NEWS FLASH
Komoditi Ekspor Indonesia Dinilai Menarik di Pasar Swiss Print E-mail
Google bookmarkDel.icio.usTwitterFacebookDigg
Edisi - Agustus 2008
Saturday, 22 August 2009 16:05


Lucia H. Rustam
Duta Besar RI untuk Swiss

SWISS adalah sebuah negara netral yang terletak di center Eropa, dan baru bergabung menjadi anggota PBB tahun 2002. Meskipun secara geografis berada tepat di tengah-tengah benua Eropa, Swiss bukan negara anggota Uni Eropa dan dalam waktu dekat juga tidak berencana untuk menjadi anggota organisasi supranasional tersebut. Sebagai negara Konfederasi dengan sistem pemerintahan Federal, politik luar negeri Swiss memiliki lima pilar yaitu perdamaian dunia, HAM dan demokrasi, kepentingan ekonomi negara, pelestarian lingkungan, dan pengentasan kemiskinan. Hubungan Swiss dengan Indonesia yang telah terjalin sejak tahun 1952, juga dijalankan dan dijalin dengan berdasarkan pada kelima pilar dimaksud.

Dinamika hubungan bilateral RI-Swiss

Hubungan bilateral Indonesia-Swiss yang telah terjalin selama 56 tahun berlangsung harmonis, stabil dan hampir dapat dikatakan tanpa kendala yang berarti. Swiss tidak menggunakan isu HAM dan demokrasi sebagai kondisionalitas dalam melaksanakan hubungan luar negeri termasuk dalam hubungan bilateralnya dengan Indonesia. Kedua negara senantiasa menjunjung tinggi kerjasama yang saling menghormati dan saling menguntungkan. Banyak kepentingan Indonesia di organisasi dan forum internasional yang senantiasa didukung oleh Swiss dan demikian juga sebaliknya. Perhatian Swiss terhadap perkembangan dalam negeri Indonesia cukup besar dan positif, termasuk partisipasi Swiss sebagai pengamat Pilkada di Aceh dan upaya nasional pemberantasan korupsi serta upaya peningkatan kapasitas daya saing ekonomi nasional (competitiveness).

Kepala Perwakilan RI Bern, dalam melaksanakan tugasnya memiliki visi dan misi yang bertujuan untuk mencapai hubungan bilateral yang lebih efektif dan efisien. Upaya menuju arah tersebut dilaksanakan dengan pendekatan dan pengenalan yang lebih dalam terhadap Indonesia. Hasil dari upaya tersebut terwujud dan turut mewarnai dinamika hubungan bilateral Indonesia-Swiss dalam bentuk antara lain pertemuan antar pejabat tinggi kedua Negara baik di Indonesia maupun di Swiss.

Kunjungan dan pertemuan puncak kedua negara ditandai dengan kunjungan Presiden Swiss Micheline Calmy-Rey ke Indonesia bulan Februari tahun 2007 yang merupakan kunjungan pertama kali Presiden Swiss ke Indonesia sejak dibukanya hubungan diplomatik tahun 1952. Kunjungan yang diisi dengan serangkaian pertemuan dan kegiatan meliputi pertemuan dengan Presiden dan Wapres RI, peresmian proyek air bersih di Aceh dan bantuan kepada korban banjir di Jakarta, telah ditindak lanjuti dalam beberapa pertemuan pejabat tinggi kedua negara.

Pada awal tahun ini di Davos, kedua Menlu telah mengadakan pertemuan bilateral sebagai kelanjutan dari upaya kerjasama kedua negara dalam mempererat dan mendekatkan hubungan yang sudah terjalin selama ini. Hubungan dan kerjasama kedua negara menjadi lebih dinamis dan lengkap dengan adanya interaksi para pejabat legislatif dan judikatif masing-masing negara. Wakil Ketua MPR awal tahun 2007 telah mengadakan pertemuan dengan Presiden Parlemen Swiss di Bern. Sementara itu, Wakil Jaksa Agung juga telah bertemu counterpartnya akhir tahun lalu guna membicarakan kerjasama hukum kedua negara.

Perkembangan Ekonomi dan Perdagangan RI – Swiss:

Swiss yang tidak memiliki sumber daya alam kecuali air, sangat menggantungkan perekonomiannya pada perdagangan luar negeri. Untuk itu, salah satu pilar kebijakan politik luar negeri Swiss adalah untuk mendukung perekonomian negara, yang diwujudkan dalam bentuk peningkatan daya saing (competitiveness) melalui strategi access to market, domestic competition, dan promotion of developing countries.

Dengan letak geografisnya yang berada di tengah-tengah benua Eropa, UE merupakan mitra penting dan utama perekonomian Swiss dimana hampir 80% komoditi impor Swiss berasal dari UE, utamanya Jerman, Perancis, Italia, Belanda, Belgia, Austria, dan Spanyol, sedangkan ekspor Swiss ke pasaran UE mencapai hampir 67%. Disamping menjalin hubungan ekonomi dengan UE, Swiss juga mengembangkan kerjasama ekonominya dengan negara-negara lain, termasuk dengan negara-negara di kawasan Asia. Swiss memandang bahwa kawasan Asia merupakan kawasan dengan ekonomi yang dinamis dan memiliki pasar yang besar. Beberapa negara di Asia termasuk Indonesia akan berkembang menjadi pemain baru dengan kekuatan ekonomi yang besar.

Hubungan ekonomi dan perdagangan Indonesia-Swiss dari tahun ke tahun mengalami peningkatan, meskipun balance of trade masih defisit bagi Indonesia, namun ekspor Indonesia ke Swiss terus meningkat sejak tahun 2004. Untuk tahun 2007, ekspor Indonesia ke Swiss adalah sebesar ChF 170,4 juta sementara impor Indonesia dari Swiss adalah sebesar ChF 388,7 juta.

Sementara itu di bidang investasi, berdasarkan data dari BKPM, total realisasi penanaman modal Swiss di Indonesia untuk periode 1 Januari 1990 – 31 Desember 2007 adalah US$ 650 juta dengan jumlah proyek sebanyak 110 buah. Dengan nilai dan jumlah proyek tersebut, Swiss menduduki peringkat ke lima sebagai penanam modal asing di Indonesia, di antara negara-negara Eropa setelah Inggris, Belanda, Jerman dan Perancis.

Kunjungan Presiden Swiss Michelin Calmy Rey pada bulan Februari 2007 dan Wakil Menteri Ekonomi Swiss, J.D. Gerber pada bulan Juli 2008 ke Indonesia, menunjukkan arti pentingnya Indonesia bagi Swiss dan telah medorong penguatan kerjasama ekonomi dan pembangunan kedua negara, yang ditandai dengan disepakatinya beberapa proyek bantuan pembangunan Swiss, antara lain: proyek air bersih di Jakarta, bantuan keuangan untuk UKM, pengembangan Eco-Tourism di Flores Barat, pembangunan ekonomi lokal di Flores dan Alor, dan bantuan bagi UKM korban bencana banjir di Jakarta. Untuk tahun 2008 ini, Pemerintah Swiss telah memasukkan Indonesia dan enam negara berkembang lainnya sebagai target country dan akan mendapatkan bantuan dalam rangka pengembangan ekonomi dan perdagangan sampai dengan tahun 2012.

Disamping melalui jalur bilateral, strategi memperluas access to market, juga diupayakan oleh Pemerintah Swiss melalui European Free Trade Association-EFTA (Swiss, Liecthenstein, Norway, dan Iceland). Swiss telah menandatangani perjanjian kerjasama EFTA tersebut dengan beberapa negara, dan mengharapkan dapat segera menandatangani kesepakatan tersebut dengan Indonesia. Negosiasi mengarah pada dicapainya kesepakatan tersebut dengan Indonesia telah dimulai dan diharapkan dapat diselesaikan pada tahun ini atau tahun 2009.

Komoditi ekspor Indonesia ke Swiss:

Perbedaan jenis komoditi perdagangan antara Indonesia dan Swiss merupakan salah satu sebab defisit perdagangan kedua negara berada di pihak Indonesia. Ekspor Indonesia ke Swiss yang berjumlah 72 jenis komoditi terdiri dari antara lain alat-alat elektronik, alat perekam suara & gambar dan komponennya; minyak atsiri; pakaian dan aksesorinya; mebel, tempat tidur, lampu; sepatu dan komponennya; kopi, teh dan bumbu-bumbu; plastik dan produk olahannya; serta lonceng. Sementara itu, impor Indonesia terdiri dari mesin-mesin pabrik, produk-produk makanan dan obat-obatan, dan produk kimia, yang merupakan barang komoditi modal dengan harga tinggi.

Permintaan Komoditi terbaru:

Peluang peningkatan perdagangan kedua negara masih terbuka lebar, khususnya bagi ekspor Indonesia. Selain itu, besarnya perhatian Pemerintah Swiss pada isu pelestarian lingkungan dan upaya untuk memperoleh sumber energi alternatif yang ramah lingkungan, di antaranya biofuel, dapat dimanfaatkan untuk memasok komoditi bahan untuk biofuel seperti misalnya jarak dan kelapa sawit.

Peluang dan tantangan pasar Swiss:

Dengan kondisi sebagai negara yang sangat menggantungkan perekonomian dari perdagangan luar negeri, pasar Swiss sangat terbuka bagi komoditi-komoditi ekspor dari negara-negara lain, termasuk dari Indonesia. Meskipun menerapkan standar kualitas barang yang cukup tinggi dan sangat ketat di bidang kesehatan (sanitary), beberapa kebijakan perekonomian Swiss cukup menarik dan kondusif bagi kegiatan ekspor negara lain. Kebijakan tersebut meliputi penerapan pajak yang rendah untuk produk-produk industri; bantuan pengembangan industri jasa di bidang logistik dan jasa perbankan; dan di sektor pertanian, mengurangi hambatan tarif serta peningkatan access to market. Disamping itu, khusus untuk produk-produk industri dan pertanian, Swiss sampai saat ini juga masih memberikan fasilitas keringanan bea masuk termasuk bagi Indonesia melalui skema Generalized System of Preference (GSP).

Swiss dikenal dengan keunggulan daya saingnya/competitiveness (laporan WEF, Davos, tahun 2007 dan The World Competititveness Yearbook, IMD Business School Lausanne tahun 2008). Berkaitan dengan hal ini, Presiden RI dan Presiden Swiss dalam kesempatan kunjungannya ke Indonesia awal tahun 2007, telah sepakat untuk melakukan kerjasama kedua negara dalam upaya peningkatan competitiveness. Untuk ini, sebuah Tim dari Indonesia telah berkunjung ke Swiss pada bulan Januari 2008 yang kemudian ditindaklanjuti dengan kunjungan Wakil Menteri Ekonomi Swiss bulan Juli 2008 ke Jakarta guna membicarakan program-program yang dapat dilakukan dalam upaya peningkatan competitiveness tersebut.

Secara umum, komoditi ekspor Indonesia dinilai cukup menarik di pasaran Swiss, terutama minyak atsiri, mebel, pakaian, sepatu dan komponennya. Disamping itu, Swiss sebagai negara produsen dan eksportir coklat senantiasa memerlukan bahan produksi coklat. Untuk itu, peluang ekspor kakao ke Swiss masih cukup besar apabila standar yang meliputi proses pengolahan dan sanitasi yang ditetapkan oleh produsen Swiss dapat dipenuhi.[]