|
Konferensi Tingkat Tinggi para pemimpin negara-negara maju, KTT G-8 (Amerika Serikat, Jepang, Inggris, Jerman, Perancis, Italia, Rusia dan Kanada), telah dilangsungkan di Toyako, Jepang pada tanggal 7-9 Juli 2008. Selain dari delapan negara tersebut, konferensi juga dihadiri oleh wakil dari negara-negara Afrika dan wakil dari negara-negara D-8, termasuk Indonesia. Sebagai negara kaya yang menguasai teknologi, G-8 memiliki peran yang dominan didalam menentukan arah perkembangan dunia secara global. Kebijakan G-8 di satu sisi meningkatkan kesejahteraan berbagai kelompok masyarakat di berbagai belahan dunia, tetapi disisi lain juga merugikan masyarakat berbagai negara di belahan dunia lainnya.
Karena itu G-8 dituntut untuk tidak mendahulukan kepentingan mereka sendiri, melainkan lebih kepada kepentingan dunia secara global, terutama masyarakat miskin dunia yang membutuhkan perhatian lebih serius, disamping juga permasalahan global lainnya, seperti harga minyak yang melonjak, dan krisis pangan. Konferensi G-8 kali ini difokuskan pada pembangunan di Afrika, dimana G-8 berupaya membantu tercapainya target Millenium Development Goals (MDGs) secara lebih cepat, khusunya terkait masalah kesehatan, fasilitas air bersih dan pendidikan.
Negara-negara G-8 mendapat tekanan untuk memenuhi janji bantuan bagi Afrika yang dibuat pada tahun 2005 sebesar 25 miliar US dolar hingga tahun 2010. Masalah bantuan untuk Afrika ini menjadi sorotan utama konferensi G-8 tahun ini. Secara kolektif G-8 baru mengucurkan dana sebesar 3 miliar US dolar dari total bantuan sebesar 25 miliar US dolar yang dijanjikan itu.
Karena tekanan yang cukup kuat agar G-8 tidak mengingkari janji-janji yang mereka buat, pada akhirnya G-8 melipat gandakan jumlah bantuan untuk Afrika, disamping juga menghapuskan hutang negara-negara termiskin di Afrika. Sementara itu Uni Eropa menawarkan dana sebesar 1,57 miliar US dolar untuk memerangi kelaparan dan membantu para petani di negara-negara miskin. Dana tersebut dialokasikan untuk meningkatkan produksi pertanian melalui penyediaan benih dan pupuk bagi petani.
Konferensi juga membahas masalah perubahan iklim dengan negara-negara D-8 (Indonesia, India, Cina, Afrika Selatan, Meksiko, Brazil, Korea Selatan dan Australia. Selain negara-negara D-8, sebetulnya banyak pihak mengharapkan G-8 melakukan penetapan target jangka menengah, yaitu pengurangan emisi gas pada tahun 2025. Negara-negara D-8 yang dimotori oleh Afrika Selatan, China, Brazil, India dan Indonesia, berusaha keras mendorong negara-negara G-8 agar menunjukkan komitmennya dalam upaya realisasi target reduksi emisi karbon, tapi sayangnya G-8 masih berpedoman pada target jangka panjang, yaitu baru memulai pengurangan emisi karbon pada tahun 2050.
|