|
Para diplomat dari Azerbaijan, Rusia, AS, Vietnam, India, Brunei Darussalam, dan beberapa negara lainnya pada tanggal 31 Oktober 2008 melakukan kunjungan ke dusun Kotesan, Yogyakarta. Kunjungan ini di fasilitasi oleh Direktorat Diplomasi Publik Departemen Luar Negeri yang di rangkum dalam program Diplomatic Tour. Dusun Kotesan adalah sebuah dusun yang unik, karena hampir seluruh agama yang ada di Indonesia, ada di dusun ini. Namun begitu penduduk Kotesan hidup dengan rukun dan damai tanpa konflik, karena saling menghormati antar sesama pemeluk agama yang ada. Ini merupakan berkah Tuhan yang memperkaya keragaman di Bumi Nusantara yang mayoritas penduduknya beragama Islam.
Toleransi kehidupan beragama di Kotesan telah berlangsung lama dan memiliki fondasi kultural yang sangat kuat, sehingga tidak mudah terkoyak. Sejauh ini kita tidak pernah mendengar ada masalah dalam hubungan antaragama di Dusun ini. Seluruh umat di Kotesan hidup berdampingan dengan damai, saling tolong, dan saling menghargai. Ungkapan ”di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung” telah menjadi falsafah hidup Masyarakat beragama di Kotesan. Mereka berbaur dalam budaya toleran dan saling menghormati.
Duta Besar Azerbaijan, Ibrahim A. Hajiyev sangat mengagumi pluralisme dan toleransi masyarakat Kotesan. “Banyak sesuatu yang dapat kita ambil dari Kotesan. Dusun Kotesan ini sebenarnya juga merupakan oase atau sumber air bagi toleransi dan kerukunan hidup beragama”, Demikian diungkapkan oleh Dubes Azerbaijan. Bapak Pujiono, penduduk asli desa Kotesan, menyambut baik kedatangan rombongan dubes untuk bersilaturahmi dan beranjangsana dengan penduduk desa Kotesan guna mempererat kerukunan antar umat beragama. Di desa Kotesan ini memang ada beberapa agama, dimana pemeluknya juga banyak dan beraneka ragam, ada yang beragama Islam, Kristen, Katolik, Hindu dan Budha, pendek kata dari segala aliran. Hal ini, menurut Pujiono, dikarenakan negara Indonesia adalah negara Pancasila yang menjamin semua warga negaranya untuk memeluk agama yang diyakininya.
Karena itu kehidupan di desa Kotesan ini sangat rukun walaupun penduduknya menganut agama yang beraneka macam. Di Kotesan ini tidak pernah ada pertengkaran dan perdebatan apapun tentang masalah keagamaan, bahkan tempat untuk beribadah antar umat, seperti masjid, gereja, vihara dan lain-lainnya letaknya juga berdekatan, kurang lebih hanya berjarak 100 meter. Hal ini menandakan, bahwa setiap waktu tempat ibadah itu digunakan untuk upacara keagamaan masing-masing, mereka juga tetap menghormati upacara keagamaan tersebut. Perlu juga diketahui bahwa pemeluk agama Islam di desa Kotesan ini memiliki faham yang berbeda-beda, ada NU, Muhammadiyah, LDII dan lain sebagainya. Namun meskipun berbeda-beda faham dan namanya, tetapi mereka memiliki satu keyakinan yaitu agama Islam.
Inilah keadaan di Indonesia, khususnya Kotesan yang hidup dalam suasana kerukunan antar umat beragama, bahkan di tingkat Kecamatan Prambanan juga dibentuk suatu tim kerukunan umat beragama yang sesuai dengan jumlah agama yang ada di kecamatan Prambanan ini. Kamariah H. Khan, seorang Diplomat Brunei Darussalam menyatakan sangat senang bisa berkunjung ke desa Kotesan dan beberapa tempat lainnya di Yogyakarta. Baginya ini merupakan suatu pengalaman yang sangat baik, karena biasanya hanya mengunjungi kawasan wisata, dan Malioboro. Menurutnya keberadaan NU dan Muhammadiyah di Kotesan ini patut ditiru, karena di beberapa daerah lain di Indonesia, terkadang terjadi gesekan, tetapi di Kotesan ini hal itu tidak terjadi, karena bagi warga Kotesan, Islam adalah Islam, sedangkan NU dan Muhammadiyah itu hanyalah organisasi dan penghayatan tradisinya, jadi tinggal kecocokan masing-masing.
Kerjasama dan pelaksanaan keyakinan masing-masing serta kerukunan warga Kotesan sebagai umat beragama ini sangat bagus, karena warga Kotesan berpegang teguh pada Pancasila dan prinsip Bhinneka Tunggal Ika, jadi walaupun hanya ada satu orang saja yang berbeda agamanya, itu tidak menjadi masalah bagi mereka. Sila pertama Pancasila adalah Ketuhanan Yang Maha Esa, jadi warga Kotesan bisa menerima agama apa saja yang masuk asalkan berasaskan kepada Ketuhanan Yang Maha Esa, itulah yang menjadi benteng bagi warga Kotesan untuk tetap bersatu dan bertoleransi kepada sesama pemeluk agama.
Hal lain yang cukup menarik di desa Kotesan adalah masalah perkawinan, jika ada warga yang anak-anaknya sudah cukup dewasa dan saling mencintai maka akan dinikahkan tanpa memandang agamanya apa. hal ini sudah terjadi sejak jaman dulu, dan hingga sekarang masih dilaksanakan oleh warga Kotesan ini. Perkawinan campuran berbeda agama, adalah hal yang biasa bagi warga Kotesan.
Apabila suatu pernikahan masih bisa dilakukan di Catatan Sipil, biasanya mereka tetap dengan agamanya masing-masing. Tapi kalau tidak bisa, maka salah satunya harus mengalah untuk mengikuti agama dari pasangannya. Bagi warga Kotesan yang terpenting dalam sebuah perkawinan itu adalah kerukunan dan kedamaian, jadi mereka tidak mempermasalahkan apa agamanya, dan bagaimana status sosialnya.
Dusun Kotesan terletak di sebelah timur kota Yogyakarta dengan jarak sekitar 17-20 Km dari pusat kota Yogyakarta. Jumlah penduduk desa Kotesan sekitar 3.000 jiwa, dengan mayoritas penduduknya beragama Islam. Desa Kotesan adalah miniatur dunia yang patut dijadikan contoh dalam bidang keagamaan, karena mereka bisa hidup berdampingan secara rukun dan damai walaupun memiliki agama dan keyakinan yang berbeda-beda. (KaEm)
|