Meningkatkan Daya Saing Bangsa Print E-mail
Google bookmarkDel.icio.usTwitterFacebookDigg
Edisi - Juli 2008
Saturday, 22 August 2009 17:49


Prof. Dr. Zuhal, MSc.EE
Rektor Universitas Al-Azhar Indonesia


Saat ini dunia tengah memasuki era Knowledge Based Economy (KBE) dan menghadapi persaingan global yang kian ketat , untuk itu masyarakat kita khususnya generasi muda dituntut untuk terus mengembangkan kemampuan dalam menguasai ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sehingga memiliki daya saing yang tinggi di kancah dunia, melalui pendidikan, penelitian dan proses penumbuhan inovasi bangsa.

Tidak banyak orang di negeri ini yang tahu akan kecenderungan yang tengah berlangsung di dunia, hal itu disebabkan kurangnya sosialisasi dan publikasi tentang dinamika mancanegara, padahal ini penting untuk menggugah masyarakat mengembangkan dirinya dalam menghadapi persaingan. Dukungan iptek untuk memperkuat fondasi ekonomi terutama sector industri sebagai mesin penggerak kemajuan suatu Negara di zaman modern ini amatlah penting, dan itu sudah dibuktikan oleh banyak Negara, bahkan oleh Negara kecil seperti Singapore.

Pembangunan belum didukung potensi unggul

Sebagian besar pembangunan industri di Indonesia belum sepenuhnya didukung oleh potensi yang unggul termasuk sumber daya manusianya. Kita belum secara maksimal memanfaatkan iptek serta mengembangkan penelitian secara optimal. Kondisi ini ditunjukkan oleh Indeks Pencapain Teknologi dan Indeks Pembangunan Manusia yang dikeluarkan oleh UNDP (United Nations Development Programs) yang menempatkan Indonesia pada urutan ke 60 dari 72 negara dalam pencapaian teknologi. Dalam hal pembangunan manusia, Indonesia masih berada dibawah Filipina, Thailand, Malaysia, Brunei, dan Singapore. Dalam kategori dynamic adopter, Indonesia malah berada di urutan terbawah, satu tingkat di atas kelompok Negara-negara Afrika yang termarjinalkan dalam pencapaian teknologi.

Ekspor produksi industri manufaktur dari Indonesia masih didominasi atau sekitar 60 % nya adalah produk berteknologi rendah, sedangkan produk berteknologi tingginya hanya 21 %. Hal ini menunjukkan rendahya kontribusi dan penggunaan teknologi maju di industri domestic, dan dampaknya adalah rendahnya daya saing dan nilai tambah produk ekspor Indonesia.

KetidaKberdayaan kita bahkan sampai kepada penyediaan bahan pangan pokok, yang seharusnya dapat diproduksi dan dikembangkan sendiri di dalam negeri, karena bahan dasarnya begitu melimpah dan berpotensi untuk dikembangkan.Semua komponen yang di impor di negeri ini, ilmu dan teknologinya tidak pernah dikembang kan secara tuntas di Indonesia. Akibatnya ketika impor mengalami kesulitan, industri dalam negeri menjadi terpuruk dan sebagian besar terpaksa harus gulung tikar dan tatanan ekonomi Negara juga terguncang.

Rendahnya pendapatan dan daya saing industri nasional kita disebabkan akarena keengganan untuk mengembngkan ilmu dan teknologi produksi untuk mengolah bahan mentah hasil alam dalam negeri sendiri. Juga ketidakpercayaan terhadap kemampuan para pakar dalam negri membuat kita juga bergantung pada pihak asing yang dikontrak dengan bayaran mahal.

Ketergatungan kepada luar negri dan bukan kepada keunggulan dan kemandirian, telah menyeret kita pada ketidakberdayaan dalam memenuhi kebutuhan sendiri apalagi dalam menghadapi persainan bebas dipasar global. Pengalaman yang harus dibayar mahal ini, hendaknya dapat dijadikan guru yang arif dalam meniti langkah di masa mendatang.

Tantangan Pembangunan millenium ketiga

Memasuki millennium ketiga, semua bangsa maju di dunia sepakat bahwa penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi merupakan prasyarat untuk meraih kemakmuran (prosperity) dalam kancah pergaulan internasional. Karena itu fokus pembangunan yang kini dianut oleh banyak Negara di dunia adalah usaha menempatkan kegiatan penelitian, pengembangan dan rekayasa sebagai bagian integral dari pembangunan ekonomi dengan menitik beratkan pada tersedianya dan terserapnya inovasi yang secara nyata akan menunjang peningkatan produksi nasional.

Pembangunan ekonomi Indonesia menghadapi dua tantangan utama yang harus diselesaikan secara serentak dan seimbang, yaitu tantangan globalisasi dan pemerataan. Tantangan globalisasi menghendaki kekuatan daya saing baik dari negara, perusahaan-perusahaan maupun individu-individu, sedangkan pemerataan dilaksanakan seiring dengan proses desentralisasi .

Di Jepang perekonomian rakyat berkembang dengan sehat, hal itu terkait erat dengan sistem perekonomian secara nasional. Secara kelembagaan, perekonomian rakyat yang diwakili oleh usaha-usaha kecil ditumbuhkan dengan kekuatan ekonomi yang berbasis pengetahuan dan teknologi (Technology and Knowledge Based Economy, TKBE), sehingga memiliki daya saing yang kokoh.

Kecenderungan industri untuk menyandarkan diri pada perolehan lisensi impor telah menyebabkan tidak berkembangnya divisi penelitian, pengembangan dan rekayasa (Research, Development & Engineering, RD&E) oleh indutri.Akibatnya pemerintah menanggung porsi pembiayaan yang besar untuk mendukung terlaksananya alih teknologi, adaptasi, intergrasi, inovsi, perekaan(invention) dan penemuan (discovery) teknologi.

Oleh karena itu dalam rangka mempersiapkan industri baru berbasis pengetahuan, sebagian perguruan tinggi kita perlu dipacu untuk menjadi perguruan tinggi riset (research university) guna melakukan eksplorasi bidang iptek yang relevan dengan kebutuhan bangsa, mampu memilih jenis riset aplikatif yang diperlukan oleh industri, mengembangkan iptek yang memiliki comparative advantage dan melakukan strategi copying to catch up karena terbatasnya sumber daya manusia, capital dan prasarana.

Oleh karena itu hubungan kemitraan antara industri, perguruan tinggi, lembaga penelitian, lembaga pengembangan dan rekayasa serta lembaga keuangan atau pranata pendukung yang belum mapan sekarang ini harus diwujudkan. Meskipun universitas dan institusi riset merupakan pemain utama dalam perencanaan dan pengembangan teknologi, namun peran industri, pemerintah dan investor juga sangat menentukan.

Politik Teknologi

Politik teknologi akan berdampak positif bagi perekonomian suatu bangsa manakala unsur-unsurnya saling menunjang satu sama lain(compatible), dan didukung dengan pelaksanaan secara substansial, bukan hanya secara legal, oleh political power serta konsisten dari satu periode pemerintahan ke pemerintahan berikutnya.
Politik teknologi sebenarnya sudah dimulai oleh Indonesia ketika presiden Soekarno mencanangkan pengiriman para pemuda untuk belajar ke perguruan-perguruan tingi di luar negeri, khususnya ke Jerman, Ceko, AS dan Jepang. Menyadari bahwa Indonesia adalah Negara kepulauan (maritime continent),

Rendahnya pendapatan dan daya saing industri nasional kita disebabkan akarena keengganan untuk mengembngkan ilmu dan teknologi produksi untuk mengolah bahan mentah hasil alam dalam negeri sendiri.

Bung Karno memberikan perhatian khusus pada penguasaan teknologi perkapalan dan pesawat udara, karena itu beliau mendorong lahirnya PT PAL dan Nurtanio.
Jepang yang hancur karena PD II mampu bangkit dan mengukuhkan dirinya sebagai super power ekonomi, bahkan 40 tahun kemudian muncul sebagai penantang utama Negara-negara Barat termasuk AS di bidang ekonomi dan teknologi. Banyak yang menyebut bahwa keberhasilan Jepang karena faktor keuletan, etos kerja, sikap disiplin dan kemampuannya menangkap tanda-tanda zaman.

Namun yang perlu dikupas adalah faktor-faktor yang menjadi pendorong berhasilnya Jepang, yaitu pendidikan dan scientific spirit yang menyeluruh dalam kehidupan masyarakat Jepang. Kebangkitan Jepang berakar pada Reformasi Meiji lebih dari seabad yang lalu, yang memberikan perhatian khusus pada dunia pendidikan. Bahkan pada masa pra-Meiji, Jepang sudah memiliki sekitar 50.000 terakoya (semacam pondok pesantren) khusus untuk rakyat biasa, sedangkan untuk kalangan samurai ada sekitar 300 sekolah dan tidak kurang dari 1.000 sekolah berbagai jenis lainnya yang bisa dimasuki baik oleh kalangan samurai ataupun rakyat biasa.

Keberhasilan Jepang didorong oleh terwujudnya pendidikan berkualitas berbarengan dengan upaya menumbuhkan scientific spirit di kalangan masyarakat luas, yang dilakukan dengan konsekuen dan konsisten serta didukung penuh oleh sistim poLitik, ekonomi dan budaya. Kunci kemajuan suatu bangsa adalah karena adanya persaingan yang memicu terciptanya sesuatu hal yang lebih baik dari waktu ke waktu. Daya saing Indonesia sejak tahun 2002 terus mengalami penurunan, sehingga pada 2007 Indonesia hanya menempati posisi 54 dari 55 negara Asia dan menempati posisi paling rendah di kawasan ASEAN. Bandingkan dengan Singapura yang menempati peringkat 2, Malaysia peringkat 23, Thailand peringktat 33 dan Filipina di peringkat 45.

Pada pertengahan tahun 1970, Malaysia belajar dan mengambil model pengembangan yang dilakukan oleh Indonesia untuk mengembangkan human capitalnya, tetapi sekarang ini posisi Malaysia justru jauh diatas Indonesia. Kondisi ini sangat memprihatinkan, apalagi Indonesia memiliki ilmuwan dan ininyur yang lebih banyak dan lebih bermutu, yaitu 181 per sejuta penduduk dibanding Malaysia yang hanya berjumlah 87 per sejuta penduduk. Hal ini karena potensi yang besar itu tidak ditopang dengan sungguh-sungguh dan konsisten membangun pusat-pusat keunggulan yang berbasis teknologi.

Last Updated on Saturday, 22 August 2009 17:52