagai penjuru dunia dan telah meningkat tiga kali lipat sejak 2004, dan menjadikan data yang tersedia untuk dapat dipergunakan meningkat dua kali lipat. Lebih dari 100 negara dan 1000 pengguna individu sekarang ini yang mengakses berita resmi dan menganalisa berbagai produk. Pandangan baru infrastruktur komunikasi global telah diletakkan pada tempatnya, dan melengkapi sepuluh tahun program yang telah menelan biaya puluhan juta dolar. Pelatihan on-site Inspection Field Exercise(IFE08) yang pertama sedang diselenggarakan di tempat bekas percobaan nuklir di Semipaltinsk, Kazakhstan, yaitu pada skala yang belum pernah terjadi sebelumnya. Pelatihan ini meliputi lebih dari 200 peserta dan lebih dari 50 ton perlengkapan yang disebar di areal lapangan yang luasnya lebih dari 1000 kilometer persegi.
Melihat pengalaman yang terjadi 45 tahun yang lalu, negara-negara di dunia saat ini memerlukan gambaran yang lebih besar dan bertanya kepada diri sendiri, dunia seperti apakah yang mereka inginkan untuk anak-anak mereka tinggal. Apakah mereka ingin kembali ke” dunia yang bebas” dengan resiko persenjataan nuklir yang baru? atau mereka lebih suka melanjutkan membangun tatanan keamanan dengan perjanjian multilateral yang mengatur dengan cakupan yang luas, seperti CTBT, secara penuh? Saya sangat berharap mereka akan memilih yang terakhir.
|