|
Khariri Makmun Lembaga Bahtsul Masail NU (LBMNU)
Trend soft diplomasi telah mendominasi wajah diplomasi Indonesia baik pada level bilateral maupun multilateral. Salah satu diantara prakarsa Indonesia yang kini menjadi trend global adalah program Interfaith dialogue. Dialog Islam-kristen yang digelar di Vatikan 4-6 Nopember secara tidak langsung merupakan salah satu imbas dari prakarsa interfaith dialogue yang digagas oleh diplomasi Indonesia sejak sepuluh tahun terakhir ini.
Gagasan Interfaith dialogue ini merupakan insisiatif Deplu untuk menumbuhkan saling pemahaman dan pengertian diantara para pemimpin dan juga umat beragama yang pada gilirannya akan melahirkan perdamaian. Dialog antar agama dan budaya adalah penting dalam rangka memajukan toleransi, membuang kekerasan dan kekejaman serta meraih perdamaian dan keamanan bagi seluruh umat manusia. Melalui dialog, nilai-nilai perdamain, keadilan dan moral dapat dikembangkan.
Indonesia dan Kanada Untuk kesekian kalinya Indonesia mengadakan Interfaith dialogue dengan beberapa negara pada tingkat bilateral. Diantara program bilateral yang telah dilaksanakan dan akan terus dikembangkan adalah dengan Inggris, New Zealand, Lebanon dan Kanada. Program Bilateral Interfaith Dialogue Indonesia-Kanada dilaksanakan 6 November 2008 di Montreal, Kanada. Dialog ini terselenggara atas kerjasama KBRI Ottawa bekerjasama dengan McGill University, Montreal. Dialog ini merupakan dialog kedua.
Sejak 1970 Kanada semakin plural dan sekuler walaupun masih banyak terdapat gereja di dalamnya. Kanada tidak memisahkan antara gereja dan negara, tapi bukan berarti Kanada tidak mengakui perbedaan dengan agama lain. Keberadaan agama-agama lain semakin mendapat tempat di Kanada. Demikian juga halnya dengan keragaman di Kanada, yang menjadi bagian dari tanggungjawab Canadian Heritage, khususnya dalam hal multiculturalism.
Para pemimpin dan tokoh Kanada sebagaimana di sampaikan Prof, Christopher Manfredi, Dean of the Faculty of Arts and Profesor of politic Science menyambut baik kerjasama ini, mengingat topik interfaith dialogue adalah isu internasional yang Sangat penting dan McGill juga merupakan Universitas yang bersifat Internasional dimana lebih dari 20% mahasiswanya adalah mahasiswa internasional. Dialog untuk mencari titik temu merupakan sebuah keniscayaan untuk mewujudkan kehidupan yang toleran. Para tokoh agama dan tokoh politik mempunyai tanggungjawab yang sama untuk menginspirasi kepada pengikutnya perihal pentingnya toleransi untuk membangun sebuah masyarakat yang adil, maju dan beradab.
Prof. Phil Oxhorn dari CDAS yang turut dalam hadir dalam dialog ini menyampaikan bahwa study mengenai agama tidak terhindarkan di negara bekembang. Konteks politik nasional berhubungan dengan juga dengan masyarakat madani sendiri merupakan arena untuk orang mendapatkan persetujuan atau saling bertentangan. Dalam masyarakat madani meskipun terdapat berbagai kelompok yang berada dan tetap dapat mengekspresikan diri mereka sendiri dan menghargai orang lain untuk melakukan hal yang berbeda. Manusia memerlukan agama untuk berhadapan kenyataan dan agama merupakan hal yang fundamental dalam masyarakat. Masyarakat madani dan agama tidak bisa dipisahkan, namun masyarakat madani harus sekuler dalam arti melihat semua agama setara dan berdampingan sekaligus dengan pemeluk agama. Tujuan dari arena masyrakat madani sebagai interfaith dialogue adalah agar manusia bisa belajar dari dialog.
Instrumen lain yang tak kalah penting adalah Keselarasan beragama. Prof. Bakhtiar Effendi ketua Research on Islam dalam dialog ini menyampaikan mengenai keselarasan beragama yang telah menjadi pusat perhatian Indonesia, meskipun interaksi antara pemeluk agama tetap menimbulkan konflik. Sejak 1960, konflik ini dapat ditangguhkan namun kini mulai tampak kembali. Konflik ini kadang diperuncing oleh kepentingan politik tertentu. Deplu mulai ikut menangani masalah ini dengan mengadakan interfaith dialogue, demikian pula dengan LSM lainnya. Interfaith dialogue bertujuan untuk menemukan jalan keluar atas masalah-masalah yang berhubungan dengan konflik agama. Keberlangsungan interfaith dialogue penting untuk diwujudkan dalam bentuk kelompok kerja permanen baik secara lokal maupun internasional sehingga dapat menentukan agenda lebih lanjut.
Dalam konteks interfaith dialogue Indonesia-Kanada, Andri hadi, Dirjen Informasi dan Diplomasi Publik Deplu menyampaikan bahwa agama dan kebudayaan adalah komponen dari masyarakat internasional. Prasangka, kesalahpahaman adalah masalah-masalah yang dapat diselesaikan melalui dialogue. Indonesia sendiri sudah mengadakan berbagai kegiatan interfaith dialogue, baik pada tingkat lokal, nasional maupun internasional. Dengan adanya interfaith dialogue diharapkan masyarakat akan memperoleh pengertian yang lebih luas sehingga dapat menjadi sumber kekuatan masyarakat. Kerjasama dengan McGill dalam pandangan Dirjen IDP Deplu menunjukkan makin berkembangnya ketertarikan terhadap interfaith dialogue yang melibatkan juga kalangan akademisi.
Mengagumi pluralisme Indonesia Apresiasi dan kekaguman atas tradisi dialog di Indonesia juga disampaikan oleh Para pembicara dan responden asing yang hadir dalam interfaith dialogue yang berlangsung di Universitas McGill kali ini. Mereka mengakui Indonesia sebagai negara yang memiliki tradisi dan pluralisme yang hebat. Adalah tantangan bagi semua masyarakat untuk hidup secara lebih aman. Sementara itu, Indonesia sendiri menghadapi berbagai tantangan atas pluralisme, tapi keberlangsungan dialog sangat penting bagi masa depan umat manusia.
Pengalaman Indonesia dan Kanada dalam menciptakan kerukunan antar umat beragama ada kesamaan dan perbedaan. Dari sana kedua negara bisa belajar mengenai bagaimana membangun komunikasi antar tokoh agama dalam menciptakan peradamaian. Peran tokoh agama penting bagi terciptanya kerukunan diantara pemeluknya. Peran mereka juga penting dalam menciptakan kesadaran umat beragama mencintai bangsanya.[]
|